Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika kapal Prins van Oranje bergerak meninggalkan Eropa menuju Timur pada awal 1876. Di geladaknya berdiri seorang pemuda berambut pirang dengan wajah yang tampak lebih tua daripada usianya. Matanya memandang laut tanpa tujuan. Di belakangnya, benua yang pernah memujanya perlahan menghilang di cakrawala.
Namanya Arthur Rimbaud.
Usianya baru 21 tahun. Namun dunia sastra Prancis sudah menganggapnya keajaiban. Ia menulis puisi-puisi yang membuat generasi sesudahnya tercengang. Ia mengguncang bahasa, membelokkan makna, dan memperlakukan kata-kata seperti bahan peledak. Banyak orang bahkan percaya bahwa sastra modern lahir dari tangan anak muda yang belum sempat menua itu.
Tetapi pagi itu, Rimbaud tidak membawa manuskrip.
Ia membawa kontrak militer.
Barangkali tidak ada keputusan yang lebih aneh dalam sejarah sastra selain langkah yang diambilnya ketika mendaftar sebagai serdadu Tentara Kolonial Hindia Belanda. Penyair paling liar di Eropa memilih mengenakan seragam. Penulis yang mengutuk keteraturan justru masuk ke institusi yang dibangun di atas disiplin dan kepatuhan.
Mengapa?
Sampai hari ini, tak ada jawaban yang benar-benar memuaskan.
Sebagian peneliti menyebut kemiskinan sebagai alasan. Sebagian lagi melihatnya sebagai bentuk pemberontakan terakhir terhadap kehidupan yang telah membuatnya muak. Yang lain percaya bahwa Rimbaud memang tidak pernah mencari rumah. Ia hanya mencari jalan berikutnya.
Dan jalan itu, secara tak terduga, membawanya ke Jawa.
—
Batavia menyambutnya dengan panas tropis dan wajah kolonial yang penuh wibawa.
Kota itu adalah jantung kekuasaan Hindia Belanda. Gedung-gedung pemerintahan berdiri tegak dengan arsitektur Eropa yang megah. Di pelabuhan, kapal-kapal dari berbagai negeri bersandar membawa rempah-rempah, kopi, gula, tekstil, dan manusia.
Bagi seorang pemuda dari Charleville, kota kecil di utara Prancis yang dingin dan muram, Batavia mungkin tampak seperti panggung raksasa tempat dunia berkumpul.
Namun kehidupan yang menantinya jauh dari petualangan romantis.
Dari pelabuhan, para rekrutan dibawa ke Meester Cornelis—kini Jatinegara—untuk diperiksa dan ditempatkan. Di sana, tubuh-tubuh muda ditimbang bukan berdasarkan impian, melainkan kegunaannya bagi perang dan kolonialisme.
Rimbaud bukan calon tentara ideal.
Tubuhnya kurus. Ia tidak memiliki latar belakang militer. Tidak ada catatan yang menunjukkan bakatnya dalam baris-berbaris atau menembak. Yang ia miliki hanyalah kepala yang dipenuhi puisi dan kegelisahan.
Tetapi tentara kolonial selalu membutuhkan orang.
Ia diterima.
Tak lama kemudian, ia dikirim ke Jawa Tengah.
—
Perjalanan menuju tempat tugasnya mempertemukannya dengan sebuah kota pelabuhan yang sedang tumbuh menjadi simpul dunia: Semarang.
Pada paruh kedua abad ke-19, Semarang adalah salah satu kota paling kosmopolitan di Nusantara. Kapal-kapal dari Eropa, India, Tiongkok, dan berbagai wilayah kepulauan datang silih berganti. Jalan-jalan lebar membentang di antara kawasan perdagangan yang ramai. Di sudut-sudut kota terdengar berbagai bahasa bercampur menjadi satu bunyi yang asing sekaligus memikat.
Di sini orang Jawa berjalan berdampingan dengan pedagang Arab, saudagar Tionghoa, pejabat Belanda, tentara Eropa, dan para pelaut yang datang dari negeri-negeri jauh.
Barangkali untuk pertama kalinya dalam hidup, Rimbaud melihat sebuah dunia yang benar-benar berbeda dari Eropa.
Sebuah dunia yang tidak ia kenal.
Sebuah dunia yang kemudian akan menyembunyikannya.
Dari Semarang ia melanjutkan perjalanan menuju Kedungjati dan Tuntang dengan kereta api. Jalur rel yang ketika itu masih relatif baru membelah hamparan sawah, kebun, dan perbukitan Jawa.
Tujuannya adalah Salatiga.
Kota garnisun di kaki Gunung Merbabu itu terkenal karena udaranya yang sejuk. Pemerintah kolonial menjadikannya salah satu pusat militer penting di Jawa Tengah.
Di sanalah Rimbaud ditempatkan dalam Resimen Infanteri Pertama.
Hari-harinya kini diisi latihan, inspeksi, apel, dan perintah dalam bahasa Belanda yang asing di telinganya.
Tidak ada lagi kafe-kafe Paris.
Tidak ada lagi percakapan tentang puisi hingga dini hari.
Tidak ada lagi dunia sastra.
Yang tersisa hanyalah rutinitas.
Dan rutinitas adalah sesuatu yang selalu dibenci Rimbaud.
—
Lalu datanglah pagi itu.
15 Agustus 1876.
Seorang petugas memeriksa daftar hadir.
Nama Arthur Rimbaud tidak ada.
Ia menghilang.
Begitu saja.
Arsip militer Belanda mencatat peristiwa itu dengan bahasa yang dingin dan birokratis. Tidak ada drama. Tidak ada penjelasan panjang. Hanya sebuah laporan bahwa seorang prajurit telah meninggalkan kesatuannya.
Tetapi dari kalimat pendek itulah lahir salah satu misteri paling memikat dalam sejarah sastra dunia.
Ke mana ia pergi?
Bagaimana ia melarikan diri?
Bagaimana seorang pemuda asing yang baru beberapa bulan berada di Jawa dapat menghilang tanpa jejak?
Tak seorang pun tahu.
Yang diketahui hanyalah sistem administrasi militer saat itu memberi jeda sebelum pengejaran resmi dilakukan. Waktu yang tampaknya singkat itu cukup bagi Rimbaud untuk mengubah hidupnya.
Ia meninggalkan Salatiga.
Dan berjalan menuju Semarang.
—
Empat puluh delapan kilometer.
Hari ini jarak itu terasa biasa. Tetapi pada 1876, perjalanan tersebut adalah petualangan yang penuh risiko.
Jalan-jalan belum seperti sekarang. Hutan dan kebun masih mendominasi sebagian lanskap. Hujan tropis bisa turun tiba-tiba. Seorang pembelot yang tertangkap dapat menghadapi hukuman berat.
Namun Rimbaud terus bergerak.
Mungkin ia berjalan melewati desa-desa Jawa yang belum pernah mendengar namanya. Mungkin ia beristirahat di warung sederhana di pinggir jalan. Mungkin ia tidur di lumbung, gudang, atau rumah-rumah singgah yang terlupakan sejarah.
Tidak ada catatan.
Tidak ada saksi.
Yang tersisa hanyalah bayangan seorang pemuda Eropa yang berusaha menghilang dari dunia yang baru saja dimasukinya.
Ketika akhirnya mencapai Semarang, ia menemukan tempat yang sempurna untuk lenyap.
Kota itu dihuni puluhan ribu orang. Pelabuhannya sibuk sepanjang tahun. Kapal datang dan pergi hampir setiap hari. Buruh, pedagang, pelaut, dan pengembara memenuhi dermaga.
Dalam keramaian seperti itu, satu orang asing tidak akan menarik perhatian terlalu lama.
Dan di sanalah jejak Arthur Rimbaud mendadak putus.
—
Sejarah berubah menjadi teka-teki.
Apa yang ia lakukan selama berada di Semarang?
Apakah ia bekerja sebagai buruh pelabuhan?
Apakah ia bergaul dengan para pelaut di kedai-kedai dekat dermaga?
Apakah seseorang membantunya?
Ataukah ia sekadar menunggu kapal pertama yang bisa membawanya pergi dari Jawa?
Tak ada arsip yang mampu menjawab.
Yang muncul kemudian hanyalah secarik petunjuk.
Setahun setelah peristiwa itu, Rimbaud menulis bahwa ia pernah bekerja selama beberapa bulan sebagai pelaut di kapal Skotlandia yang berlayar dari Jawa menuju Irlandia.
Pernyataan singkat itu memancing para peneliti menelusuri arsip pelayaran selama puluhan tahun.
Mereka menemukan satu nama yang paling mungkin.
Wandering Chief.
Kapal pengangkut gula tersebut berangkat dari Semarang menuju Irlandia pada akhir Agustus 1876.
Tetapi misteri kembali muncul.
Nama Arthur Rimbaud tidak ada dalam daftar awak kapal.
Tidak ada dalam daftar penumpang.
Tidak ada di mana pun.
Apakah ia menggunakan identitas palsu?
Apakah ia bekerja secara ilegal?
Apakah ia menumpang diam-diam?
Sampai hari ini, tak ada jawaban yang pasti.
—
Jika memang berada di atas Wandering Chief, Rimbaud mengalami pelayaran yang nyaris seperti adegan dalam novel petualangan.
Ketika kapal melintasi Tanjung Harapan di ujung Afrika, badai besar menghantam.
Laut mengamuk selama berjam-jam.
Tiang kapal patah.
Muatan gula dibuang ke laut untuk mengurangi beban.
Para awak bertarung melawan gelombang yang bisa menelan mereka kapan saja.
Sulit membayangkan bahwa orang yang pernah menulis puisi-puisi paling revolusioner di Eropa kini bergelantungan di tengah badai samudra.
Tetapi justru itulah Rimbaud.
Ia selalu tampak lebih tertarik pada pengalaman ekstrem daripada ketenaran.
Lebih tertarik pada perjalanan daripada tujuan.
Lebih tertarik pada kehidupan daripada sastra itu sendiri.
—
Pada Desember 1876, kapal itu tiba di Irlandia.
Tak lama kemudian, kabar mengejutkan sampai ke Prancis.
Arthur Rimbaud pulang.
Ia muncul kembali di Charleville setelah berbulan-bulan menghilang tanpa jejak.
Teman-temannya terkejut.
Seolah seorang manusia baru saja kembali dari sisi lain dunia.
Namun seperti biasa, Rimbaud tidak banyak menjelaskan.
Ia datang.
Lalu melanjutkan hidupnya.
Dan perlahan meninggalkan puisi untuk selamanya.
—
Hingga kini, jejak Rimbaud di Jawa tetap menggoda imajinasi.
Ia tidak menulis mahakarya di Salatiga.
Ia tidak menghasilkan puisi tentang Semarang.
Ia tidak meninggalkan catatan perjalanan yang rinci.
Namun justru karena itulah kisah ini terasa begitu memikat.
Seorang penyair terbesar abad ke-19 pernah menjadi serdadu kolonial di Jawa. Ia pernah berjalan di jalan-jalan yang kini dilalui ribuan kendaraan setiap hari. Ia pernah melihat Gunung Merbabu di kejauhan. Ia pernah menghilang di keramaian pelabuhan Semarang.
Dan selama beberapa bulan yang singkat itu, Jawa menjadi panggung bagi babak paling misterius dalam hidupnya.
Mungkin pada akhirnya, pelarian itu bukan sekadar usaha meloloskan diri dari tentara kolonial.
Mungkin Rimbaud sedang melarikan diri dari sesuatu yang lebih besar: ketenaran, masa lalu, bahkan dirinya sendiri.
Tetapi seperti ombak yang menghapus jejak di pasir, waktu menyimpan sebagian jawabannya rapat-rapat.
Yang tersisa kini hanyalah fragmen-fragmen arsip, dugaan para peneliti, dan bayangan seorang pemuda yang berjalan sendirian menuruni lereng Salatiga menuju Semarang, menuju laut, menuju dunia yang tak pernah berhenti ia kejar.
Barangkali di situlah letak pesona Arthur Rimbaud.
Bukan pada puisi yang ia tulis.
Melainkan pada kehidupan yang ia jalani seolah sebuah puisi yang tak pernah selesai. (Christian Saputro)




