SEMARANG — Tiga tahun lalu, Yayasan Kinasih Roemah Difabel Inklusi lahir dari semangat sederhana: menghadirkan ruang yang ramah bagi penyandang disabilitas untuk tumbuh, belajar, dan berkarya. Pada Minggu (14/6/2026), semangat itu kembali dirayakan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 yayasan yang berlangsung di Roemah Difabel Inklusi, Jalan MT Haryono No. 266, Jagalan, Kota Semarang.
Perayaan yang dihadiri keluarga difabel, relawan, tokoh masyarakat, mitra, serta perwakilan pemerintah tersebut berlangsung hangat dan penuh suasana kekeluargaan. Momentum ulang tahun tidak hanya menjadi ajang syukur atas perjalanan organisasi, tetapi juga pengingat akan pentingnya membangun masyarakat yang semakin inklusif dan menghargai keberagaman.
Ketua Yayasan Kinasih Roemah Difabel Inklusi, Florentia Hertinawati, mengatakan perjalanan tiga tahun menjadi fondasi penting bagi yayasan untuk terus memperluas jangkauan pelayanan dan pemberdayaan bagi penyandang disabilitas.
“Perayaan ini bukan sekadar peringatan hari jadi, tetapi juga bentuk rasa syukur atas perjalanan yang telah dilalui bersama. Dukungan dari keluarga, relawan, komunitas, dan para mitra menjadi kekuatan bagi kami untuk terus bergerak mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif,” ujarnya.
Menurut Florentia, selama tiga tahun terakhir yayasan telah mengembangkan berbagai program pendampingan, pelatihan keterampilan, penguatan kemandirian, serta ruang interaksi sosial bagi penyandang disabilitas dan keluarganya. Program-program tersebut diharapkan mampu membuka kesempatan yang lebih luas bagi para peserta untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
Penasehat Yayasan Kinasih Roemah Difabel Inklusi, Prof. Hardhono, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberadaan Kinasih merupakan bukti nyata bahwa gerakan sosial berbasis kepedulian mampu menghadirkan perubahan yang berarti.
“Tiga tahun mungkin bukan usia yang panjang bagi sebuah lembaga. Namun dalam perjalanan sebuah gerakan sosial, tiga tahun adalah bukti bahwa semangat kepedulian, ketulusan, dan pengabdian telah mampu tumbuh menjadi kekuatan yang nyata,” katanya.
Ia menilai Kinasih telah berhasil menunjukkan bahwa penyandang disabilitas bukanlah objek belas kasihan, melainkan subjek pembangunan yang memiliki kemampuan, kreativitas, dan kontribusi penting bagi masyarakat.
Menurutnya, esensi inklusi bukanlah mengubah penyandang disabilitas agar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melainkan mengubah lingkungan agar semakin terbuka dan mampu menerima keberagaman.
“Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari kemampuannya menghormati dan memuliakan setiap warganya tanpa terkecuali,” ujar Prof. Hardhono.
Apresiasi juga disampaikan Lurah Kebonagung, Hepilia Komilasari, ST, yang hadir mewakili unsur pemerintahan. Ia menilai Yayasan Kinasih telah menjadi mitra penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif di tingkat masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kelurahan Kebonagung, saya mengucapkan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh keluarga besar Yayasan Kinasih Roemah Difabel Inklusi yang selama tiga tahun terakhir telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mendampingi, memberdayakan, dan memperjuangkan hak-hak saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” katanya.
Menurut Hepilia, pembangunan yang inklusif hanya dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Karena itu, keberadaan Kinasih menjadi contoh bagaimana gotong royong sosial dapat menghadirkan ruang yang memberi harapan, kepercayaan diri, dan kesempatan yang setara bagi semua warga.
Suasana perayaan berlangsung sederhana namun sarat makna. Para peserta tidak hanya merayakan hari jadi yayasan, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan yang selama ini menjadi kekuatan utama komunitas tersebut.
Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi penyandang disabilitas dalam memperoleh akses pendidikan, pekerjaan, dan ruang partisipasi sosial, keberadaan Kinasih menjadi salah satu contoh gerakan akar rumput yang berupaya menghadirkan perubahan secara nyata.
Memasuki usia ketiga, Yayasan Kinasih Roemah Difabel Inklusi berharap dapat terus berkembang sebagai rumah bersama yang memberikan ruang bagi setiap individu untuk tumbuh sesuai potensinya. Lebih dari sekadar lembaga sosial, Kinasih ingin menjadi simbol bahwa kesetaraan bukanlah cita-cita yang jauh, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan melalui kepedulian, kolaborasi, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Perayaan HUT ke-3 ini pun menjadi penegasan bahwa perjalanan menuju masyarakat yang inklusif masih terus berlangsung, dan Kinasih memilih untuk tetap berjalan di garis depan perjuangan tersebut, memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal. (Christian Saputro)




