SURAKARTA — Industri kriya Nusantara tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga tentang identitas budaya, kreativitas, dan jejaring komunitas yang terus tumbuh. Semangat itulah yang akan menjadi fokus dalam Talkshow Festival Tas Nusantara (FESTARA) III Tahun 2026 bertajuk “Komunitas, Kolaborasi, Inovasi, dan Pengembangan Pasar Kriya Nusantara” yang digelar di Pendapi Ageng Balai Kota Surakarta, Minggu (21/6/2026).
Mengusung tema “Cerita dalam Setiap Anyaman”, kegiatan ini menghadirkan sejumlah pelaku dan penggerak komunitas kriya dari berbagai daerah untuk berbagi pengalaman serta gagasan dalam mengembangkan industri kreatif berbasis budaya di Indonesia.
Talkshow yang menjadi bagian dari rangkaian FESTARA 2026 tersebut akan menghadirkan Aniek Setyaningtiyas dari Kriya Pacitan, Elkana Gunawan Tan dari Ken Runtah Community Semarang, Rina Sulistyaningsih dari Komunitas Crafter Solo Raya, serta Nita Tjindarbumi dari Komunitas E-UKM Surabaya. Diskusi akan dipandu oleh Elisabeth Shirley Mayasari, Sekretaris Forum Komunikasi Ekonomi Kreatif Indonesia (FORKESI) Surakarta.
Founder Mataya Arts & Heritage sekaligus penggagas FESTARA, Heru Mataya, mengatakan bahwa perkembangan industri tas dan kriya Nusantara membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan produksi. Menurutnya, keberhasilan industri kreatif saat ini sangat ditentukan oleh kemampuan membangun kolaborasi, membaca tren pasar, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pemasaran.
“Di balik setiap tas anyaman, produk kriya, maupun kerajinan tangan Nusantara, terdapat cerita panjang tentang tradisi, keterampilan, dan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi. Tantangannya adalah bagaimana warisan itu dapat terus relevan dan memiliki nilai ekonomi di tengah perubahan pasar yang sangat dinamis,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, para narasumber akan membahas berbagai isu strategis mulai dari kolaborasi antar komunitas kriya, tren desain produk tas yang berkembang di pasar nasional maupun global, strategi pemasaran digital bagi pelaku UMKM, hingga pengembangan industri kreatif berbasis budaya lokal.
Keberadaan komunitas dinilai menjadi salah satu kekuatan utama dalam membangun ekosistem kriya yang berkelanjutan. Melalui jejaring komunitas, para perajin dapat saling bertukar pengetahuan, mengembangkan inovasi produk, hingga membuka akses pasar yang lebih luas.
Menurut penyelenggara, transformasi digital juga menjadi faktor penting yang tidak dapat diabaikan. Perubahan perilaku konsumen yang semakin bergantung pada platform digital menuntut pelaku UMKM untuk mampu memanfaatkan media sosial, marketplace, dan teknologi pemasaran digital sebagai sarana promosi sekaligus penjualan produk.
FESTARA 2026 sendiri merupakan festival yang berupaya mempertemukan pelaku industri tas, perajin, komunitas, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat umum dalam satu ruang kolaboratif. Melalui pameran, sarasehan, workshop, dan berbagai kegiatan pendukung lainnya, festival ini diharapkan dapat memperkuat posisi kriya Nusantara sebagai bagian penting dari ekonomi kreatif Indonesia.
Selain menjadi ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman, talkshow ini juga diharapkan mampu melahirkan jejaring kerja sama baru antar komunitas dari berbagai daerah. Dengan demikian, produk-produk kriya berbasis budaya lokal tidak hanya bertahan sebagai warisan tradisi, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Talkshow berlangsung pukul 09.30–10.30 WIB dan terbuka bagi masyarakat umum, pelaku UMKM, mahasiswa, pegiat ekonomi kreatif, serta komunitas kriya yang ingin memperluas wawasan dan jejaring dalam pengembangan industri kreatif Indonesia. (Christian Saputro)




