Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Laut Jawa, bagi sebagian orang, mungkin hanyalah bentangan air asin yang memisahkan dua daratan. Namun bagi sejarah Nusantara, laut itu tidak pernah berfungsi sebagai tembok pemisah. Ia adalah jalan raya purba, jalur pelayaran abadi yang sejak berabad-abad lalu telah menjahit manusia, budaya, dan harapan menjadi satu kesatuan utuh. Di atas ombaknya yang tak kenal lelah, kapal-kapal dagang pernah berlayar membawa kopi, lada, karet, dan rempah-rempah. Namun yang lebih berharga dari muatan komoditas itu adalah kisah tentang orang-orang yang berpindah, meninggalkan tanah kelahiran demi membangun kehidupan baru di seberang lautan.
Pada masa kolonial, Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang berdenyut sebagai salah satu simpul perdagangan terpenting di pesisir utara Jawa. Bersamaan dengan itu, Teluk Lampung membuka gerbangnya sebagai pintu masuk utama Sumatra bagian selatan. Dari dua pelabuhan inilah, denyut ekonomi Nusantara saling terhubung dalam ritme yang tak terpisahkan. Namun persaudaraan antara kedua wilayah ini tidak hanya dibangun oleh transaksi dagang; ia semakin mengakar ketika pemerintah Hindia Belanda menjalankan program kolonisasi pada awal abad ke-20.
Ribuan keluarga dari Jawa Tengah—termasuk dari kawasan Kedu, Purworejo, Semarang, dan daerah sekitarnya—berlayar menuju Lampung. Mereka bukan sekadar pindah tempat tinggal. Mereka membawa serta bahasa ibu, kesenian, adat istiadat, dan falsafah hidup Jawa ke tanah yang masih liar. Mereka membuka hutan, membangun permukiman, mengolah sawah, dan menanam benih-benih peradaban baru.
Salah satu jejak sejarah yang paling menyentuh hati itu masih hidup hingga kini di Desa Bagelen, Kabupaten Pesawaran. Nama desa tersebut bukanlah kebetulan; ia diambil langsung dari kampung halaman para leluhur mereka di Jawa Tengah. Lebih dari satu abad berlalu, namun bahasa Jawa masih akrab terdengar di sana. Tradisi kenduri tetap dijalankan dengan khidmat, gamelan masih ditabuh mengalunkan nada-nada lama, dan semangat gotong royong tetap menjadi napas kehidupan masyarakat. Di tanah Lampung, akar Jawa tumbuh subur tanpa mencabut identitas budaya asli setempat. Keduanya justru saling menguatkan dalam harmoni yang langka.
Karena itulah, Lampung bukanlah negeri asing bagi masyarakat Semarang. Di sana hidup saudara-saudara yang mewarisi dua kebudayaan sekaligus: menjunjung falsafah Jawa yang halus dan tenggang rasa, sekaligus memegang teguh nilai Piil Pesenggiri, falsafah masyarakat Lampung yang mengajarkan kehormatan, harga diri, keramahan, dan penghormatan kepada sesama. Dua jiwa dalam satu tubuh, dua budaya dalam satu darah.
Ikatan sejarah yang telah berusia seabad itu kembali menemukan makna barunya pada Januari 2026. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, melakukan kunjungan kerja ke Lampung dan disambut hangat oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal. Di Gedung Mahan Agung, Bandar Lampung, kedua pemerintah provinsi menandatangani 11 kerja sama strategis yang mencakup sektor pangan, perdagangan, investasi, pariwisata, hingga pengembangan ekonomi daerah dengan potensi transaksi mencapai sekitar Rp832,3 miliar per tahun. Angka itu besar, namun maknanya jauh melampaui nominal rupiah.
Kunjungan itu tidak berhenti pada seremonial penandatanganan dokumen di ruang ber-AC. Ahmad Luthfi memilih menyusuri jejak sejarah dengan mendatangi Desa Bagelen, menemui langsung para keturunan transmigran asal Jawa Tengah. Di tengah percakapan hangat berbahasa Jawa yang mengalir deras, ia merasakan bahwa Lampung bukan sekadar daerah mitra politik atau ekonomi. Lampung adalah rumah bagi keluarga besar yang telah menanam akar sejak lebih dari seratus tahun silam.
Di hadapan warga yang matanya berkaca-kaca mendengar bahasa leluhurnya, sang gubernur mengingatkan falsafah yang begitu akrab bagi masyarakat Nusantara: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sebuah pesan sederhana namun mendalam bahwa keberagaman bukan alasan untuk tercerai-berai, melainkan kekuatan untuk hidup berdampingan dengan martabat.
Namun, persaudaraan lintas laut ini tidak hanya dirawat oleh memori para tetua atau kesepakatan antarpemerintah. Ia terus bernapas dan beregenerasi melalui tangan-tangan muda. Di jantung Kota Atlas, tepatnya di Jalan Sri Rejeki Timur Raya XI, Kelurahan Gisikdrono, terdapat sebuah markas kecil yang menjadi rumah kedua bagi ribuan perantau asal Lampung, termasuk mereka yang berasal dari Seandanan dan pelosok lainnya. Namanya Keluarga Mahasiswa Pelajar Lampung (KAMAPALA) Semarang.
Bagi mahasiswa dan pelajar Lampung yang merantau ke Semarang, KAMAPALA bukan sekadar organisasi kedaerahan. Ia adalah jangkar identitas di tengah arus urbanisasi yang deras. Melalui kegiatan seperti Malam Keakraban bagi mahasiswa baru atau acara mudik bersama bertajuk Mulang Tiyuh, mereka merawat ingatan kolektif agar tidak luntur tertelan zaman. Lebih dari itu, KAMAPALA aktif menerjemahkan warisan budaya ke dalam bahasa kontemporer. Salah satu wujud nyatanya adalah kolaborasi membatik di Kampung Djadoel Semarang, di mana motif kain tapis Lampung dipadukan dengan estetika batik Semarangan dalam satu desain—sebuah metafora visual tentang bagaimana dua identitas bisa bersatu tanpa kehilangan jati dirinya.
Pentas seni dan budaya yang rutin digelar oleh divisi seni KAMAPALA juga menjadi bukti bahwa tradisi tidak harus membeku. Ketika Talo Balak dari Lampung menggema di panggung Semarang, atau ketika gamelan Jawa ditabuh di tanah Lampung, yang sesungguhnya sedang berbunyi bukan sekadar alat musik. Yang bergema adalah ingatan kolektif tentang persaudaraan yang telah melintasi laut, zaman, dan generasi. Bunyi itu adalah bukti bahwa identitas tidak harus hilang saat berpindah tempat; ia justru bisa memperkaya tanah baru yang memeluknya.
Kini, hubungan Lampung dan Semarang tidak lagi hanya dibangun oleh memori transmigrasi masa lalu. Keduanya dipertemukan kembali melalui pendidikan, perdagangan, investasi, seni, budaya, hingga pariwisata. Mahasiswa Lampung menimba ilmu di kampus-kampus Semarang. Seniman kedua daerah saling bertukar panggung dan gagasan. Kopi Lampung, kain tapis, batik, kerajinan tangan, hingga produk UMKM bergerak melintasi dua wilayah sebagai bagian dari ekonomi kreatif Nusantara yang dinamis. Bahkan dalam Karnaval Seni Budaya Lintas Agama Kota Semarang 2026, partisipasi aktif warga Lampung menegaskan bahwa kota ini adalah rumah yang ramah bagi keberagaman.
Lampung dan Semarang pada akhirnya adalah dua halaman dari buku yang sama. Satu tumbuh di pesisir selatan Sumatra dengan karakter Sai Bumi Ruwa Jurai, satu berkembang di pantai utara Jawa dengan julukan Kota Atlas. Laut Jawa tidak pernah benar-benar memisahkan keduanya. Sebaliknya, laut justru menjadi jalan pulang bagi sejarah, budaya, dan persaudaraan yang terus hidup, bernapas, dan berdetak hingga hari ini—baik di balik meja perjanjian gubernur, maupun di sela-sela denting gamelan yang dimainkan anak-anak muda di perantauan.
Namun, untuk menjaga detak jantung persaudaraan ini tetap kuat, diperlukan fondasi yang kokoh. Sekretariat KAMAPALA Semarang, yang kini berlokasi di Jl. Dewi Sartika Bar. No.29, Sukorejo, Gunungpati, telah lama menjadi tumpuan harapan. Keberadaannya sebagai tempat tinggal, pusat informasi, dan wadah berkumpul menunjukkan peran vitalnya dalam menopang kehidupan para perantau. Akan tetapi, status kontrak dan keterbatasan dana menjadi duri dalam keberlangsungan organisasi ini.
Diperlukan solusi permanen, seperti pembangunan asrama yang representatif, untuk memastikan KAMAPALA dapat terus berfungsi sebagai pusat edukasi, pengembangan karakter, dan rumah bagi mahasiswa Lampung di Semarang. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Lampung, sinergi dengan pengurus KAMAPALA dalam menggalang dana, serta kerja sama multipihak menjadi kunci mewujudkan impian ini. Dengan pengelolaan yang baik dan atap yang permanen, sekretariat ini bukan hanya akan menjadi kebanggaan Lampung, tetapi juga peningkatan kualitas hidup bagi ribuan pemuda yang sedang menulis masa depan di tanah rantau.
Sebab, persaudaraan sejati tidak hanya dibangun di atas kertas perjanjian atau nostalgia masa lalu. Ia membutuhkan ruang fisik untuk tumbuh, tempat di mana mimpi-mimpi muda bisa bersandar, dan di mana ikatan antarmanusia diperkuat setiap hari. Selama ada rumah yang memeluk, selama ada telinga yang mendengar, dan selama ada hati yang peduli, maka jejak persaudaraan yang melintasi Laut Jawa ini akan terus abadi. (*)




