SEMARANG — Upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif terus dilakukan Yayasan Roemah Difabel Indonesia. Melalui kegiatan bertajuk “Ruang Isyarat 2026: Ruang Kita, Bahasa Kita”, yayasan tersebut menggelar Workshop Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) sebagai bagian dari rangkaian pre-launching Griya Karya Inklusi dan Akademi Inklusi Bersinar (AKIB) di Semarang.
Kegiatan yang berlangsung pada 23–27 Juni 2026 di Griya Karya Inklusi, Jalan Puspowarno II Nomor 2 Semarang, ini menyasar para pendidik, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin memahami dasar-dasar komunikasi dengan komunitas Tuli.
Founder Yayasan Roemah Difabel Indonesia, Noviana Dibyantari, mengatakan bahasa isyarat tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga sarana penting untuk membuka akses, membangun kesetaraan, dan menghapus hambatan sosial yang masih dihadapi penyandang disabilitas Tuli.
“Bahasa isyarat adalah jembatan yang menghubungkan manusia. Ketika masyarakat memahami bahasa isyarat, maka ruang-ruang publik, pendidikan, dan sosial akan menjadi lebih terbuka bagi teman-teman Tuli,” ujarnya.
Menurut Noviana, workshop ini merupakan langkah awal dalam memperkenalkan visi besar Griya Karya Inklusi dan Akademi Inklusi Bersinar (AKIB) sebagai pusat pembelajaran, pemberdayaan, dan pengembangan kapasitas bagi penyandang disabilitas maupun masyarakat umum.
Melalui pelatihan yang difasilitasi komunitas Peduli Isyarat Semarang, peserta akan diperkenalkan pada dasar-dasar BISINDO sekaligus memperoleh pemahaman mengenai pentingnya komunikasi yang inklusif dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan dibagi dalam beberapa sesi berdasarkan latar belakang peserta. Pada 23 Juni workshop diperuntukkan bagi guru PAUD, TK, dan SD. Sesi berikutnya pada 24 Juni ditujukan untuk guru SMP, sementara pada 25 Juni menyasar guru SMA dan SMK. Adapun pada 27 Juni kegiatan dibuka untuk mahasiswa dan masyarakat umum.
Noviana menilai keterlibatan para guru menjadi sangat penting karena sekolah merupakan ruang pertama yang dapat menanamkan nilai kesetaraan dan penghargaan terhadap keberagaman sejak usia dini.
“Ketika guru memahami bahasa isyarat dan perspektif inklusi, maka anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan yang menghargai perbedaan dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua,” katanya.
Selain workshop, kegiatan ini juga menghadirkan Pop-Up Roemah Difabel yang menampilkan berbagai produk karya penyandang disabilitas melalui RD Shop. Kehadiran ruang kreatif tersebut diharapkan dapat memperluas dukungan masyarakat terhadap kemandirian ekonomi penyandang disabilitas.
Penyelenggara menegaskan bahwa inklusi tidak cukup diwujudkan melalui kebijakan semata, melainkan harus dibangun melalui interaksi sehari-hari, termasuk kemampuan berkomunikasi dengan kelompok yang selama ini masih menghadapi berbagai hambatan akses.
Dengan kuota peserta yang terbatas, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini diharapkan menjadi indikator meningkatnya kesadaran publik akan pentingnya mewujudkan lingkungan yang ramah disabilitas.
Melalui “Ruang Isyarat 2026”, Yayasan Roemah Difabel Indonesia berharap semakin banyak warga Semarang dan sekitarnya yang memahami bahwa setiap bahasa yang dipelajari bukan hanya menambah keterampilan baru, tetapi juga membuka jalan menuju masyarakat yang lebih setara, saling memahami, dan tidak meninggalkan siapa pun di belakang.(Christian Saputro)




