SOLO – Seni anyaman, warisan leluhur Austronesia yang berakar sejak Zaman Neolitik sekitar 5.000 tahun lalu, akan kembali dirayakan dalam skala nasional melalui Festival Tas Nusantara III (FESTARA III). Digelar oleh MATAYA Arts & Heritage, festival ini berlangsung selama tiga hari, 19–21 Juni 2026, di halaman Balaikota Solo, Jawa Tengah.
Mengusung tema “Tas Nusantara: Cerita dalam Setiap Anyaman”, FESTARA III tidak hanya memamerkan produk kerajinan tangan, tetapi juga bertujuan mengangkat nilai filosofis, estetika, dan sejarah yang tersemat dalam setiap helai serat bambu, rotan, pandan, mendong, enceng gondok, hingga purun.
Direktur MATAYA Arts & Heritage, Heru Mataya, menyatakan bahwa anyaman bukan sekadar wadah atau pelengkap busana, melainkan cerminan kearifan lokal dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
“Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia memiliki ragam teknik anyaman unik dari Sabang hingga Merauke. FESTARA III hadir untuk menjembatani tradisi kuno tersebut dengan tuntutan zaman modern,” ujar Heru dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/6/2026).
Inovasi Material: Dari Alam hingga Daur Ulang
Selain menampilkan tas berbahan alam tradisional, festival ini juga menyoroti inovasi material, termasuk penggunaan plastik daur ulang (upcycling). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap perubahan peradaban dan kebutuhan keberlanjutan lingkungan, tanpa menghilangkan esensi keterampilan menyilangkan serat yang telah diwariskan turun-temurun.
Heru menjelaskan bahwa festival ini menjadi wadah selebrasi ekonomi kreatif yang didedikasikan untuk melestarikan tas tradisional sekaligus membuka pasar bagi perajin lokal dan UMKM.
Rangkaian Acara Edukasi dan Pameran
FESTARA III menawarkan pengalaman menyeluruh bagi pengunjung melalui berbagai segmen kegiatan: Pertama, INITAS (Pameran Karya): Menampilkan karya tas kreatif dan inovatif dari kreator, seniman, komunitas, dan UMKM. Karya-karya ini merupakan visualisasi dari memori, imajinasi, dan visi pembuatnya.
Kedua,Bazaar Tas: Ruang transaksi langsung antara pengrajin/UMKM dengan masyarakat, mendukung sirkulasi ekonomi lokal. Dan Ketiga, Workshop & Kolaborasi Akademik: Melibatkan Universitas Telkom Jakarta, Universitas Esa Unggul Jakarta, serta berbagai komunitas untuk berbagi teknik dan wawasan desain.
Keempat, Pertunjukan Seni: Fashion show dan pertunjukan tari yang mengambil inspirasi dari tema festival, menunjukkan dinamika anyaman dalam konteks kontemporer.
Sarasehan Nasional: Inovasi Berbasis Budaya
Puncak diskusi intelektual digelar melalui Sarasehan Nasional FESTARA III dengan topik “Inovasi Desain, Orientasi Pasar, dan Kreativitas Berbasis Budaya untuk Meningkatkan Nilai Tambah Produk Tas Nusantara.”
Acara ini menghadirkan narasumber kompeten, yakni Dr. Indra Gunara Rochyat, S.Sn., M.Ds. (Dosen Desain Universitas Esa Unggul Jakarta), Dr. Muchlis, S.Sn., M.Ds. (Dosen Prodi Desain Produk, Universitas Telkom Bandung), dan Gita Noerwardhani (Owner Seratnusa). Keynote speaker diisi oleh Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si., Guru Besar Fakultas Desain & Industri Kreatif Universitas Esa Unggul Jakarta.
Selain itu, Sekolah Desain Grafis Solo (SDGS) turut meramaikan festival dengan pameran poster bertajuk “Dari Sayap ke Sayap, Dari Serat ke Serat”. Sebanyak 19 siswa SDGS menampilkan interpretasi visual mereka terhadap tas anyaman nusantara, menggabungkan imajinasi grafis dengan apresiasi terhadap tekstur serat alam.
Dengan lokasi strategis di Balaikota Solo, FESTARA III diharapkan dapat menarik minat wisatawan maupun pecinta seni untuk memahami bahwa setiap tas anyaman menyimpan cerita panjang tentang identitas bangsa.
Informasi lebih lanjut mengenai festival dapat diakses melalui media sosial @festivaltasnusantara atau menghubungi kontak panitia di 0816.675.808. (Christian Saputro)




