Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Di antara Pulau Jawa dan Sumatra terbentang Selat Sunda, hamparan air yang setiap hari dilintasi kapal-kapal, nelayan, dan burung-burung laut. Selat itu tampak biasa. Namun, di bawah permukaannya, bumi tidak pernah benar-benar diam. Lempeng-lempeng terus bergerak, gunung api terus bernapas, sementara ingatan manusia menyimpan kisah yang jauh lebih tua daripada sejarah.
Di sanalah lahir sebuah cerita yang terus berulang dari generasi ke generasi: Krakatau pernah membelah Jawa.
Kalimat itu terdengar dramatis. Bahkan menyesatkan jika dipahami secara harfiah. Sebab Pulau Jawa tidak pernah terbelah menjadi dua daratan. Yang sesungguhnya dimaksud adalah kisah mengenai terpisahnya Jawa dan Sumatra oleh Selat Sunda—sebuah narasi yang hidup di persimpangan antara legenda, sastra, dan ilmu kebumian.
Dalam Pustaka Raja Purwa, karya pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ranggawarsita, dikisahkan bahwa pada tahun 416 Masehi terjadi letusan dahsyat Gunung Krakatau Purba. Letusan itu dipercaya menghancurkan daratan yang sebelumnya menyambungkan Jawa dengan Sumatra. Laut kemudian masuk mengisi celah besar itu, membentuk Selat Sunda seperti yang dikenal sekarang.
Bagi masyarakat Nusantara kuno, letusan gunung bukan sekadar gejala alam. Ia adalah bahasa para dewa. Ketika bumi berguncang dan laut menelan daratan, manusia menerjemahkannya sebagai perubahan kosmis. Mitos lahir bukan untuk menjelaskan geologi, melainkan untuk memberi makna pada bencana yang melampaui nalar zamannya.
Namun ilmu pengetahuan modern menawarkan cerita yang berbeda.
Para ahli geologi menyimpulkan bahwa pemisahan Jawa dan Sumatra bukanlah hasil satu ledakan tunggal, melainkan proses tektonik yang berlangsung selama jutaan tahun. Di dasar Selat Sunda, Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke arah utara hingga timur laut, menyusup di bawah Mikro Lempeng Sunda yang merupakan bagian dari Eurasia. Gerak itu hanya sekitar 51–61 milimeter setiap tahun—tidak lebih cepat daripada pertumbuhan kuku manusia—tetapi dalam rentang jutaan tahun, ia mampu mengubah wajah benua.
Di bawah laut terjadi pertarungan yang sunyi. Kerak bumi terlipat, patahan terbentuk, magma mencari jalan keluar, sementara gunung api berdiri sebagai penanda bahwa bumi masih bekerja.
Krakatau hanyalah salah satu aktor dalam drama geologi yang jauh lebih panjang.
—
Lalu datanglah Agustus 1883.
Pada 26–27 Agustus, dunia menyaksikan salah satu letusan vulkanik terbesar dalam sejarah modern. Krakatau meledak dengan energi yang diperkirakan setara sekitar 200 megaton TNT—puluhan ribu kali lebih kuat daripada bom Hiroshima.
Pulau vulkanik itu kehilangan hampir dua pertiga tubuhnya.
Ledakannya mencapai sekitar 172 desibel. Di Pulau Rodrigues, hampir 4.800 kilometer dari Selat Sunda, orang-orang masih mendengar suara dentuman itu. Hingga kini, ia dikenang sebagai salah satu suara paling keras yang pernah tercatat di muka bumi.
Namun bukan suara yang paling mematikan.
Yang datang sesudahnya adalah air.
Gelombang tsunami setinggi puluhan meter meluncur tanpa ampun menuju pesisir Anyer, Carita, Merak, hingga Teluk Betung di Lampung. Kampung-kampung lenyap hanya dalam hitungan menit. Sedikitnya 36.417 jiwa meninggal. Banyak yang bahkan tak sempat memahami apa yang sedang terjadi.
Bencana itu tidak berhenti di Indonesia.
Gelombang kejut atmosfer berputar mengelilingi bumi hingga tiga kali. Debu vulkanik dan jutaan ton sulfur dioksida naik ke stratosfer, menyelimuti atmosfer dunia. Suhu rata-rata bumi turun sekitar 1,2 derajat Celsius selama beberapa tahun. Di Eropa dan Amerika, orang-orang menyaksikan matahari terbenam berwarna merah darah dan bulan tampak kebiruan, tanpa mengetahui bahwa penyebabnya berasal dari sebuah gunung kecil di Selat Sunda.
Krakatau mengingatkan bahwa sebuah pulau di Nusantara dapat mengubah langit seluruh dunia.
—
Hingga hari ini, Selat Sunda masih merupakan salah satu kawasan paling dinamis di planet ini.
Zona subduksi aktif terus bekerja. Para geolog menyebut sebagian kawasan megathrust Selat Sunda sebagai seismic gap, wilayah yang telah lama tidak melepaskan energi besar sejak abad ke-18. Itu berarti energi tektonik terus terakumulasi di kedalaman bumi.
Di sekitarnya, sesar-sesar bawah laut tetap aktif. Lereng Gunung Anak Krakatau pun terus berubah akibat aktivitas vulkanik. Peristiwa longsoran tubuh gunung pada akhir 2018 yang memicu tsunami menjadi pengingat bahwa ancaman tidak selalu datang dari gempa besar. Kadang, sebagian kecil gunung yang runtuh ke laut sudah cukup untuk mengirim gelombang mematikan ke daratan.
Karena itu, membaca sejarah Krakatau tidak boleh berhenti pada romantisme legenda ataupun kekaguman terhadap kedahsyatan letusan.
Ia harus menjadi pelajaran tentang hidup berdampingan dengan bumi yang terus bergerak.
—
Mungkin legenda tidak pernah dimaksudkan sebagai laporan ilmiah. Namun ia menyimpan sesuatu yang sering luput dari angka-angka statistik: kesadaran bahwa manusia hanyalah penghuni sementara di atas kerak bumi yang rapuh.
Ilmu pengetahuan kemudian datang melengkapi kisah itu. Ia menjelaskan bahwa gunung, laut, dan lempeng tektonik bekerja menurut hukum alam yang dapat dipelajari, dipetakan, dan diantisipasi.
Di titik itulah mitos dan sains sebenarnya saling bertemu.
Yang satu menjaga ingatan.
Yang lain membangun kewaspadaan.
Dan Selat Sunda tetap membentang di antara Jawa dan Sumatra, menjadi saksi bahwa bumi tidak pernah benar-benar selesai menciptakan dirinya sendiri. (*)




