Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Jurbalis
Sebelas Tahun Semarang Sketchwalk Merawat Ingatan Kota
Di atas selembar kertas putih, sebuah jendela tua masih terbuka.
Catnya telah mengelupas. Kusennya mulai rapuh. Di dunia nyata, mungkin bangunan tempat jendela itu menempel sudah direnovasi, dijual, atau bahkan lenyap. Namun di dalam sketsa, ia tetap tinggal. Diam. Utuh. Menunggu seseorang mengingatnya kembali.
Begitulah cara sebuah kota bertahan dari lupa.
Sore itu, di Tan Artspace, Jalan Papandayan, Semarang, puluhan gambar memenuhi dinding galeri. Tidak ada warna mencolok. Tidak ada efek digital yang memikat mata. Hanya garis-garis tinta, arsiran, cahaya, dan bayangan.
Namun justru dari kesederhanaan itu, Semarang terasa hadir lebih dekat.
Kota itu muncul melalui atap-atap tua yang menua bersama musim. Melalui lorong pasar yang sempit dan padat. Melalui deretan bangunan kolonial yang masih berdiri sambil menyimpan cerita panjang tentang pelabuhan, perdagangan, dan perjumpaan berbagai bangsa.
Pameran Hitam Putih Nafas Kota menjadi penanda perjalanan sebelas tahun Komunitas Semarang Sketchwalk. Sebuah komunitas yang lahir dari kegelisahan sederhana: bagaimana cara menyimpan wajah kota yang terus berubah.
Sebab Semarang tidak pernah benar-benar diam.
Setiap tahun ada bangunan yang hilang. Ada ruang yang berganti fungsi. Ada kampung yang berubah wajah. Ada jalan yang semakin ramai dan sudut-sudut yang perlahan menghilang dari ingatan bersama.
Perubahan adalah keniscayaan kota. Tetapi kehilangan ingatan bukanlah takdir yang harus diterima.
Karena itulah, sejak 2015, para anggota Semarang Sketchwalk memilih cara yang hampir terasa kuno di zaman serba cepat ini. Mereka datang ke lokasi, duduk berjam-jam, membuka buku gambar, lalu mulai mengamati.
Mereka tidak memburu momen.
Mereka menunggu momen.
Perbedaan yang tampak sederhana, tetapi menentukan segalanya.
Di tengah budaya visual yang dipenuhi kamera ponsel dan unggahan instan, para sketser memilih memperlambat waktu. Mereka mempelajari garis atap, arah cahaya, tekstur tembok, hingga lalu-lalang manusia yang sebentar muncul lalu hilang.
Ketika tangan bergerak mengikuti bentuk bangunan, sesungguhnya mereka sedang melakukan sesuatu yang lebih dalam daripada menggambar. Mereka sedang bernegosiasi dengan waktu.
Satu garis menjadi penanda ruang.
Satu arsiran menjadi penanda cahaya.
Satu halaman menjadi penanda bahwa tempat itu pernah ada.
Ketua Semarang Sketchwalk, Ratna Sawitri, menyebut karya-karya tersebut sebagai arsip visual perjalanan kota. Sebuah dokumentasi yang tidak hanya merekam bentuk fisik, tetapi juga suasana dan kehidupan yang berlangsung di dalamnya.
Arsip itu kini tersusun di ruang pamer.
Ada pasar yang hiruk-pikuk tetapi terasa sunyi ketika dibingkai dalam tinta hitam. Ada bangunan tua yang tampak lebih kokoh dibandingkan kenyataannya. Ada sudut kampung yang selama ini luput dari perhatian, namun justru menyimpan denyut kehidupan paling nyata.
Semarang dalam pameran ini tidak tampil sebagai kota besar yang gagah dan monumental.
Ia hadir sebagai fragmen.
Sebagai potongan-potongan kenangan.
Sebagai serpihan waktu yang dikumpulkan sedikit demi sedikit selama sebelas tahun.
Tema Hitam Putih Nafas Kota terasa tepat. Ketika warna dihilangkan, perhatian pengunjung dipaksa kembali kepada hal-hal mendasar: garis, bentuk, tekstur, cahaya, dan ruang.
Tanpa warna, kota menjadi lebih jujur.
Tak ada yang bisa bersembunyi.
Retak pada dinding terlihat jelas. Bayangan pohon terasa lebih panjang. Jarak antara satu bangunan dan bangunan lain menjadi lebih bermakna.
Di situlah kota menunjukkan napasnya.
Bukan melalui gedung tertinggi atau proyek terbesar, melainkan melalui detail-detail kecil yang sering luput dari perhatian.
Sketser asal Yogyakarta, Nanang Wijaya, yang turut berpameran, menyebut setiap gambar sebagai cerita. Bukan sekadar rekaman bentuk, melainkan rekaman kehidupan yang berlangsung di dalam ruang tersebut.
Pernyataan itu terasa nyata ketika pengunjung berhenti cukup lama di depan sebuah sketsa.
Mereka tidak sedang melihat gambar.
Mereka sedang mengenang.
Barangkali mereka pernah berjalan di jalan yang sama. Pernah berbelanja di pasar yang sama. Pernah berteduh di bawah bangunan yang sama.
Sketsa-sketsa itu bekerja seperti mesin waktu yang sederhana.
Ia tidak membawa orang ke masa lalu.
Ia hanya mengingatkan bahwa masa lalu masih ada.
Di luar galeri, Semarang terus bergerak. Beton terus dicor. Gedung baru terus tumbuh. Jalan-jalan terus berubah.
Tetapi di dalam ruang pamer, kota itu berhenti sejenak.
Memberi kesempatan kepada warganya untuk melihat kembali apa yang selama ini mereka lewati tanpa sempat memperhatikannya.
Dan mungkin, itulah fungsi paling penting dari seni yang dikerjakan Semarang Sketchwalk selama sebelas tahun terakhir.
Bukan sekadar menggambar kota.
Melainkan menjaga agar kota tidak kehilangan ingatannya sendiri.(*)




