Printed by UNDIP Press, Semarang
Peresensi : Christian Heru Cahyo Saputro
Tidak banyak seniman yang berhasil mengalahkan waktu. Sebagian besar hanya dikenang selama generasi yang pernah menyaksikan mereka masih hidup. Setelah itu, nama mereka perlahan tenggelam, digantikan oleh zaman yang terus bergerak tanpa ampun. Namun, ada sedikit pengecualian. Ki Nartosabdho adalah salah satunya.
Empat puluh tahun setelah kematiannya pada 7 Oktober 1985, suara Ki Nartosabdho justru masih bergema. Ia terdengar dari denting gamelan yang mengiringi upacara pengantin Jawa. Ia hidup dalam suluk yang dilantunkan para dalang muda. Ia bersembunyi di balik tabuhan kendang, tembang pesindhen, hingga iringan wayang orang dan kethoprak. Bahkan, ketika masyarakat Jawa semakin jauh dari tradisinya sendiri, karya-karya Ki Nartosabdho tetap menemukan jalannya menuju generasi baru—melalui rekaman kaset yang diunggah ke YouTube, dipelajari di ruang-ruang kelas sekolah seni, dan didendangkan ulang di pendapa-pendapa modern.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang seniman yang telah wafat puluhan tahun tetap menjadi bagian vital dari kehidupan budaya hari ini?
Pertanyaan itulah yang dijawab buku Membaca Ulang Ki Nartosabdho dan Karya-karyanya, disunting oleh Dhanang Respati Puguh dan diterbitkan UNDIP Press pada 2025. Buku ini hadir bertepatan dengan dua momentum penting: seabad kelahiran Ki Nartosabdho dan empat puluh tahun wafatnya sang maestro.
Alih-alih menyusun sebuah biografi linear yang kaku, Dhanang memilih pendekatan yang jauh lebih menarik dan organik. Ia mengumpulkan delapan belas tulisan dari berbagai disiplin ilmu, pengalaman, dan generasi. Hasilnya bukan sebuah buku yang berbicara dengan satu suara otoriter, melainkan sebuah paduan suara yang saling menyahut. Setiap penulis membawa cahaya sendiri-sendiri untuk menerangi sosok Ki Nartosabdho dari sudut pandang yang berbeda.
Sejak halaman pertama, pembaca segera disambut Manggalawacana, sebuah pengantar yang tidak hanya menjelaskan isi buku, tetapi juga memperlihatkan filosofi Condhong Raos—paguyuban karawitan yang didirikan Ki Nartosabdho di Semarang. Dhanang tidak memulai dengan daftar prestasi atau kronologi kehidupan yang kering, melainkan dengan kidung.
Pilihan ini bukan tanpa makna.
Dalam tradisi Jawa, kebudayaan memang lebih dahulu hadir sebagai bunyi sebelum menjadi tulisan. Karena itu, membuka buku dengan tembang terasa jauh lebih tepat daripada sekadar menyajikan data biografis. Pembaca seakan diajak memasuki pendapa, mendengar gamelan mulai ditabuh, sebelum kelir benar-benar dibuka.
Pilihan struktur buku pun mengikuti logika sebuah pertunjukan wayang. Ada Pakeliran, Klenengan, Paseksen, hingga Purnawacana. Susunan ini membuat buku terasa hidup. Ia tidak bergerak secara akademis yang membosankan, melainkan mengikuti ritme pertunjukan yang dinamis.
Pada bagian Pakeliran, pembaca diajak memahami revolusi yang dilakukan Ki Nartosabdho dalam dunia pedalangan. Selama bertahun-tahun, Ki Nartosabdho sering dicap sebagai dalang yang “merusak pakem”. Ia mempercepat adegan, mengubah komposisi gendhing, memperkaya dialog, menghadirkan humor, bahkan membuat pertunjukan wayang lebih komunikatif bagi masyarakat modern yang kian pragmatis.
Namun, melalui tulisan Soetarno, Setyadji Pantjawidjaja, Tentrem Warsenadipraja, dan terutama Triyanto Triwikromo, tuduhan itu dipatahkan. Ki Nartosabdho ternyata bukan pembaru yang memberontak terhadap tradisi. Ia justru menguasai tradisi dengan sangat mendalam sehingga tahu bagian mana yang boleh diolah tanpa merusak ruhnya. Di sinilah letak kebesaran buku ini: ia mengajak pembaca keluar dari cara berpikir hitam-putih. Pembaruan ternyata tidak selalu berarti meninggalkan pakem. Kadang, ia justru lahir dari penghormatan yang sangat dalam terhadap pakem itu sendiri.
Tulisan Tjahjono Rahardjo menjadi salah satu bagian paling memikat. Ia menyebut Ki Nartosabdho sebagai master storyteller. Istilah ini terasa tepat. Pendengar kaset wayang Ki Nartosabdho tidak membutuhkan panggung visual untuk membayangkan jalannya cerita. Hanya melalui suara, perubahan intonasi, iringan gamelan, serta dialog antartokoh, dunia pewayangan seolah hidup di kepala pendengar. Kemampuan seperti itu hanya dimiliki sedikit dalang. Wayang tidak lagi bergantung pada visual; ia berubah menjadi sastra lisan yang mampu menciptakan panggung dalam imajinasi. Kemampuan bertutur inilah yang sesungguhnya menjelaskan mengapa rekaman wayang Ki Nartosabdho masih terus diperdengarkan hingga hari ini. Ia bukan sekadar mendalang. Ia sedang bercerita kepada zaman.
Gendhing, Kritik Sosial, dan Sebuah Buku yang Melampaui Peringatan
Sesudah membahas Ki Nartosabdho sebagai dalang, buku ini bergerak ke wilayah yang sering kali terlupakan: karawitan. Di sinilah pembaca menemukan alasan mengapa nama Ki Nartosabdho tidak pernah benar-benar hilang dari lanskap musik Jawa. Banyak orang mengenalnya sebagai dalang besar. Padahal, dalam banyak hal, ia justru lebih revolusioner sebagai pencipta gendhing.
Bagian Klenengan menjadi jantung intelektual buku ini. Lima tulisan yang disusun berurutan menghadirkan pembacaan yang saling melengkapi. Rustopo memetakan produktivitas Ki Nartosabdho sebagai kreator gendhing Jawa populer pada era 1950–1970-an. Widodo Brotosejati mengupas komposisi Glopa-Glape sebagai metafora tentang kerakusan manusia. Maulana Malik Ibrahim membaca lirik-lirik ciptaannya sebagai teks etika sosial. Kathryn (Kitsie) Emerson menunjukkan bagaimana karya-karya Ki Nartosabdho masih hidup dalam pakeliran para dalang masa kini. Sementara Dhanang Respati Puguh menempatkan sang maestro sebagai simpul penting perkembangan Karawitan Semarangan.
Lima tulisan itu menyampaikan satu kesimpulan yang sama: Ki Nartosabdho bukan sekadar pencipta lagu Jawa yang produktif. Ia adalah pemikir budaya yang berbicara melalui bunyi. Di tangan Ki Nartosabdho, gendhing tidak berhenti sebagai hiburan. Ia menjadi medium pendidikan, kritik sosial, bahkan refleksi moral.
Pembacaan Widodo Brotosejati terhadap Glopa-Glape adalah contoh paling menarik. Lagu itu dibedah bukan hanya dari aspek musikal, tetapi juga dari makna sosialnya. Keserakahan yang digambarkan dalam syair ternyata masih terasa relevan dengan Indonesia hari ini—ketika jurang antara kelompok kaya dan miskin semakin lebar, sementara kekuasaan sering kali lebih akrab dengan akumulasi daripada pemerataan. Di titik ini, pembaca menyadari bahwa karya Ki Nartosabdho memiliki kualitas yang hanya dimiliki karya-karya besar: ia mampu melampaui zamannya. Pesan moral yang ditulis puluhan tahun lalu tetap terasa segar ketika dibaca hari ini.
Hal serupa tampak dalam analisis Maulana Malik Ibrahim. Ia memperlihatkan bahwa lirik-lirik Ki Nartosabdho tidak pernah berkhotbah secara vulgar. Nilai tentang gotong royong, kerukunan, penghormatan kepada sesama, hingga hubungan manusia dengan Tuhan hadir melalui bahasa yang puitis dan sederhana. Inilah keistimewaan Ki Nartosabdho. Ia tidak menggurui. Ia menyanyi. Namun justru melalui nyanyian itu, masyarakat belajar tentang kehidupan.
Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah keberhasilannya menghubungkan dunia akademik dengan pengalaman para pelaku seni. Sering kali buku-buku hasil seminar atau bunga rampai terjebak dalam bahasa ilmiah yang kering. Pembaca awam cepat kehilangan minat karena setiap tulisan berdiri sendiri tanpa denyut emosional. Dhanang Respati Puguh berhasil menghindari jebakan itu. Ia menyisipkan bagian Paseksen sebagai ruang kesaksian. Pilihan editorial ini sangat cerdas. Sesudah pembaca dijejali analisis, teori, dan argumentasi akademik, mereka diajak beristirahat sejenak melalui cerita-cerita personal.
Pandam Guritno mengenang Ki Nartosabdho sebagai guru. Bambang Sadono menghadirkannya sebagai narasumber yang rendah hati. Sukirno melihatnya sebagai rekan berkesenian. Para pengrawit Condhong Raos mengenangnya sebagai bapak sekaligus pemimpin yang keras terhadap disiplin, tetapi lembut kepada anak buahnya. Di sinilah Ki Nartosabdho berubah dari “objek penelitian” menjadi manusia. Ia bisa marah. Ia bisa tertawa. Ia bisa lelah. Ia juga bisa sangat perhatian kepada para senimannya. Kesaksian-kesaksian itu membuat pembaca memahami bahwa kebesaran seorang maestro tidak hanya diukur dari karya, tetapi juga dari cara ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya.
Meski demikian, buku ini bukan tanpa kekurangan. Karena sebagian besar artikel merupakan tulisan yang pernah dipublikasikan sebelumnya, beberapa gagasan muncul berulang-ulang. Misalnya mengenai Ki Nartosabdho sebagai pembaru yang tidak antipakem atau tentang produktivitasnya sebagai pencipta gendhing. Pengulangan itu sebenarnya dapat dipangkas melalui penyuntingan yang lebih ketat sehingga alur bacaan menjadi lebih ringkas. Kelemahan lain adalah absennya pembacaan kritis terhadap sisi-sisi kontroversial Ki Nartosabdho. Setiap tokoh besar hampir selalu memiliki perdebatan. Begitu pula Ki Nartosabdho. Dalam perjalanan sejarah pedalangan, pembaruannya pernah memicu resistensi dari kalangan tradisional. Perdebatan itu hanya disentuh sekilas. Padahal, justru dari ruang-ruang perdebatan semacam itulah pembaca dapat memahami dinamika kebudayaan Jawa secara lebih utuh.
Buku ini juga belum banyak mengeksplorasi pengaruh Ki Nartosabdho terhadap seni pertunjukan kontemporer, campursari modern, industri rekaman, televisi, maupun media digital. Padahal, jejak kreatifnya merambah jauh melampaui dunia wayang. Kehadiran satu tulisan yang membahas warisan tersebut tentu akan memperkaya perspektif buku. Namun, kekurangan-kekurangan itu tidak mengurangi arti penting buku ini. Sebaliknya, ia justru membuka ruang bagi penelitian-penelitian baru. Buku ini tidak menutup pembicaraan tentang Ki Nartosabdho. Ia baru memulainya.
Warisan yang Menghidupi, Buku yang Menjaga Ingatan
Pada bagian penutup buku, Dhanang Respati Puguh tidak memilih kalimat-kalimat akademik yang dingin. Ia justru membawa pembaca kembali kepada kenyataan paling sederhana: Ki Nartosabdho telah lama tiada, tetapi karya-karyanya belum pernah selesai. Pilihan epilog bertajuk “Karya yang Abadi” menjadi penegasan paling kuat atas seluruh isi buku. Dhanang tidak membangun argumentasi melalui pujian, melainkan melalui fakta. Gendhing-gendhing Ki Nartosabdho masih menjadi materi pelajaran di sekolah-sekolah seni. Masih dimainkan dalam klenengan, wayang kulit, wayang wong, kethoprak, hingga campursari. Ketawang Ibu Pertiwi tetap mengiringi prosesi pengantin Jawa dan wisuda di berbagai perguruan tinggi. Rekaman-rekamannya yang dahulu beredar melalui piringan hitam dan kaset kini menemukan kehidupan baru di kanal-kanal YouTube, menjangkau pendengar yang bahkan lahir puluhan tahun setelah sang maestro wafat.
Inilah ukuran sesungguhnya dari sebuah karya besar. Ia tidak hanya bertahan dalam arsip, tetapi tetap dipakai. Ia tidak sekadar dikenang, tetapi terus menghidupi. Kalimat Dhanang bahwa karya-karya Ki Nartosabdho “tidak hanya hidup di masyarakat, tetapi juga menghidupi para seniman” mungkin merupakan simpulan paling penting dalam buku ini. Sebuah gendhing ternyata bukan sekadar komposisi musik. Ia menjadi sumber ekonomi, sumber inspirasi, sekaligus sumber pengetahuan bagi generasi penerus.
Di titik inilah pembaca menyadari bahwa warisan budaya bukan hanya persoalan identitas, melainkan juga ekosistem. Sebuah karya seni hidup karena terus dimainkan. Seorang maestro tetap hadir karena terus dibaca, didengar, dipelajari, dan diperdebatkan.
Namun, membaca buku ini juga memunculkan kegelisahan. Mengapa kita baru sungguh-sungguh membicarakan seorang maestro ketika genap seratus tahun kelahirannya atau empat puluh tahun kematiannya? Mengapa dokumentasi yang serius sering hadir setelah para pelaku utamanya tiada? Pertanyaan itu sesungguhnya tidak ditujukan kepada editor, melainkan kepada dunia kebudayaan Indonesia secara keseluruhan. Kita terlalu sering merayakan peristiwa, tetapi terlambat membangun pengetahuan. Kita gemar menggelar festival, namun kurang tekun menyusun dokumentasi. Kita bangga pada para maestro, tetapi tidak selalu menyediakan ruang yang memadai bagi penelitian atas karya-karya mereka.
Karena itu, Membaca Ulang Ki Nartosabdho dan Karya-karyanya memiliki arti yang melampaui sebuah buku penghormatan. Ia adalah kerja pengarsipan. Ia menyelamatkan ingatan sebelum ingatan itu tercerai-berai bersama wafatnya para saksi zaman. Buku ini sekaligus mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup berhenti pada pementasan. Tradisi membutuhkan teks. Membutuhkan penelitian. Membutuhkan kritik. Membutuhkan ruang agar generasi berikutnya tidak hanya mampu memainkan gendhing Ki Nartosabdho, tetapi juga memahami mengapa gendhing itu diciptakan.
Bagi pembaca dari Semarang, buku ini memiliki makna yang lebih dalam. Selama ini, sejarah Ki Nartosabdho sering dilekatkan pada Surakarta sebagai pusat tradisi pedalangan. Padahal, Semarang adalah kota yang membentuk sebagian besar perjalanan kreatifnya. Di kota inilah ia mendirikan Paguyuban Karawitan Jawi Condhong Raos. Di kota ini pula ia membangun jaringan pengrawit, melahirkan gendhing-gendhing Semarangan, membesarkan dunia pedalangan, bekerja bersama Wayang Orang Ngesti Pandawa, hingga menjadikan Semarang sebagai salah satu pusat kreativitas seni pertunjukan Jawa pada paruh kedua abad ke-20.
Dalam konteks itu, buku suntingan Dhanang Respati Puguh juga merupakan sebuah upaya mengembalikan Semarang ke dalam peta sejarah kebudayaan nasional. Ia mengingatkan bahwa kota ini bukan sekadar ruang transit antara Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya, melainkan salah satu simpul penting lahirnya inovasi seni Jawa modern. Warisan Ki Nartosabdho menunjukkan bahwa tradisi tidak pernah tumbuh di ruang yang beku. Ia berkembang di kota pelabuhan, di tengah perjumpaan budaya, di ruang-ruang tempat masyarakat terus bernegosiasi dengan perubahan zaman. Mungkin karena itulah karya-karyanya terasa lentur: berakar kuat pada tradisi, tetapi tidak takut berdialog dengan modernitas.
Secara editorial, Dhanang Respati Puguh berhasil melakukan pekerjaan yang tidak mudah. Ia mengumpulkan tulisan dari akademisi, seniman, wartawan, budayawan, dan saksi hidup, lalu merangkainya menjadi sebuah narasi yang relatif utuh. Memang masih terdapat beberapa pengulangan gagasan dan belum semua sisi kehidupan Ki Nartosabdho terbahas secara kritis. Pembaca mungkin juga berharap adanya lampiran dokumentasi visual yang lebih kaya—foto-foto langka, naskah gendhing, arsip pertunjukan, atau kronologi perjalanan hidup sang maestro—agar buku ini sekaligus menjadi referensi dokumenter yang lebih lengkap.
Namun kekurangan itu tidak mengurangi bobot keseluruhannya. Justru sebaliknya, buku ini membuka jalan bagi penelitian lanjutan: tentang pengaruh Ki Nartosabdho terhadap industri rekaman tradisional, perkembangan campursari, estetika pedalangan televisi, hingga transformasi karawitan di era digital. Sebuah buku yang baik bukanlah buku yang merasa selesai, melainkan buku yang mengundang pembaca untuk meneruskan percakapan. Dan buku ini melakukan itu.
Pada akhirnya, Membaca Ulang Ki Nartosabdho dan Karya-karyanya bukan sekadar mengisahkan kehidupan seorang dalang atau pencipta gendhing. Buku ini sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih besar: bagaimana sebuah kebudayaan bertahan karena ada orang-orang yang tekun merawat ingatan.
Ki Nartosabdho pernah berhenti memukul keprak. Suaranya pernah berhenti terdengar di balik kelir. Tubuhnya telah lama beristirahat di pemakaman Bergota. Namun sabda yang ditinggalkannya tidak pernah benar-benar diam. Ia terus menjelma menjadi suluk, menjadi gendhing, menjadi antawacana, menjadi ilham bagi dalang muda, menjadi bahan ajar di kampus seni, menjadi iringan pengantin, menjadi napas yang menghidupi para pengrawit, dan kini menjadi sebuah buku yang mengajak kita membaca ulang bukan hanya seorang maestro, melainkan cara kita memperlakukan warisan budaya sendiri.
Barangkali itulah makna terdalam dari buku ini. Bahwa seorang seniman tidak pernah benar-benar wafat ketika karya-karyanya masih dimainkan. Dan sebuah bangsa tidak akan kehilangan arah selama masih bersedia membuka kembali halaman-halaman yang menyimpan ingatan kolektifnya.
Di tengah arus budaya populer yang bergerak semakin cepat, Membaca Ulang Ki Nartosabdho dan Karya-karyanya menjadi penanda penting bahwa tradisi tidak pernah usang. Ia hanya menunggu untuk dibaca kembali—dengan pikiran yang lebih terbuka, dengan penelitian yang lebih mendalam, dan dengan rasa hormat yang lebih besar kepada mereka yang telah mewariskan bunyi, nilai, dan kebijaksanaan bagi generasi sesudahnya. Itulah sebabnya buku ini layak dibaca bukan hanya oleh pengrawit, dalang, atau akademisi seni, melainkan oleh siapa saja yang percaya bahwa kebudayaan adalah ingatan panjang sebuah bangsa. Dan selama ingatan itu terus dirawat, sabda Ki Nartosabdho akan tetap bergema, melampaui zaman. (*)
*) Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis – Direktur Eksekutif Jung Foundation anggota Pan Sumatera Network.




