SEMARANG — Sejarah panjang yang telah terjalin lebih dari satu setengah abad antara Semarang dan pesisir Fujian, Tiongkok, menemukan momentumnya kembali tahun ini. Dalam Perayaan Kedatangan Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee ke-166 di Klenteng Besar Tay Kak Sie Semarang, masyarakat tidak hanya menyaksikan prosesi spiritual dan kirab budaya yang telah diwariskan turun-temurun, tetapi juga kedatangan delegasi resmi dari tanah leluhur Kongco Poo Seng Tay Tee.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah penyelenggaraan perayaan tersebut, hadir Kimsin Kongco Poo Seng Tay Tee dari Zhangzhou Baijiao Ciji Ancestral Temple, Fujian, Tiongkok, yang merupakan tempat asal pemujaan Baosheng Dadi atau Poo Seng Tay Tee. Kehadiran rombongan dari negeri asal itu menjadi simbol kuat keterhubungan sejarah, budaya, dan spiritual antara komunitas Tionghoa Indonesia dengan akar tradisinya di Fujian.
Perayaan yang berlangsung pada 14–16 Juni 2026 itu semakin istimewa dengan kehadiran sejumlah lembaga budaya, akademik, dan pemerintahan dari Provinsi Fujian, yakni Fujianese Entrepreneurs Culture Development Foundation, Fujian Maritime Culture Research Center, Institute of Fujianese Entrepreneurs Culture Fuzhou University, Zhangzhou Taiwanese Entrepreneurs Investment Zone Management Committee, serta Zhangzhou Baijiao Ciji Ancestral Temple Management Committee.
Rombongan tersebut disambut bersama para peserta ziarah dan kirab kelenteng dari berbagai daerah di Indonesia yang datang untuk mengikuti salah satu tradisi keagamaan dan budaya tertua di Kota Semarang.
Ketua Yayasan Tay Kak Sie Semarang, Tanto Hermawan, mengatakan kehadiran delegasi dari Tiongkok memiliki arti yang sangat mendalam bagi umat dan masyarakat Semarang.
“Ini bukan sekadar kunjungan budaya. Kehadiran Kimsin dari tempat asalnya merupakan simbol hubungan spiritual yang telah terjalin selama ratusan tahun antara tanah leluhur dengan komunitas Tionghoa di Indonesia, khususnya di Semarang,” ujarnya.
Menurut Tanto, tradisi penghormatan kepada Poo Seng Tay Tee telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Tionghoa Semarang sejak pertengahan abad ke-19. Selama 166 tahun, tradisi tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pengingat nilai-nilai kebajikan, welas asih, kesehatan, dan keselamatan yang diajarkan oleh Yang Suci Poo Seng Tay Tee.
Sementara itu Ketua Panitia Pelaksana Djoko Weyong menegaskan bahwa perayaan ini bukan hanya milik umat Tridharma, melainkan telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Kota Semarang yang terbuka untuk seluruh masyarakat.
“Kirab ini merupakan simbol perjalanan kehidupan. Di dalamnya terdapat pesan tentang pengabdian, kebajikan, kesehatan, keselamatan, dan keharmonisan. Kami berharap masyarakat dapat mengenal lebih dekat nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi ini,” katanya.
Rangkaian acara diawali dengan slametan dan doa bersama di kawasan Pantai Marina, dilanjutkan penyambutan Kimsin dari berbagai klenteng rekanan serta ritual sakral pemasangan Kimsin ke dalam tandu keramat atau kio. Puncaknya berlangsung pada Selasa (16/6/2026) melalui Kirab Budaya Akbar yang menempuh rute dari Klenteng Tay Kak Sie menuju Pantai Marina dan kembali melintasi kawasan Pecinan Semarang.
Sepanjang perjalanan, masyarakat disuguhi berbagai atraksi budaya seperti barongsai, liong, musik tradisional, pasukan pengiring ritual, hingga arak-arakan kio yang membawa Kimsin YS Poo Seng Tay Tee. Ribuan umat dan pengunjung diperkirakan turut memadati ruas-ruas jalan yang dilalui kirab.
Bagi para pemerhati sejarah dan budaya, tradisi ini merupakan bentuk living heritage atau warisan budaya hidup yang masih bertahan dan berkembang hingga kini. Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Perayaan Kedatangan YS Poo Seng Tay Tee menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Tionghoa di Semarang serta bukti keberhasilan akulturasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Kehadiran para akademisi, peneliti, tokoh budaya, dan pengelola situs warisan leluhur dari Fujian juga memperlihatkan bahwa hubungan antara kedua wilayah tidak hanya terjalin melalui jalur ekonomi dan migrasi, tetapi juga melalui warisan budaya maritim yang telah menghubungkan pesisir Fujian dan Nusantara sejak masa lampau.
Di tengah dunia yang semakin terhubung namun kerap diwarnai perbedaan, Semarang kembali menunjukkan wajahnya sebagai kota yang mampu merawat keberagaman. Melalui kirab berusia 166 tahun ini, tradisi tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu, melainkan terus hidup sebagai ruang perjumpaan budaya, persaudaraan lintas komunitas, dan jembatan persahabatan antarbangsa.
Perayaan Kedatangan Yang Suci Poo Seng Tay Tee ke-166 pun menjadi lebih dari sekadar peristiwa spiritual. Ia menjelma menjadi penanda bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat penting dalam kehidupan modern, sekaligus menjadi simbol harmoni yang terus dijaga di Kota Semarang. (Christian Saputro)




