SEMARANG — Perayaan tahunan Gebyuran Bustaman kembali digelar pada 15 Februari 2026 dengan satu kata kunci utama: kolaborasi. Di Kampung Bustaman, tradisi perang air itu tidak sekadar dirayakan, melainkan dirancang melalui kerja kolektif antara warga, Kolektif Hysteria, dan Pemerintah Kota Semarang.
Pasca-koordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, persiapan Gebyuran tahun ini dinilai semakin matang. Pembagian peran antar pihak ditegaskan sejak awal: warga sebagai inisiator, komunitas sebagai penguat konsep, dan pemerintah sebagai fasilitator.
Koordinator Gebyuran Bustaman dari Kolektif Hysteria, Junjung Wiratama, menegaskan bahwa warga menjadi penggerak utama. “Warga menjadi inisiator sekaligus pelaksana utama. Mereka terlibat dalam pengambilan keputusan, penyusunan konsep, logistik, konsumsi, hingga teknis lapangan,” ujarnya.
Sejak tahap perencanaan, konsep dasar Gebyuran lahir dari musyawarah warga. Model kerja gotong royong pun dijalankan secara nyata—ada yang merumuskan acara, mengatur perlengkapan, menyiapkan konsumsi, hingga memastikan teknis di lapangan berjalan tertib. Partisipasi ini bukan simbolis, melainkan substantif.
Di tengah inisiatif warga, Kolektif Hysteria berperan memperkuat gagasan serta menjembatani komunikasi lintas pihak. Selain membantu pengembangan konsep, komunitas ini juga menangani dokumentasi dan publikasi agar setiap proses terekam sebagai arsip budaya kampung.
Asisten Koordinator, Bunga Syalum, menyebut komunikasi menjadi kunci utama. Ia memastikan koordinasi rutin antara komunitas, pemerintah, dan para seniman berjalan lancar. “Konfirmasi berkala penting agar tidak ada informasi yang terlewat atau menimbulkan kesalahpahaman,” katanya.
Dukungan pemerintah dinilai krusial, terutama dalam aspek perizinan, koordinasi antar dinas, bantuan pendanaan, dan promosi. Meski terdapat beberapa penyesuaian teknis dalam rapat bersama Disbudpar, konsep utama tetap berada di tangan warga. Pemerintah hadir sebagai pendukung dan fasilitator.
Di balik kemeriahan perang air yang menjadi ikon Gebyuran, terdapat tantangan menyatukan beragam perspektif. Perbedaan latar belakang warga, komunitas seni, dan pemerintah kerap memunculkan pandangan berbeda. Namun melalui forum koordinasi rutin, perbedaan tersebut justru menjadi ruang dialog yang memperkaya perayaan.
Gebyuran Bustaman bukan sekadar festival air di lorong kampung. Ia adalah cermin kerja bersama—lahir dari warga, diperkuat komunitas, dan difasilitasi pemerintah. Ketika air kembali berhamburan dan tawa memenuhi kampung pada puncak perayaan nanti, publik mungkin hanya melihat kegembiraan di permukaan.
Namun di baliknya, ada fondasi kolaborasi yang menjadikan Gebyuran Bustaman sebagai wujud nyata gotong royong budaya di tengah Kota Semarang.(Christian Saputro)




