SURAKARTA — Penguatan daya saing industri tas Nusantara melalui inovasi desain, orientasi pasar, dan pemanfaatan kekayaan budaya lokal akan menjadi fokus utama dalam Sarasehan Nasional Festival Tas Nusantara (FESTARA) 2026 yang digelar pada Sabtu, 20 Juni 2026, di Pendhapi Ageng Balai Kota Surakarta.
Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Festival Tas Nusantara III tersebut menghadirkan akademisi, praktisi industri kreatif, pelaku usaha, hingga regulator untuk membahas strategi pengembangan produk tas yang memiliki nilai tambah tinggi serta mampu menjawab tantangan pasar nasional maupun global.
Mengusung tema “Inovasi Desain, Orientasi Pasar, dan Kreativitas Berbasis Budaya untuk Meningkatkan Nilai Tambah Produk Tas Nusantara”, sarasehan ini menjadi ruang dialog lintas sektor guna memperkuat ekosistem industri kriya Indonesia yang berakar pada warisan budaya namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
Sebagai keynote speaker, hadir Prof. Dr. Pande Made Sukerta, Guru Besar Fakultas Desain dan Industri Kreatif Universitas Esa Unggul Jakarta. Ia akan memaparkan pentingnya sinergi antara inovasi, kreativitas, dan identitas budaya dalam membangun produk-produk kreatif yang memiliki keunggulan kompetitif.
Sarasehan juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Dr. Indra Gunara Rochyat, Dr. Muchlis, Gita Noerwardhani, serta Heri Santosa.
Keempat narasumber akan membahas berbagai aspek penting dalam pengembangan industri tas Nusantara, mulai dari desain produk yang inovatif, strategi membaca kebutuhan pasar, penguatan identitas budaya dalam produk kriya, hingga akses pembiayaan dan dukungan sektor jasa keuangan bagi pelaku usaha kreatif.
Ketua Program Studi Destinasi Pariwisata Universitas Teknologi Yogyakarta, Dr. Teti Indriati Kastuti, akan bertindak sebagai moderator yang memandu jalannya diskusi.
Founder MATAYA Arts & Heritage, Heru Mataya, menyampaikan bahwa FESTARA hadir bukan sekadar sebagai ajang pameran produk, melainkan juga sebagai ruang kolaborasi dan pertukaran gagasan untuk memperkuat posisi industri tas Nusantara di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.
Menurutnya, kekayaan budaya Indonesia menyimpan sumber inspirasi yang tak terbatas bagi pengembangan desain produk kreatif. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara perajin, desainer, akademisi, pelaku usaha, dan pemangku kebijakan agar produk tas Nusantara mampu berkembang menjadi karya yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki identitas budaya yang kuat.
Penyelenggara berharap sarasehan ini dapat menjadi wadah pertukaran gagasan sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antara dunia akademik, industri, komunitas, dan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Industri tas Nusantara dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang karena didukung oleh keragaman material lokal, keterampilan perajin yang diwariskan lintas generasi, serta kekayaan motif dan tradisi yang menjadi identitas khas berbagai daerah di Indonesia. Melalui inovasi yang tepat dan strategi pemasaran yang adaptif, produk tas berbasis kriya diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas dan memberikan nilai ekonomi yang semakin tinggi bagi para pelakunya.
Sarasehan Nasional FESTARA 2026 terbuka untuk umum dan dapat diikuti secara gratis. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya konkret untuk membangun masa depan industri tas Indonesia yang kreatif, berkelanjutan, dan berakar kuat pada budaya Nusantara.
Festival Tas Nusantara III sendiri diselenggarakan oleh MATAYA Arts & Heritage sebagai bagian dari komitmen memperkuat ekosistem kriya dan industri kreatif berbasis warisan budaya Indonesia. Dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu forum, FESTARA diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan baru yang dapat mendorong produk tas Nusantara semakin dikenal dan dihargai di tingkat nasional maupun internasional. (Christian Saputro)




