Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Malam turun perlahan di Gedung Batu.
Lampu-lampu merah di pelataran Klenteng Sam Poo Kong menyala seperti lentera yang menggantung di antara masa lalu dan masa kini. Udara Semarang yang lembap membawa aroma dupa tipis bercampur suara riuh anak-anak yang berlarian di sela kerumunan penonton.
Di hadapan bangunan merah yang telah berabad-abad menjadi penanda sejarah itu, ratusan pasang mata menunggu sebuah pelayaran.
Bukan pelayaran kapal.
Melainkan pelayaran ingatan.
Tepat pukul 19.20 WIB, denting musik mulai terdengar. Dari sisi panggung, sekelompok anak muncul mengenakan kostum warna-warni. Mereka bukan manusia, setidaknya untuk malam itu. Mereka menjelma ombak, bintang laut, kuda laut, udang, kepiting, dan aneka ikan yang bergerak lincah mengikuti irama.
Laut dibangun bukan dari air, melainkan dari tubuh-tubuh kecil yang menari.
Laut itulah yang dahulu mengantar armada besar Dinasti Ming berlayar ribuan kilometer melintasi samudra. Laut yang sama yang membawa seorang laksamana dari Tiongkok menuju pesisir Jawa pada awal abad ke-15.
Namanya Cheng Ho.
Tokoh yang malam itu hidup kembali melalui pertunjukan “The Legend of Cheng Ho: Ming Dynasty Expeditions in Central Java”, bagian dari Greget Festival Tari #67 yang dipersembahkan Sanggar Greget Semarang.
Di dalam buku-buku sejarah, Cheng Ho dikenal sebagai pelaut, diplomat, dan utusan kekaisaran.
Tetapi di panggung Sam Poo Kong, ia hadir sebagai simbol yang lebih sederhana: seorang tamu.
Seorang musafir yang datang membawa rasa ingin tahu, bukan penaklukan.
Tokoh itu diperankan oleh Canadian Mahendra. Dengan kostum kebesaran laksamana, ia berjalan di antara para penari yang menggambarkan masyarakat Jawa, Arab, India, dan Tionghoa.
Tidak ada adegan peperangan.
Tidak ada kisah perebutan wilayah.
Yang hadir justru perjumpaan.
Saling menyapa.
Saling memahami.
Saling belajar.
Barangkali di situlah letak relevansi Cheng Ho hari ini. Ketika dunia semakin mudah terhubung, manusia justru kerap semakin sulit memahami satu sama lain.
Pertunjukan yang disutradarai Canadian Mahendra, dengan koreografi Sangghita Anjali dan komposisi musik Nur Pamurbo Setyoko, tidak berusaha menjadi pelajaran sejarah yang kaku.
Ia memilih bahasa yang lebih cair: gerak tubuh.
Para penari kecil bergerak seperti ombak yang datang dan pergi. Kelompok nelayan menebar jala imajiner. Penari lampion berputar membawa warna merah keemasan. Sementara gerak-gerak pedang memberi ritme yang mengingatkan pada kebudayaan Tionghoa klasik.
Di sela-sela itu terdengar gamelan Jawa.
Lalu tembang.
Kemudian musik pengiring yang menjembatani keduanya.
Tak ada yang saling mengalahkan.
Semua berjalan berdampingan.
Persis seperti kota pelabuhan yang menjadi ruang bertemu berbagai bangsa selama berabad-abad.
Semarang pernah mengalami itu.
Dan malam itu, Semarang seperti mengingat kembali dirinya sendiri.
Salah satu simbol paling menarik muncul melalui kipas yang dikenakan para penari.
Ketika tertutup, kipas itu melambangkan kesatuan yang kuat dan kokoh.
Ketika dibuka, ia berubah menjadi lambang kerja sama dan gotong royong.
Simbol yang sederhana.
Namun justru karena kesederhanaannya, ia mudah dipahami.
Di tengah dunia yang sering sibuk memperdebatkan perbedaan, para penari anak-anak itu mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar: bahwa kebersamaan tidak selalu harus seragam.
Yang membuat pertunjukan ini terasa istimewa bukan semata kualitas artistiknya.
Melainkan siapa yang menampilkannya.
Mayoritas penari adalah anak-anak dan remaja.
Mereka lahir enam abad setelah Cheng Ho meninggalkan dunia. Mereka tumbuh dalam era gawai, media sosial, dan kecerdasan buatan.
Namun malam itu mereka menari untuk seorang tokoh dari abad ke-15.
Mereka mempelajari sejarah bukan dari buku pelajaran yang tebal, melainkan dari gerak tubuh, musik, dan panggung.
Di tangan mereka, sejarah tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh dan berdebu.
Sejarah menjadi hidup.
Bernafas.
Bergerak.
Menari.
Di penghujung pertunjukan, tepuk tangan panjang bergema di pelataran Sam Poo Kong.
Sebagian penonton mengangkat telepon genggam untuk merekam momen terakhir. Sebagian lain hanya duduk memandangi panggung yang perlahan meredup.
Di belakang mereka berdiri bangunan tua yang selama berabad-abad menjadi saksi perjumpaan budaya.
Malam itu, Sam Poo Kong tidak sekadar menjadi lokasi pertunjukan.
Ia menjadi panggung ingatan.
Tempat sejarah, seni, dan harapan bertemu dalam satu tarikan napas.
Dan ketika para penari meninggalkan panggung, Cheng Ho seolah ikut beranjak pergi.
Namun seperti setiap legenda yang baik, ia tidak benar-benar menghilang.
Ia tinggal di dalam cerita.
Di dalam kota.
Di dalam ingatan mereka yang malam itu menyaksikan seorang laksamana kembali berlayar dari Gedung Batu—bukan dengan kapal, melainkan dengan tarian. (*)




