Ketua Semarang Sketchwalk Ratna Sawitri menyerahkan potongan tumpeng kepada Kabid Pemasaran Pariwisata Disbudpar Kota Semarang Hanry Sugihastomo yang dalam pembukaan pameran Hitam Putih dalam rangka.HUT Ke-11 SSW di Tan Artspace, Semarang, Minggu,(21/6) (Christian Saputro)[/caption]SEMARANG — Di tengah laju pembangunan yang terus mengubah wajah perkotaan, Komunitas Semarang Sketchwalk (SSW) memilih cara yang sederhana namun bermakna untuk menjaga ingatan kolektif: menggambar. Melalui pameran bertajuk Hitam Putih Nafas Kota, komunitas ini merayakan 11 tahun perjalanan mereka mendokumentasikan Kota Semarang melalui sketsa.
Pameran yang berlangsung di Tan Artspace, Semarang, pada 21 Juni hingga 3 Juli 2026 itu menampilkan karya 32 sketser yang selama lebih dari satu dekade merekam berbagai sudut kota, mulai dari bangunan bersejarah, kawasan heritage, pasar tradisional, kampung kota, hingga ruang-ruang publik yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pameran dibuka oleh Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Hanry Sugihastomo, S.Sos., M.M. Dalam sambutannya, Hanry menilai karya-karya Semarang Sketchwalk tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga menjadi arsip visual yang penting bagi perjalanan sebuah kota.
“Sketsa menjadi cara yang unik untuk merekam kota. Yang terekam bukan hanya bangunan atau lanskap, tetapi juga suasana, aktivitas masyarakat, dan memori kolektif yang membentuk identitas Semarang,” ujarnya.
Menurut Hanry, dokumentasi visual yang dilakukan para sketser membantu menjaga jejak sejarah dan karakter Kota Semarang di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat. Ia juga menilai keberadaan komunitas tersebut turut mendukung pelestarian warisan budaya sekaligus memperkuat promosi wisata heritage kota.
Ketua Semarang Sketchwalk, Ratna Sawitri, mengatakan komunitas yang berdiri pada 2015 itu sejak awal memiliki semangat untuk mendokumentasikan perubahan wajah Semarang melalui kegiatan urban sketching atau menggambar langsung di lokasi.
“Selama sebelas tahun kami konsisten mendokumentasikan perubahan wajah Kota Semarang. Karya-karya ini menjadi arsip visual yang menyimpan jejak perkembangan kota dari masa ke masa,” kata Ratna.
Ia menjelaskan, sketsa lapangan memiliki keunikan karena tidak hanya merekam bentuk fisik sebuah bangunan atau ruang kota, tetapi juga suasana, aktivitas sosial, dan dinamika kehidupan yang berlangsung di dalamnya. Setiap karya menjadi catatan visual yang merekam momen tertentu yang mungkin telah berubah atau bahkan hilang seiring waktu.
Tema Hitam Putih Nafas Kota dipilih untuk menonjolkan kekuatan unsur-unsur dasar seni rupa seperti garis, tekstur, cahaya, dan bayangan. Tanpa kehadiran warna, perhatian pengunjung diarahkan pada karakter bangunan, detail arsitektur, serta ritme ruang kota yang selama ini membentuk identitas Semarang.
Lebih dari sekadar pameran seni, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana sketsa dapat berfungsi sebagai dokumentasi budaya. Di tengah transformasi perkotaan yang berlangsung cepat, karya-karya para anggota Semarang Sketchwalk menjadi catatan alternatif yang menyimpan memori kolektif masyarakat mengenai perubahan lanskap kota.
Selama sebelas tahun terakhir, Semarang Sketchwalk juga aktif menjalin kolaborasi dengan komunitas pelestari heritage, akademisi, pemerintah daerah, dan sektor swasta melalui berbagai program edukasi, lokakarya, pameran, serta dokumentasi cagar budaya.
Mewakili peserta pameran, sketser asal Yogyakarta yang juga anggota Semarang Sketchwalk, Nanang Wijaya, mengatakan komunitas tersebut telah berkembang menjadi ruang belajar sekaligus ruang persahabatan bagi para pencinta sketsa dari berbagai daerah.
“Setiap sketsa memiliki cerita. Ketika kami menggambar bangunan tua, pasar, atau sudut kampung, yang direkam bukan hanya bentuk fisiknya, tetapi juga suasana dan kehidupan yang ada di dalamnya. Karena itu, sketsa menjadi cara yang sangat personal untuk mengabadikan memori sebuah tempat,” ujarnya.
Nanang menilai konsistensi Semarang Sketchwalk selama lebih dari satu dekade merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Di tengah dominasi teknologi digital dan budaya visual yang serba instan, komunitas ini tetap mempertahankan tradisi menggambar langsung di lapangan sebagai bentuk dokumentasi yang autentik.
Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang tertarik mengenal urban sketching sebagai medium untuk memahami sejarah, arsitektur, dan identitas kota.
“Pameran ini bukan hanya tentang memamerkan gambar, tetapi juga tentang merawat ingatan. Melalui sketsa, kita diajak berhenti sejenak, mengamati, lalu menghargai ruang-ruang kota yang sering kita lewati setiap hari,” katanya.
Selama sebelas tahun, Semarang Sketchwalk tidak sekadar menggambar kota. Melalui ribuan garis yang ditorehkan di atas kertas, mereka merekam perjalanan Semarang, menjaga memori kolektif warganya, dan menghadirkan arsip visual yang kelak akan menjadi saksi perubahan sebuah kota yang terus bertumbuh. (Christian Saputro)




