SEMARANG — Di bawah atap tinggi Gedung Rasa Dharma, Perkumpulan Boen Hian Tong, Jalan Gang Pinggir, Semarang, Sabtu (25/7) pagi terasa berbeda. Udara tidak hanya dipenuhi aroma dupa yang mengepul halus dari altar, tetapi juga gelak tawa anak-anak yang renyah dan polos. Tangan-tangan mungil dari berbagai latar belakang saling bertaut, membentuk sebuah lingkaran besar—simbol persaudaraan yang tak terputus oleh sekat agama, suku, atau kondisi fisik.
Momen ini menjadi inti dari peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang digelar Boen Hian Tong sebagai bagian dari rangkaian perayaan 150 tahun berdirinya organisasi sosial tertua di Semarang tersebut. Bukan sekadar seremoni formal, acara ini dirancang sebagai ruang inklusif tempat nilai-nilai kemanusiaan ditanamkan sejak dini.
Hadir dalam kesempatan itu anak-anak dari Komunitas Harapan, sahabat-sahabat difabel dari Komunitas Kinasih, serta para pegiat lintas agama dan relawan sosial. Mereka berbaur tanpa jarak. Bersama-sama, mereka mengikuti ritual persembahan cokelat dan bunga matahari di altar, berdoa bersama di hadapan Sinci Anak (Dewa Pelindung Anak), hingga terlibat dalam dialog interaktif, permainan edukatif, dan kuis yang memicu keceriaan.
Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim, menekankan bahwa peringatan ini adalah pengingat kolektif. Setiap anak, tanpa pengecualian, berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih, dan bebas dari bayang-bayang diskriminasi.
“Melalui peringatan Hari Anak Nasional ini, kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga anak-anak. Mereka berhak tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta, tanpa diskriminasi, sehingga kelak menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama,” ujar Harjanto dengan nada tegas namun hangat.
Baginya, kepedulian terhadap anak bukan lagi domain eksklusif keluarga. Itu adalah tanggung jawab sosial yang harus dipikul bersama. Lingkungan yang ramah anak, katanya, adalah fondasi beton bagi lahirnya generasi yang berkarakter, menghargai keberagaman, dan memiliki empati sosial yang tinggi.
Pesan serupa bergema dari Ketua Forum Perempuan Lintas Agama (Forpela), Nengah. Ia mengingatkan bahwa pendidikan karakter bermula dari keteladanan sederhana di rumah.
“Anak-anak adalah anugerah yang harus dirawat dan dididik dengan penuh cinta. Apa yang dilakukan orang tua di rumah akan menjadi teladan bagi mereka. Karena itu, mari kita ajarkan anak-anak untuk menyayangi sesama, bekerja sama, dan tidak membeda-bedakan teman,” kata Nengah.
Dalam sesi interaksi langsung, Nengah mengajak seluruh peserta—dewasa maupun anak-anak—bergandengan tangan membentuk lingkaran. “Kita semua sama. Apa pun agama, suku, dan latar belakang kita, semuanya bersaudara. Teman adalah saudara kita. Mari saling menyayangi dan hidup rukun,” serunya, disambut anggukan dan senyum para peserta.
Sumarsih, Founder Komunitas Harapan, melihat acara ini lebih dari sekadar perayaan. Bagi dia, ini adalah afirmasi hak setiap anak untuk diterima apa adanya.
“Anak-anak membutuhkan lingkungan yang menerima mereka apa adanya. Ketika mereka diajak bermain, belajar, dan berinteraksi tanpa melihat perbedaan, di situlah nilai toleransi, empati, dan kepedulian mulai tumbuh. Itulah bekal yang akan mereka bawa hingga dewasa,” ujarnya.
Senada dengan itu, Hertinawati, Founder Komunitas Kinasih, mengapresiasi langkah Boen Hian Tong yang menghadirkan ruang inklusif bagi anak-anak difabel. “Kami sangat bersyukur anak-anak dapat merasakan suasana yang hangat dan penuh kasih. Mereka diterima tanpa perbedaan, diajak bermain, belajar, dan berinteraksi bersama. Pengalaman seperti ini sangat berarti bagi tumbuh kembang mereka karena membuat anak-anak merasa dihargai, dicintai, dan menjadi bagian dari masyarakat,” katanya.
Namun, di balik keceriaan itu, ada momen hening yang menyentuh hati. Doa bersama yang dipimpin Wense Andy Gunawan menjadi jeda reflektif di tengah keramaian. Di hadapan Sinci Anak, ia mengajak seluruh peserta mengenang nama-nama yang seharusnya tidak perlu diingat karena tragedi: Christopher Butar Butar dan Engeline. Dua nama yang menjadi simbol pilu bagi setiap anak yang kehilangan hak dasarnya untuk tumbuh dengan aman.
Wense memohon kedamaian bagi arwah anak-anak korban kekerasan, kekuatan bagi mereka yang masih berjuang, serta kesadaran bagi para pelaku untuk bertobat. “Kebahagiaan, rasa aman, dan kesempatan untuk bertumbuh merupakan hak setiap anak yang harus dijaga oleh keluarga, masyarakat, dan negara,” tegasnya.
Doa itu ditutup dengan harapan agar anak-anak Indonesia bertumbuh menjadi generasi yang sehat, bahagia, berbudi luhur, dan mampu membawa bangsa menuju masa depan yang lebih beradab.
Peringatan Hari Anak Nasional di Boen Hian Tong tahun ini menegaskan satu hal: nilai kemanusiaan tidak berhenti pada slogan. Melalui permainan, doa, dialog, dan kebersamaan, organisasi yang telah mengabdi selama satu setengah abad itu terus menanamkan benih kasih sayang, toleransi, dan penghormatan terhadap martabat setiap anak. Sebab, masa depan Indonesia yang damai dimulai dari bagaimana kita merawat anak-anak hari ini. (Christian Saputro)




