SOLO — Festival Payung Indonesia (FESPIN) 2026 kembali hadir sebagai ruang perjumpaan seni, budaya, dan tradisi dengan mengangkat tema “Catra Padi”. Festival yang didukung program Dana Indonesiana dan LPDP ini akan berlangsung pada 4–6 September 2026 di kawasan Balekambang, Solo, Jawa Tengah.
Mengangkat padi sebagai tema utama, FESPIN 2026 mengajak seniman, perajin, akademisi, dan masyarakat untuk menelusuri perjalanan historis salah satu tanaman yang kini menjadi identitas pangan bangsa Indonesia.
Meski nasi telah menjadi makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia, sejarah mencatat bahwa padi bukan tanaman asli Nusantara. Sebelum mengenal padi, masyarakat kepulauan Indonesia mengonsumsi berbagai jenis umbi-umbian dan serealia lokal seperti jewawut. Padi diperkirakan masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dari wilayah China dan India sekitar 1.500 tahun sebelum Masehi.
Jejak budidaya padi di Indonesia dapat ditemukan melalui berbagai bukti arkeologis, antara lain relief pertanian sawah dan penggambaran hama tikus pada situs Candi Batujaya di Karawang yang berasal dari abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, serta temuan sekam padi pada situs perapian di kawasan Goa Maros, Sulawesi Selatan.
Namun demikian, nasi baru benar-benar menjadi pangan pokok nasional setelah masa kemerdekaan melalui berbagai kebijakan pembangunan pertanian, termasuk program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) pada periode 1969–1974.
Direktur Festival Payung Indonesia, Sulam Wenntar, menjelaskan bahwa tema “Catra Padi” dipilih karena padi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan, tetapi juga membentuk lanskap budaya masyarakat Asia, termasuk Indonesia.
“Padi telah melahirkan berbagai mitologi, kesenian, ritual, hingga sistem pengetahuan tradisional. Di Jawa, Bali, Lombok, hingga Sulawesi dikenal figur Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan kehidupan. Di Sunda ada Nyi Pohaci, sementara masyarakat Bugis mengenal Sangiang Serri. Tradisi serupa juga ditemukan di negara-negara Asia lainnya,” ujarnya.
Dalam berbagai kebudayaan Asia, padi menjadi sumber inspirasi lahirnya tari tradisional, musik rakyat, ritual tanam dan panen, hingga sistem kalender pertanian seperti Pranata Mangsa di Jawa. Tema “Catra Padi” diharapkan mampu membuka ruang eksplorasi kreatif terhadap relasi antara manusia, pangan, alam, dan kebudayaan.
Melalui tema tersebut, FESPIN 2026 juga ingin mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya ketahanan pangan nasional di tengah berbagai tantangan perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan dinamika pertanian masa kini.
Selain menghadirkan pertunjukan seni, instalasi, dan pameran payung tradisional dari berbagai daerah, festival ini juga membuka Lomba dan Pameran Payung Sulam yang dapat diikuti masyarakat umum.
Pendaftaran lomba dibuka mulai 8 Juni hingga 31 Juli 2026, sedangkan batas akhir penerimaan karya pada 15 Agustus 2026. Peserta diminta mengirimkan karya sulam berbentuk kain berdiameter 70 sentimeter yang siap dipasang pada rangka payung.
Panitia berharap kompetisi ini dapat menjadi wadah bagi para perajin, seniman tekstil, dan komunitas kreatif untuk menerjemahkan gagasan tentang padi, pangan, dan kebudayaan Nusantara ke dalam medium seni payung yang unik dan khas.
Festival Payung Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu festival budaya terkemuka yang berhasil mengangkat payung sebagai medium ekspresi seni kontemporer sekaligus sarana pelestarian tradisi. Dengan tema “Catra Padi”, penyelenggara berharap festival tahun ini tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat tentang pentingnya pangan sebagai fondasi peradaban.
Informasi dan pendaftaran Lomba Payung Sulam: Annie — 0812-2077-339
Festival Payung Indonesia 2026 4–6 September 2026
Balekambang, Solo, Jawa Tengah
Tema: Catra Padi. (Christian Saputro)




