SEMARANG – Kegiatan klenengan yang digelar di Vereeniging Boen Hian Tong atau Perkumpulan Rasa Dharma, Sabtu (6/6/2026), tidak sekadar menjadi ruang untuk menikmati karawitan. Bagi pemerhati wayang sekaligus Pamong Monod Laras, Tjahjono Raharjo, perhelatan tersebut menjadi momentum penting untuk mengenali kembali salah satu perangkat gamelan bersejarah yang masih bertahan hingga kini.
Menurut Tjahjono, gamelan milik Boen Hian Tong yang usianya telah melampaui satu abad menyimpan sejumlah karakteristik yang jarang ditemukan pada perangkat gamelan masa kini.
“Perangkat gamelan ini memiliki kekhasan yang sangat menarik. Semua ricikan balungannya berbentuk gantung, terdapat tiga perangkat gender, dan memiliki gong kemodong yang berfungsi menggantikan gong gedhe. Bentuk seperti ini sekarang sudah sangat jarang dijumpai,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keberadaan perangkat gamelan tersebut bukan hanya penting sebagai warisan benda budaya, melainkan juga sumber pengetahuan mengenai perkembangan musikalitas Jawa pada masa lalu. Konstruksi instrumen dan tata bunyi yang dimiliki gamelan Boen Hian Tong mencerminkan praktik karawitan yang berkembang pada awal abad ke-20, ketika komunitas Tionghoa dan Jawa di Semarang menjalin hubungan budaya yang erat.
“Kita bisa melihat bagaimana sebuah perkumpulan Tionghoa pada masa itu tidak hanya menjadi ruang sosial, tetapi juga ikut merawat tradisi karawitan Jawa. Ini menunjukkan adanya perjumpaan budaya yang berlangsung secara alami dan harmonis,” katanya.
Kehadiran Akademisi Internasional
Klenengan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro tersebut semakin istimewa dengan kehadiran Prof. Sumarsam, Guru Besar Etnomusikologi dari Wesleyan University, Amerika Serikat. Akademisi yang dikenal luas sebagai salah satu otoritas karawitan Jawa di tingkat internasional itu hadir bersama istrinya dan turut berpartisipasi langsung dalam sajian karawitan.
Di tengah suasana yang hangat dan akrab, Prof. Sumarsam tidak hanya menjadi pengamat. Ia berkenan menabuh gender barung, menyatu bersama para pengrawit dalam alunan gending yang menghidupkan kembali karakter bunyi gamelan Boen Hian Tong yang telah berusia lebih dari seratus tahun.
Sementara itu, Ketua Departemen Sejarah FIB Universitas Diponegoro, Prof. Dhanang Respati Puguh, juga sempat memainkan kendhang saat para pengrawit membawakan gendhing karya maestro karawitan Ki Nartosabdho.
Menurut Tjahjono Raharjo, kehadiran Prof. Sumarsam memiliki arti penting karena mempertemukan tradisi karawitan yang hidup di masyarakat dengan kajian akademik bertaraf internasional.
“Prof. Sumarsam adalah sosok yang selama puluhan tahun memperkenalkan karawitan Jawa kepada dunia. Kehadirannya di Boen Hian Tong menjadi penegasan bahwa perangkat gamelan ini memiliki nilai sejarah dan musikal yang sangat penting,” ujarnya.
Mengembalikan Keaslian Bunyi Gamelan
Salah satu hal yang menarik dalam klenengan tersebut adalah keputusan memainkan seluruh sajian tanpa menggunakan pengeras suara elektronik. Atas permintaan Prof. Sumarsam, gamelan dibiarkan berbunyi secara alami sebagaimana lazimnya praktik klenengan pada masa lalu.
Tjahjono menilai keputusan tersebut menjadi pengalaman yang langka sekaligus berharga bagi para hadirin.
“Ketika gamelan dimainkan tanpa sound system, kita dapat mendengar karakter asli setiap ricikan. Warna suara, resonansi, dan keseimbangan antarinstrumen menjadi lebih terasa. Begitulah suasana klenengan yang lazim terjadi pada masa lalu,” ungkapnya.
Menurutnya, penggunaan perangkat audio modern memang mampu memperbesar volume suara, tetapi tidak selalu menghadirkan kualitas bunyi yang utuh. Dalam beberapa kasus, penggunaan pengeras suara justru dapat mengurangi kejernihan warna bunyi dan nuansa alami yang menjadi kekuatan utama karawitan.
Bagi Prof. Sumarsam, bunyi gamelan bukan semata persoalan keras atau pelan. Yang jauh lebih penting adalah keseimbangan, resonansi, dan hubungan musikal antarinstrumen yang membentuk satu kesatuan bunyi. Tanpa bantuan pengeras suara, para hadirin dapat merasakan langsung kejernihan nada, kelembutan dengung logam, serta keutuhan karakter laras slendro yang menjadi ciri khas gamelan Boen Hian Tong.
Dalam suasana yang sederhana namun penuh keakraban, para pengrawit, pesindhen, akademisi, dan tamu yang hadir larut menikmati alunan gamelan tua tersebut. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman, bunyi-bunyian yang lahir dari ricikan berusia lebih dari satu abad itu seolah menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya disimpan dalam arsip dan museum, melainkan hidup melalui praktik, perjumpaan, dan pengalaman mendengarkan bersama.
Bagi Tjahjono Raharjo, klenengan di Boen Hian Tong bukan sekadar pertunjukan musik tradisi. Ia merupakan peristiwa budaya yang mempertemukan sejarah, pengetahuan, dan rasa dalam satu ruang yang sama, sekaligus menegaskan bahwa suara gamelan tua masih mampu berbicara kepada generasi hari ini.
“Gamelan ini bukan hanya benda bersejarah. Ia adalah saksi perjalanan budaya Semarang dan bukti bahwa tradisi dapat terus hidup ketika dirawat bersama,” pungkasnya. (Christian Saputro)




