SELAT SUNDA — Ada sebuah kedamaian yang menipu di perairan Selat Sunda. Dari kejauhan, gugusan pulau vulkanik itu tampak gagah, menjulang dari tengah laut seperti benteng batu yang bisu. Di antara pesisir Banten dan Lampung, Krakatau—dan anaknya yang terus tumbuh, Anak Krakatau—menyajikan pemandangan yang seolah abadi: lereng eksotis berbatu vulkanik, kontras tajam dengan biru laut yang tenang, dan sesekali, hiasan asap putih tipis yang mengepul malas dari kawahnya.
Bagi ribuan wisatawan yang berkunjung hari ini, itu adalah pemandangan wisata. Lanskap dramatis sisa letusan dahsyat 1883. Namun, jauh sebelum abu vulkanik menutupi langit dunia dan tsunami setinggi 40 meter menyapu peradaban pesisir, Krakatau memiliki wajah lain. Wajah yang tenang. Wajah yang tertidur.
Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18, raksasa ini tidak dianggap sebagai ancaman. Ia bukan monster yang mengintai, melainkan tanah yang bisa dihuni.
Sejarah mencatat sebuah jeda panjang, sebuah “tidur” vulkanik yang membuat masyarakat sekitar maupun penjajah Belanda lupa akan potensi kemurkaannya. Setelah letusan singkat pada tahun 1680—yang dicatat oleh Johan Wilhelm Vogel, seorang pegawai tambang emas Jerman yang melintasi kawasan tersebut pada Februari 1681—Krakatau kembali diam. Vogel, dalam catatannya, menggambarkan pulau itu sebagai tempat yang aktif namun terkendali, sebuah peringatan kecil yang sayangnya tidak dibaca sebagai pertanda bencana besar.
Setelah 1680, keheningan turun.
Selama hampir dua abad, sepanjang abad ke-18 hingga awal abad ke-19, tidak ada lagi catatan letusan signifikan. Tiga gunung berapi kecil yang membentuk kepulauan itu—Rakata, Danan, dan Perboewatan—hidup dalam harmoni yang menipu. Alam seolah menahan napas.
Ketenangan ini begitu meyakinkan sehingga Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), dengan pragmatisme kolonialnya, sempat berusaha mendirikan perkebunan lada di Pulau Krakatau pada akhir abad ke-17. Bayangkan: di atas dapur magma yang suatu hari akan meledakkan separuh atmosfer, orang-orang menanam lada. Kawasan ini bahkan kemudian dijadikan koloni hukuman, tempat pembuangan narapidana, karena dianggap terpencil namun aman. Tidak ada yang menduga bahwa di bawah tanah tempat mereka berdiri, tekanan sedang menumpuk, menunggu saat untuk melepaskan amarah yang tertahan selama ratusan tahun.
Masa damai itu adalah ilusi optik dari waktu geologis. Catatan geologi dari periode tenang ini sebenarnya adalah bab awal dari pembentukan formasi kompleks yang akhirnya bermuara pada tragedi 1883. Saat itu, ketika Krakatau akhirnya terbangun, ia tidak hanya meletus; ia menghapus dirinya sendiri, menyisakan kaldera, dan melahirkan musim dingin vulkanik global yang membunuh lebih dari 36.000 jiwa seketika, dan jutaan lainnya melalui kelaparan dan perubahan iklim.
Hari ini, Krakatau telah berubah wujud. Rakata, Danan, dan Perboewatan telah lenyap, digantikan oleh Anak Krakatau yang lahir dari rahim laut pada 1927. Secara administratif, kawasan ini masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, dikelola sebagai Cagar Alam Krakatau. Ia adalah destinasi wisata, laboratorium alam, dan monumen peringatan.
Aktivitas vulkaniknya kini berbeda. Bukan lagi tidur panjang, tetapi napas pendek-pendek. Sebagai gunung api aktif, penampakannya dari udara atau darat sering kali disertai lontaran abu vulkanik atau asap solfatara yang membubung ratusan hingga ribuan meter. Itu adalah tanda kehidupan. Tanda bahwa raksasa itu belum mati, hanya sedang berganti kulit.
Namun, bagi mereka yang berdiri di tepi pantai Anyer atau Carita, memandang siluet Krakatau di cakrawala, ada pelajaran halus yang tersirat. Keindahan batuan muda hasil bentukan letusan 1883 itu memesona. Kontras antara air laut yang biru jernih dan lereng gunung yang hitam legam menciptakan estetika yang magis. Tapi di balik keindahan itu, tersimpan memori kolektif tentang kerapuhan manusia di hadapan alam.
Krakatau mengajarkan bahwa ketenangan bukanlah jaminan keselamatan. Bahwa tanah yang subur untuk lada bisa menjadi kuburan massal. Bahwa asap putih yang indah bisa menjadi pembawa kabar duka.
Di era modern, ketika drone dan satelit memantau setiap getaran tanah, kita mungkin merasa lebih aman daripada para petani lada abad ke-17. Namun, esensinya tetap sama: kita hidup di atas bumi yang dinamis, di mana raksasa-raksasa tidur, dan bangunnya mereka selalu mengubah sejarah.
Krakatau hari ini adalah saksi bisu. Ia berdiri gagah di Selat Sunda, mengingatkan kita bahwa alam tidak pernah benar-benar jinak. Ia hanya sedang menunggu. Dan dalam penantiannya, ia menawarkan keindahan yang menakutkan, sebuah paradoks yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang bersedia mendengarkan cerita di balik asap dan batu. (Christian Saputro)




