Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro
OSLO, NORWEGIA — Di sebuah trotoar kayu yang menghadap fjord Oslo pada akhir abad ke-19, Edvard Munch merasa dadanya sesak. Ia baru saja selesai berjalan-jalan bersama dua teman ketika langit di cakrawala barat tiba-tiba berubah menjadi merah menyala, seolah-olah darah segar ditumpahkan di atas kanvas biru tua.
“Awan-awan itu seperti api dan darah,” tulis Munch dalam catatan hariannya. “Kota dan fjord membiru-hitam… Teman-temanku terus berjalan, sementara aku berdiri gemetar karena kecemasan.”
Hasil dari kegelisahan itu adalah The Scream (1893), salah satu lukisan paling ikonik dalam sejarah seni modern. Selama lebih dari seabad, kritikus mengira latar belakang langit yang bergelombang dan kemerahan itu hanyalah proyeksi psikologis Munch tentang kecemasan eksistensial manusia modern.
Namun sains modern membuktikan hal lain: Munch tidak sedang berhalusinasi. Ia sedang melukiskan laporan cuaca global.
Langit yang ia lihat adalah sisa-sisa amarah Gunung Krakatau, sebuah pulau vulkanik kecil di Selat Sunda, Indonesia, yang meletus dahsyat pada 27 Agustus 1883. Letusan itu bukan sekadar bencana lokal; ia adalah peristiwa geologis yang mengubah iklim bumi dan estetika seni dunia.
Debu yang Menutupi Matahari
Ketika Krakatau meledak, suaranya terdengar hingga 4.800 kilometer jauhnya. Ledakan itu memuntahkan sekitar 20 kilometer kubik material—batu, abu, dan gas—ke atmosfer. Namun, yang paling berbahaya bukanlah batu-batu raksasa yang menghujani Jawa dan Sumatera, melainkan partikel halus sulfur dioksida (SO2) yang terlempar hingga ke stratosfer, lapisan atmosfer setinggi 15 hingga 50 kilometer di atas permukaan bumi.
Di ketinggian itu, partikel sulfur bereaksi dengan uap air membentuk aerosol sulfat. Berbeda dengan abu vulkanik biasa yang cepat jatuh oleh gravitasi, aerosol ini sangat ringan dan dapat bertahan di stratosfer selama bertahun-tahun, menyebar mengikuti arus angin global.
Partikel-partikel mikroskopis ini bertindak seperti cermin raksasa. Mereka memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa sebelum sempat mencapai permukaan bumi. Akibatnya, suhu rata-rata global turun drastis. Data meteorologi mencatat penurunan suhu hingga 1,2 derajat Celsius dalam tahun-tahun berikutnya. Fenomena ini dikenal sebagai “musim dingin vulkanik”.
Di Eropa, dampaknya terasa jelas. Musim panas 1884 menjadi salah satu yang terdingin dalam catatan sejarah. Panen gagal, harga pangan melonjak, dan kelaparan mengancam. Sementara di bawah, manusia menggigil kedinginan, di atas kepala mereka, langit justru terbakar dalam keindahan yang mengerikan.
Senja Apokaliptik
Bagi para seniman dan warga biasa di Eropa dan Amerika Utara, letusan Krakatau menawarkan tontonan visual yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Partikel debu halus di stratosfer menyaring cahaya matahari dengan cara yang unik.
Hamburan Rayleigh, fenomena fisika di mana partikel kecil menyebarkan cahaya dengan panjang gelombang pendek (biru dan hijau), membuat langit siang hari tampak lebih pucat. Namun saat senja, ketika matahari berada di posisi rendah, cahayanya harus menempuh jarak lebih jauh melalui atmosfer. Cahaya biru dan hijau terserap habis oleh lapisan aerosol tebal, hanya menyisakan cahaya dengan panjang gelombang panjang: merah, jingga, dan ungu.
Hasilnya? Senja yang berlangsung berjam-jam setelah matahari terbenam. Langit tidak lagi hitam pekat, melainkan berpendar dalam warna merah darah, ungu tua, dan oranye menyala. Fenomena ini dilaporkan terjadi secara konsisten dari November 1883 hingga Februari 1884.
Koran-koran di London, New York, dan Paris dipenuhi laporan tentang “senja aneh” dan “matahari hijau”. Penyair Alfred Tennyson bahkan menulis puisi “St. Simeon Stylites” yang menggambarkan langit “berwarna seperti luka yang meradang.”
Krakatau dalam Bingkai Seni
Efek visual ini tidak hanya memengaruhi Munch. Sejarawan seni menemukan bahwa banyak pelukis era fin de siècle (akhir abad ke-19) mulai menggunakan palet warna yang lebih dramatis dan tidak alami. Langit dalam lukisan-lukisan William Ascroft di Inggris, misalnya, menunjukkan gradasi merah dan ungu yang persis sesuai dengan deskripsi ilmiah tentang hamburan cahaya pasca-Krakatau.
Sebutan “Seribu Satu Legenda Krakatau” mungkin hiperbola, namun jejak letusan itu memang tersebar di berbagai karya seni. Bagi para seniman, langit yang berubah itu adalah metafora sempurna untuk zaman yang penuh ketidakpastian. Dunia lama sedang runtuh, digantikan oleh modernitas yang dingin dan asing—persis seperti suhu bumi yang turun akibat ulah alam.
Munch, dengan kepekaannya yang tinggi, menangkap dualitas ini. Dalam The Scream, sosok utama menutup telinganya, mencoba membungkam jeritan alam. Latar belakangnya yang bergelombang dan merah menyala bukan sekadar dekorasi; itu adalah representasi fisik dari dunia yang kehilangan keseimbangan.
Warisan yang Tak Terlihat
Hari ini, ketika kita melihat The Scream di museum, kita jarang menghubungkan warna merah di latar belakang dengan sebuah pulau di Indonesia yang kini telah tumbuh kembali menjadi anak-anak gunung baru.
Namun, letusan Krakatau mengajarkan kita satu hal penting: keterhubungan. Apa yang terjadi di dasar Samudra Hindia bisa mengubah suhu di Norwegia dan menginspirasi seni di Eropa. Debu vulkanik tidak mengenal batas negara; ia adalah warga global yang memaksa umat manusia untuk berbagi nasib—baik dalam bentuk hawa dingin yang menusuk tulang maupun senja indah yang membakar retina.
Krakatau mungkin telah tenang kembali. Namun, setiap kali kita melihat langit senja yang unusually merah, atau merasakan anomali cuaca yang ekstrem, kita diingatkan bahwa bumi masih menyimpan energi purba yang mampu membungkam kesombongan peradaban manusia.
Dan di suatu tempat, di balik kanvas tua yang retak, Edvard Munch masih berdiri di trotoar Oslo, gemetar menatap langit yang berdarah, menyadari bahwa alam selalu memiliki cara sendiri untuk berteriak. (*)




