Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis
Di dalam ruang utama Boen Hian Tong, altar berdiri tegak dengan cahaya lilin yang tenang. Asap hio melingkar pelan, seperti waktu yang enggan bergegas. Di sana, bersanding dalam keheningan yang sarat makna, terpajang sinci bertuliskan nama Abdurrahman Wahid—Gus Dur—sosok yang semasa hidupnya menjembatani banyak jurang prasangka.
Di atas meja di depannya, tersusun ubo rampe—aneka sajian makanan sederhana yang dahulu dikenal sebagai kesukaan Gus Dur. Bukan sekadar pelengkap, melainkan rangkuman rasa: sambal goreng yang hangat oleh rempah, telur pindang yang pekat warna dan makna, sayur lodeh yang merangkul santan dan sayuran, serundeng yang gurih, serta irisan ayam yang dimasak dengan kesabaran. Ubo rampe itu seperti Indonesia dalam satu tampah—beragam, namun saling menguatkan.
Hari itu, Cap Go Meh dirayakan. Hari itu pula haul Gus Dur diperingati. Dan senja menunggu azan magrib untuk membuka puasa bersama.
Tak banyak ruang di negeri ini yang sanggup memadukan tiga momentum sekaligus—tradisi Tionghoa, doa haul seorang kiai, dan ibadah Ramadan—dalam satu tarikan napas yang utuh. Namun sore itu, di ruangan yang dipenuhi aroma hio dan santan dari dapur, semuanya terasa wajar. Tidak dipaksakan. Tidak dirancang untuk sekadar simbolik. Ia mengalir seperti air yang tahu ke mana harus pulang.
Ketika Ustadz Agus dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DPD Kota Semarang berdiri menyampaikan tausiyah, suara percakapan mengecil dengan sendirinya. Ia memulai dengan syukur—syukur atas pertemuan yang, di banyak tempat lain, mungkin terasa mustahil.
“Allah menciptakan kita berbeda-beda, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, bukan untuk saling menjauh, tetapi untuk saling mengenal,” ucapnya, mengutip Surah Al-Hujurat ayat 13.
Kalimat itu melayang pelan di udara, menemukan tempatnya di antara altar, sinci, dan sajian ubo rampe. Perbedaan, kata Agus, bukan ancaman. Ia adalah sunatullah—ketetapan Tuhan. Seperti warna-warni lampion di Cap Go Meh, seperti ragam lauk di meja buka puasa, seperti doa-doa yang diucapkan dalam bahasa berbeda namun menuju langit yang sama.
Ia mengingatkan bahwa ukhuwah dalam Islam tidak berhenti pada sesama Muslim. Ada ukhuwah insaniyah—persaudaraan kemanusiaan. Sebuah kesadaran yang sederhana namun sering terlupakan: sebelum menjadi apa pun—Tionghoa, Jawa, Muslim, Kristen, Konghucu—kita terlebih dahulu adalah manusia.
Di Madinah, lanjutnya, Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat majemuk melalui Piagam Madinah. Kaum Muslim, Yahudi, dan kelompok lain hidup dalam satu kesepakatan bersama. Bukan karena mereka seragam, melainkan karena mereka sepakat untuk adil.
Sore itu, pesan itu menjelma nyata. Di satu sudut ruangan, seorang lelaki bersongkok duduk bersisian dengan pria berkaus merah bercorak naga. Di depan mereka, Lontong Cap Go Meh tersaji lengkap: kuah opor yang hangat mengepul, sambal goreng yang pedas-manis, acar yang segar, dan taburan bawang goreng yang harum. Di kejauhan, azan mulai terdengar, menyusup lembut di antara bunyi kursi digeser dan bisik percakapan.
Agus mengajak umat Islam yang berpuasa untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan prasangka. Puasa, katanya, adalah latihan batin: menundukkan ego, meredam amarah, mengikis kebencian.
Ia lalu menoleh ke arah sinci Gus Dur.
“Kita belajar dari Gus Dur,” ujarnya pelan, “bahwa iman tidak membuat kita sempit. Justru iman yang matang membuat kita lapang—membuka ruang dialog dan kasih sayang.”
Nama Gus Dur sore itu tidak sekadar disebut sebagai tokoh politik atau mantan presiden. Ia hadir sebagai ingatan moral—keberanian untuk berdiri di tengah, untuk membela yang lemah, untuk mengatakan bahwa Indonesia terlalu luas untuk dipersempit oleh kebencian.
Cap Go Meh hari itu bukan hanya perayaan lampion dan temu keluarga. Ia menjadi perayaan atas kemungkinan. Kemungkinan bahwa altar dan sajadah dapat berada dalam satu ruang tanpa saling meniadakan. Bahwa ubo rampe di meja sesaji tidak menghalangi tangan-tangan Muslim menengadah berdoa. Bahwa sejarah panjang perbedaan dapat dipeluk tanpa curiga.
Menjelang akhir tausiyah, Agus mengajak hadirin menjaga persatuan.
“Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan perpecahan. Jadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun bangsa,” tuturnya.
Tepuk tangan tidak meledak-ledak. Ia hadir pelan—seperti anggukan setuju yang lahir dari kesadaran, bukan euforia.
Di luar, malam turun perlahan. Lampion menyala lebih terang, seolah menolak gelap dengan cara yang lembut. Anak-anak berlarian kecil, tertawa tanpa beban sejarah. Di dalam, piring-piring mulai terisi. Doa-doa dilafalkan. Puasa dibuka dengan air dan kurma, lalu disusul sendok yang menyentuh lontong, opor, dan sambal goreng.
Di bawah altar, di antara doa dan ubo rampe, orang-orang duduk bersama.
Dan mungkin, di situlah Indonesia menemukan dirinya kembali—bukan di podium, bukan di ruang debat, melainkan di ruang sederhana tempat perbedaan tidak disangkal, tetapi dirawat. (*)




