KARAWACI, TANGERANG – Bhikkhu terkemuka asal Australia, Ajahn Brahm, kembali menyapa umat Buddha di Indonesia dalam kunjungan keenamnya sejak 2008. Dalam rangkaian ceramah, talk show, dan retreat yang digelar di lima kota—Denpasar, Semarang, Bandung, Karawaci, dan Jakarta—sang guru spiritual ini tidak hanya membawa pesan kedamaian melalui meditasi, tetapi juga menyoroti keunikan karakter masyarakat Indonesia yang ia kaitkan secara mendalam dengan nilai-nilai Pancasila serta filosofi simbolis “lima jari manusia”.
Di tengah gelak tawa ratusan peserta retreat di Yasmin Hotel, Karawaci, Tangerang, Sabtu (19/4/2026), Ajahn Brahm membuka sambutannya dengan canda khasnya:
“Kalau perut saya semakin gendut, itu karena kebaikan kalian! Lihat saja pagi ini—ada es krim, biskuit, bahkan makanan lezat lainnya. Saya datang untuk memberi Dhamma, malah diberi ‘Dhamma plus dessert’!”
Umat pun tertawa lepas. Namun di balik humor tersebut, terselip apresiasi mendalam terhadap keramahan, ketulusan, dan kepedulian masyarakat Indonesia—sifat-sifat yang menurut Ajahn Brahm merupakan manifestasi nyata dari Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman moral sehari-hari.
Pancasila Hidup dalam Keseharian
“Setiap kali saya berkunjung ke Indonesia, saya melihat Pancasila bukan sekadar teks konstitusi, tapi hidup dalam tindakan,” ujar Ajahn Brahm, Kepala Biara Bodhinyana di Serpentine, Australia Barat, sekaligus Penasihat Spiritual bagi berbagai komunitas Buddhis di Victoria, Australia Selatan, dan Singapura.
Ia menceritakan pengalamannya mengunjungi sebuah sekolah di mana sekitar seribu orang berkumpul. Orang tua murid dengan sukarela memberikan makanan, minuman, dan hadiah kecil kepadanya. Di saat yang sama, Ajahn Brahm membagikan bukunya tentang meditasi—sebuah bentuk pertukaran kebajikan yang saling menguatkan.
“Ini adalah wujud Sila (moralitas) dan Dana (kebaikan hati) yang diajarkan Buddha, namun juga sangat selaras dengan Sila Pertama dan Kedua Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” jelasnya.
Filosofi Lima Jari: Dari Kekuatan Hingga Kedekatan dengan Tuhan
Dalam bukunya yang dibagikan selama acara, Ajahn Brahm mengungkap analogi unik: filosofi lima jari manusia sebagai metafora kehidupan spiritual dan sosial. Ia menjelaskan bahwa setiap jari memiliki klaim atas pentingnya masing-masing, namun semuanya diperlukan untuk membentuk tangan yang utuh—sama seperti masyarakat majemuk Indonesia.
– Jempol (Ibu Jari): Melambangkan kekuatan dan kokoh. Tanpa jempol, tangan sulit menggenggam erat—simbol fondasi yang kuat dalam kehidupan berbangsa.
– Telunjuk: Sering digunakan untuk menunjuk, bahkan menyalahkan. Tapi juga bisa menunjukkan jalan kebenaran. Simbol tanggung jawab dan arah.
– Jari Tengah: Paling tinggi, sering dianggap paling berkuasa. Namun, jika berdiri sendiri, ia justru terlihat angkuh. Simbol ego yang perlu dikendalikan.
– Jari Manis: Tempat cincin tunangan, melambangkan cinta, komitmen, dan hubungan harmonis—refleksi dari sila Persatuan Indonesia.
– Kelingking: Sering diremehkan, bahkan dipakai untuk membersihkan telinga. Tapi, kata Ajahn Brahm dengan senyum, “Kelingking adalah jari yang paling dekat dengan Tuhan.”
“Saat kita melakukan Anjali—sikap penghormatan dalam Buddha dengan merapatkan telapak tangan di depan dada—ujung kelingkinglah yang paling dekat dengan altar atau Rupang Buddha. Begitu pula saat umat Islam sholat, Kristen berdoa, atau Hindu sembahyang—ujung kelingking selalu paling dekat dengan Sang Pencipta. Ini mengajarkan kerendahan hati: yang paling kecil, justru paling dekat dengan Ilahi.”
Analogi ini disambut tepuk tangan meriah. Bagi banyak peserta, penjelasan sederhana ini menjadi refleksi mendalam tentang makna kesetaraan, kerendahan hati, dan pentingnya setiap individu dalam struktur masyarakat—sesuai semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Retreat Enam Kota, Pesan Damai untuk Nusantara
Kunjungan Ajahn Brahm kali ini mencakup lima kota besar, dengan fokus pada praktik meditasi mindfulness, diskusi filosofis, dan pembinaan mental bagi generasi muda. Ia menekankan bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari luar, melainkan dari kemampuan mengelola pikiran dan hati—keterampilan yang sangat dibutuhkan di era digital yang penuh distraksi.
“Indonesia punya potensi besar menjadi pusat kebijaksanaan global,” katanya. “Karena di sini, agama, budaya, dan nilai-nilai luhur masih dihormati. Pancasila bukan hanya ideologi politik—ia adalah panduan hidup yang bisa menginspirasi dunia.”
Warisan Spiritual yang Terus Berkembang
Sejak kunjungan pertamanya pada 2008, Ajahn Brahm telah menjadi sosok yang dicintai oleh umat Buddha di Indonesia. Gaya bicaranya yang ringan, penuh humor, namun sarat makna, membuat ajaran Buddha mudah diakses oleh semua kalangan—dari anak muda hingga lansia.
Dengan posisinya sebagai pemimpin spiritual internasional, kehadirannya di Indonesia bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan jembatan antara tradisi Theravāda dan nilai-nilai lokal yang universal. Dan melalui analogi lima jari serta pujian terhadap Pancasila, ia mengingatkan kita: bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan; bahwa kerendahan hati adalah kunci kedekatan dengan Tuhan; dan bahwa kebaikan kecil sehari-hari—seperti memberi es krim kepada bhikkhu—bisa menjadi awal dari transformasi besar.
Di akhir sesi, seorang peserta bertanya, “Bagaimana cara kami menjaga nilai-nilai ini di tengah perubahan zaman?”
Ajahn Brahm tersenyum, lalu menjawab pelan:
“Mulailah dari jari kelingkingmu. Jadilah yang paling rendah hati, paling dekat dengan Tuhan, dan paling siap melayani. Karena dari sanalah, seluruh tangan—dan seluruh bangsa—akan bergerak bersama.”
Profil Singkat Ajahn Brahm:
– Nama asli: Peter Betts
– Lahir: London, Inggris, 1951
– Ordinasikan sebagai bhikkhu di Thailand, 1979
– Kepala Biara Bodhinyana, Perth, Australia
– Penulis bestseller internasional: Who Ordered This Truckload of Dung?, The Joy of Living and Dying in Peace
– Dikenal karena gaya mengajar yang humoris, praktis, dan relevan dengan kehidupan modern
Jadwal Kunjungan Berikutnya:
Ajahn Brahm dijadwalkan kembali ke Indonesia pada akhir 2026 untuk program retreat intensif di Bali dan Yogyakarta, dengan tema khusus: “Mindfulness for the Next Generation”. (Christian Saputro/SL)




