SEMARANG — Dalam rangka memperingati La Fête de la Musique atau Hari Musik Sedunia, Alliance Française Semarang berkolaborasi dengan Maxi Brain Academy menghadirkan konser musik kamar bertajuk “Chamber of Strings: A Quiet Conversation” di Maxi Brain Concert Hall, Jalan Rinjani 18, Semarang, Kamis (18/6/2026).
Konser yang merupakan bagian dari program Echoes of Life ini menampilkan tiga musisi berpengalaman, yakni violinis Riana Heath, gitaris Bagus Mardian Prakosa, dan selis Asep Hidayat Wirayudha. Melalui format musik kamar yang intim, ketiganya mengajak publik menikmati pengalaman mendengarkan musik secara lebih mendalam di tengah dominasi budaya digital yang serba cepat dan instan.
Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty Wijaya, mengatakan bahwa penyelenggaraan konser ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan La Fête de la Musique, sebuah gerakan budaya yang lahir di Prancis pada 1982 dan kini dirayakan di berbagai negara di dunia.
“La Fête de la Musique mengusung gagasan bahwa musik adalah milik semua orang. Musik dapat menjadi sarana perjumpaan, dialog, dan saling memahami tanpa memandang latar belakang budaya maupun bahasa,” ujarnya.
Perayaan yang diperingati setiap 21 Juni tersebut berawal dari inisiatif Menteri Kebudayaan Prancis saat itu, , yang mendorong masyarakat untuk memainkan dan menikmati musik di ruang-ruang publik. Dalam perkembangannya, La Fête de la Musique menjelma menjadi festival budaya global yang dirayakan di lebih dari 120 negara.
Menurut Kiki, semangat itulah yang melandasi kerja sama Alliance Française Semarang dengan Maxi Brain Academy. Seni dan budaya diyakini sebagai bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan sekaligus membangun dialog antarbangsa.
“Musik klasik, khususnya musik kamar, mengajarkan kepekaan, disiplin, kemampuan mendengar, dan harmoni. Nilai-nilai ini sangat penting dalam pembentukan karakter generasi muda,” katanya.
Sementara itu, Owner Maxi Brain Academy Semarang, Pauline Wonodadi Adi, menilai konser ini merupakan upaya menghadirkan ruang apresiasi yang lebih reflektif bagi masyarakat. Melalui program Echoes of Life, pihaknya ingin memperkenalkan musik klasik tidak hanya sebagai pertunjukan artistik, tetapi juga sebagai medium pendidikan dan dialog budaya.
Program konser menghadirkan perjalanan musikal lintas zaman dan lintas budaya. Pertunjukan dibuka dengan Passacaglia karya George Frideric Handel yang diaransemen Johan Halvorsen, dilanjutkan dua karya tango nuevo Astor Piazzolla, Bordel 1900 dan Nightclub 1960. Suasana yang lebih intim kemudian dihadirkan melalui Nocturnes for Cello and Guitar karya Friedrich Burgmüller.
Pada sesi kedua, ketiga musisi membawakan Terzetto for Violin, Cello, and Guitar karya Niccolò Paganini yang menampilkan dialog musikal kaya warna dan virtuositas tinggi. Konser ditutup dengan Anoman, sebuah aransemen untuk violin, cello, dan gitar yang terinspirasi dari tokoh pewayangan dalam epos Ramayana.
Melalui karya penutup tersebut, semangat dialog budaya yang menjadi ruh La Fête de la Musique terasa semakin kuat. Tradisi musik klasik Barat dipertemukan dengan kekayaan budaya Nusantara dalam sebuah percakapan musikal yang melampaui batas geografis dan generasi.
Selain konser, rangkaian kegiatan juga mencakup masterclass internasional yang memberikan kesempatan bagi pelajar musik dan masyarakat umum untuk belajar langsung dari para musisi. Melalui kegiatan ini, Alliance Française Semarang dan Maxi Brain Academy berharap dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap musik klasik sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan seni di Kota Semarang.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh arus informasi dan hiburan instan, konser “Chamber of Strings: A Quiet Conversation” menjadi pengingat bahwa musik masih memiliki kekuatan untuk mempertemukan manusia dalam ruang yang hening, reflektif, dan penuh makna. (Christian Saputro)




