Oleh Christian Heru Cahyo Saputro Base on reporting Githunkswara
Di sebuah senja yang turun perlahan di tepian kanal Amsterdam, suara itu mengalun lirih. Tidak meledak-ledak. Tidak pula gemuruh seperti lagu-lagu pop yang berlomba mengejar musim dan algoritma. Ia datang pelan, seperti surat yang terlambat tiba dari kampung halaman—membawa aroma tanah basah, suara ibu memanggil dari dapur, dan kerinduan yang lama disimpan diam-diam.
Lagu itu bernama “Selendang Biru Netherland.”
Di negeri yang langitnya sering muram diselimuti awan abu-abu dan angin dingin yang menggigit tulang, lagu itu hadir seperti tangan hangat yang menyentuh bahu para perantau Indonesia. Ada yang mendengarkannya dari apartemen kecil di Rotterdam, dari balik kepulan uap dapur restoran di Den Haag, dari kamar mahasiswa di Utrecht, atau dari sela perjalanan kereta menuju Amsterdam Centraal. Lagu itu berembus seperti aroma kopi tubruk yang tiba-tiba menyeruak di tengah musim dingin Eropa—membangunkan kenangan tentang pagi di Jawa, Sumatera, atau gang-gang kecil di kampung halaman yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatan.
Penciptanya adalah Githunkswara—nama artistik dari Ki Sugiyanto, S.Sn., M.Sn., dosen Prodi Musik FBS Universitas Negeri Semarang. Seorang musisi yang menulis lagu bukan sekadar untuk didengar, melainkan untuk dikenang. Ia memahami satu hal yang sering luput dari percakapan besar tentang diaspora: sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada ruang kosong yang diam-diam bernama rumah.
Maka lahirlah “Selendang Biru Netherland,” sebuah karya yang tidak sekadar bercerita tentang Belanda secara geografis, melainkan tentang jarak, identitas, dan rindu yang tak pernah benar-benar selesai.
“Di bawah langit biru Netherland
Ku menyusuri jalan kenangan…”
Lirik itu sederhana, nyaris tanpa metafora yang rumit. Namun justru di sanalah kekuatannya. Githunkswara membiarkan suasana bekerja sendiri: kanal-kanal yang tenang, sepeda yang melintas perlahan di atas jalan batu, embusan angin dingin yang membawa aroma hujan khas Eropa, dan seseorang yang diam-diam berbicara dengan masa lalunya sendiri.
Belanda, dalam lagu ini, berubah menjadi ruang batin. Negeri kincir angin itu tidak tampil sebagai kartu pos wisata, melainkan sebagai tempat di mana kenangan tumbuh paling subur justru ketika tubuh berada jauh dari tanah kelahiran. Ada kontras yang lembut namun menyayat: lanskap Eropa yang indah bertemu kesepian jiwa perantau.
Bagi banyak orang Indonesia di Negeri Oranje, rindu memang sering datang tanpa aba-aba. Kadang muncul saat melihat langit musim semi yang terlalu biru hingga terasa asing. Kadang hadir ketika mendengar seseorang bercakap dalam bahasa Indonesia di tram kota yang padat. Kadang menyeruak hanya karena aroma sambal yang dimasak di dapur apartemen kecil—menghidupkan kembali wajah ibu, meja makan sederhana, dan suara azan dari kampung yang jauh tertinggal.
Dan lagu ini seolah memahami semuanya.
Pada bagian reff, kata “selendang” menjadi simbol yang begitu kuat. Dalam tradisi Nusantara, selendang bukan sekadar kain penutup bahu. Ia adalah lambang kasih sayang, kelembutan, pelukan, bahkan kenangan akan sosok ibu atau kekasih yang ditinggalkan. Ketika Githunkswara memilih frasa “selendang biru,” ia seakan sedang menjahit dua dunia yang berjauhan: birunya langit Eropa yang dingin dengan birunya kenangan hangat yang dibawa dari Indonesia.
“Selendang biru, selendang biru
Terurai rindu akan dirimu…”
Lagu ini memang berbicara tentang cinta, tetapi cinta dalam makna yang lebih luas. Ia bisa dibaca sebagai kerinduan kepada kampung halaman, kepada ibu, kepada masa kecil, atau kepada identitas diri yang perlahan diuji oleh jarak dan waktu.
Di tangan Githunkswara, musik menjelma menjadi jembatan emosional. Ia menyatukan orang-orang Indonesia di Belanda—baik generasi lama Indo-Belanda yang akarnya telah bercampur sejarah kolonial, maupun diaspora baru yang masih segar ingatannya tentang tanah air—dalam satu perasaan yang sama: keinginan untuk tetap dekat dengan akar, meski hidup terus bergerak jauh ke arah yang belum pasti.
Tidak banyak lagu Indonesia kontemporer yang mencoba menangkap atmosfer diaspora dengan cara sehalus ini. Kebanyakan memilih nostalgia yang gamblang atau sentimentalitas yang berlebihan. Namun “Selendang Biru Netherland” justru mengambil jalan sunyi: menghadirkan kerinduan lewat detail-detail kecil yang intim. Angin dingin. Kanal sunyi. Jalan kenangan. Dan justru karena itulah ia terasa sangat manusiawi. Sangat nyata.
Komposisi lagu yang ciamik ini menjadi semakin kuat karena sentuhan musikal Ki Sugiyanto yang kaya nuansa. Aransemen dibangun dengan kelembutan, memberi ruang bagi lirik untuk bernapas dan emosi untuk tumbuh perlahan. Tidak terburu-buru. Tidak berisik. Musiknya mengalir seperti sungai kecil yang tenang, tetapi menyimpan arus perasaan yang dalam.
Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh lagu-lagu instan dan irama yang cepat berlalu, karya ini hadir seperti jeda. Ia tidak memaksa untuk diingat. Tidak pula menuntut perhatian dengan ledakan tempo atau sensasi. Ia hanya duduk diam di sudut hati pendengarnya—seperti endapan kopi di dasar cangkir yang justru menyimpan rasa paling pekat.
Mungkin karena setiap perantau pada akhirnya memang hidup bersama kenangan. Dan kenangan, seperti selendang, selalu punya cara untuk kembali melingkar di bahu seseorang—memberi hangat di tengah dinginnya negeri asing, meski waktu telah berjalan sangat jauh.
Di bawah langit biru Netherland itu, lagu Githunkswara tidak hanya bergema di udara.
Ia pulang. (*)




