Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Pagi di Selat Sunda selalu menyimpan dua wajah yang paradoks. Di satu sisi, laut membentang tenang, menjadi jalur nelayan, kapal penyeberangan, dan wisatawan yang datang untuk menyaksikan sebuah pulau muda yang terus tumbuh dari rahim bumi. Namun di sisi lain, ada gunung api yang tidak pernah benar-benar tertidur. Ia hanya sesekali merendahkan suaranya, sebelum kembali menghela napas panjang dari perut bumi. Namanya Anak Krakatau.
Ia lahir dari kematian. Dari letusan dahsyat Krakatau tahun 1883 yang mengubah wajah dunia, mengirim gelombang tsunami ke berbagai pesisir, bahkan membuat langit Eropa memerah selama berbulan-bulan. Dari kawah yang nyaris lenyap itu, bumi pelan-pelan menyusun kembali tubuhnya. Pada 1927, sebuah pulau kecil muncul ke permukaan laut. Sejak saat itu, Anak Krakatau tumbuh sedikit demi sedikit—seolah bumi sedang memperbaiki dirinya sendiri. Tetapi gunung api tidak pernah tumbuh dalam keheningan.
Awal Juli 2026, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Keputusan itu bukan lahir dari kepanikan, melainkan dari pembacaan yang sabar terhadap bahasa bumi. Bahasa itu tidak menggunakan kata-kata; ia berbicara melalui getaran. Melalui ratusan gempa hembusan, gempa hibrida, gempa frekuensi rendah, tremor menerus, deformasi tubuh gunung, hingga emisi sulfur dioksida yang tertangkap satelit Sentinel dari angkasa. Semua tanda itu mengarah pada satu kesimpulan: magma sedang bergerak menuju permukaan.
Dalam kurun pertengahan Juni hingga awal Juli, ratusan bahkan ribuan sinyal vulkanik terekam. Puncaknya terjadi pada 2 Juli 2026 ketika kolom abu setinggi sekitar 200 meter membumbung dari kawah, mengingatkan bahwa kehidupan di bawah tanah masih terus bekerja. Bagi vulkanolog, itu adalah data. Bagi alam, itu adalah percakapan. Dan bagi manusia, itu semestinya menjadi pengingat.
Gunung api sesungguhnya tidak pernah berniat menjadi musuh manusia. Ia hanya menjalankan hukum geologi yang telah berlangsung jauh sebelum manusia mengenal sejarah. Yang sering terlupa justru manusia. Ketika gunung tampak tenang, orang datang semakin dekat. Lereng menjadi tujuan wisata, kawah menjadi latar swafoto, dan pulau vulkanik perlahan berubah menjadi destinasi petualangan. Padahal ketenangan gunung api selalu bersifat sementara. Karena itu, Badan Geologi meminta masyarakat, wisatawan, maupun pendaki tidak memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Bukan karena gunung itu sedang marah, melainkan karena alam selalu memiliki jarak aman yang harus dihormati.
Di kawasan pesisir Banten dan Lampung, pemerintah juga meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya pada kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mengenai potensi tsunami. Setiap perkembangan aktivitas akan terus dipantau, sementara keputusan teknis akan mengikuti hasil evaluasi para ahli. Di sinilah sains bekerja: bukan untuk menakut-nakuti, melainkan memberi ruang agar manusia dapat hidup berdampingan dengan alam secara lebih bijaksana.
Di dalam tradisi Nusantara, gunung bukan sekadar bentang alam. Ia adalah penyangga kehidupan. Dalam kosmologi Jawa, gunung dipercaya sebagai poros yang menghubungkan langit dan bumi. Dalam banyak kebudayaan di Indonesia, gunung dipandang sebagai tempat yang patut dihormati, bukan ditaklukkan. Modernitas sering kali membuat manusia lupa pada pelajaran lama itu. Kita belajar mengukur tinggi gunung, tetapi lupa mengukur kerendahan hati. Kita mampu membaca citra satelit, tetapi kadang gagal membaca isyarat bahwa alam selalu memiliki iramanya sendiri.
Anak Krakatau sedang berbicara. Bukan dengan bahasa manusia, melainkan dengan asap, gempa, panas, dan tekanan yang bergerak perlahan dari kedalaman bumi. Ia mengingatkan bahwa bumi adalah makhluk yang hidup. Ia bernapas, bergerak, retak, lalu membangun dirinya kembali dalam siklus yang tak mengenal kalender manusia. Barangkali karena itulah, setiap kali Anak Krakatau kembali berdenyut, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya kekuatan gunung api, melainkan kebijaksanaan manusia. Apakah kita cukup rendah hati untuk menjaga jarak ketika alam meminta ruang? Ataukah kita baru belajar menghormatinya setelah semuanya terlambat?
Di ufuk Selat Sunda, asap tipis masih sesekali membumbung dari kawah Anak Krakatau. Laut tetap beriak. Burung-burung masih melintas. Kehidupan terus berjalan. Namun bumi telah mengirimkan pesannya. Dan seperti semua pesan alam, ia tidak pernah datang untuk ditakuti. Ia datang agar manusia selalu ingat: kita hidup di atas planet yang terus bernapas. (*)




