SELAT SUNDA — Pada mulanya, yang berdiri gagah di antara Jawa dan Sumatra bukanlah selat berombak yang kita kenal hari ini. Di ufuk purba, ketika manusia belum mengenal tulisan dan laut masih mencari bentuknya, menjulang sebuah gunung raksasa. Tubuhnya begitu kolosal hingga menjadi poros lanskap Nusantara bagian barat. Ia dikenal dalam kajian geologi sebagai Krakatau Purba—sebuah gunung api strato yang dibangun perlahan oleh waktu, magma, dan letusan yang tak terhitung jumlahnya.
Gunung itu lahir dari perut bumi yang tak pernah benar-benar diam.
Selama ribuan tahun, lava mengalir dari kepundannya. Abu vulkanik, batu pijar, dan material piroklastik bertumpuk lapis demi lapis, seperti seorang pemahat raksasa yang bekerja tanpa lelah. Magma kaya silika yang dimuntahkan dari kedalaman bumi membeku menjadi batuan vulkanik berbutir halus—riolit, andesit, dan beragam batuan beku lain yang menjadi fondasi tubuh Krakatau Purba.
Setiap letusan adalah bagian dari proses penciptaan.
Ketika magma keluar dengan tenang, ia mengalir sebagai sungai api yang perlahan mengeras menjadi lereng dan punggung gunung. Saat letusan lebih eksplosif terjadi, abu dan batu terlontar ke udara lalu jatuh kembali, membangun lapisan baru. Dari siklus yang berulang itulah Krakatau Purba tumbuh menjadi salah satu gunung api terbesar yang pernah berdiri di kawasan Asia Tenggara, dengan tinggi mencapai sekitar 3.000 meter.
Namun, alam tidak hanya mengenal penciptaan. Ia juga mengenal kehancuran.
Pada suatu masa yang masih menjadi perdebatan para ilmuwan—ada yang memperkirakan sekitar tahun 416 Masehi, ada pula yang menempatkannya pada abad ke-6—terjadi sebuah peristiwa yang mengubah wajah bumi. Krakatau Purba memasuki fase yang dalam istilah vulkanologi disebut ultra-plinian, tingkat letusan paling dahsyat yang mampu dihasilkan sebuah gunung api.
Langit berubah menjadi lautan abu.
Kolom letusan menjulang menembus stratosfer hingga puluhan kilometer ke angkasa. Ratusan kilometer kubik material vulkanik terlontar keluar dari dapur magma. Ledakannya begitu besar hingga gaungnya diperkirakan terdengar jauh melampaui cakrawala Nusantara. Abu vulkanik menyelimuti atmosfer, sementara awan panas dan material piroklastik meluncur ke segala arah, menghapus kehidupan di sekitarnya.
Perut gunung yang telah kehilangan sebagian besar magmanya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya sendiri.
Maka terjadilah keruntuhan besar.
Puncak Krakatau Purba amblas ke dalam, menciptakan kaldera raksasa selebar puluhan kilometer. Dalam bahasa sederhana, gunung itu runtuh ke tubuhnya sendiri. Peristiwa tersebut bukan sekadar menghancurkan sebuah gunung, tetapi juga mengubah geografi kawasan. Daratan yang sebelumnya menghubungkan bentang Jawa dan Sumatra terbelah, membuka ruang bagi laut yang kemudian kita kenal sebagai Selat Sunda.
Yang tersisa hanyalah fragmen-fragmen dinding kaldera.
Kini, fragmen itu dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang (Rakata Kecil). Mereka berdiri seperti reruntuhan sebuah kerajaan purba, menjadi saksi bisu bahwa di tempat itu pernah menjulang gunung yang jauh lebih besar daripada yang terlihat sekarang. Rakata, dengan puncaknya yang curam, adalah monumen kehancuran Krakatau Purba.
Tetapi kisah Krakatau tidak berhenti pada kehancuran. Bumi selalu memiliki cara untuk memulai kembali.
Berabad-abad kemudian, aktivitas vulkanik terus berlangsung di bawah dasar kaldera. Hingga pada 27 Agustus 1883, dunia kembali dikejutkan oleh salah satu letusan paling dahsyat dalam sejarah modern. Krakatau meledak dengan kekuatan yang tercatat dalam berbagai arsip ilmiah sebagai bencana global. Tsunami raksasa menerjang pesisir-pesisir Selat Sunda. Gelombang kejutnya mengelilingi bumi tujuh kali. Abu vulkanik mengubah warna langit dan menurunkan suhu global di berbagai belahan dunia.
Pulau vulkanik yang terbentuk pasca-keruntuhan purba itu luluh lantak. Dua pertiga tubuhnya lenyap ditelan laut.
Namun, dari kehancuran itu, kehidupan geologi kembali bertunas.
Pada 1927, dari tengah kaldera bekas letusan 1883, muncul daratan baru. Sedikit demi sedikit material vulkanik menumpuk di atas permukaan laut. Lava membeku, abu mengeras, dan sebuah gunung muda lahir. Ia diberi nama Anak Krakatau.
Nama yang sederhana, tetapi sarat makna.
Anak Krakatau adalah bukti bahwa gunung api tidak pernah benar-benar mati. Ia hanyalah bagian dari siklus panjang penciptaan dan penghancuran yang berlangsung selama jutaan tahun. Hingga kini, gunung muda itu masih aktif membangun dirinya sendiri, menambahkan lapisan demi lapisan batuan baru setiap kali erupsi terjadi. Di pantainya, pasir hitam membentang seperti hamparan arang raksasa. Warna gelap itu berasal dari batuan andesit yang kaya mineral vulkanik—jejak nyata dari magma yang pernah mendidih di kedalaman bumi.
Jika Rakata adalah monumen kehancuran Krakatau Purba, maka Anak Krakatau adalah monumen kelahirannya kembali.
Di antara debur ombak Selat Sunda dan kepulan asap yang kadang masih muncul dari puncaknya, tersimpan pelajaran tentang bumi yang tak pernah berhenti bergerak. Tentang gunung yang tumbuh dari api, runtuh karena kekuatannya sendiri, lalu bangkit kembali dari abu.
Krakatau bukan sekadar gunung. Ia adalah kisah panjang tentang penciptaan, kehancuran, dan kelahiran kembali—epos geologi yang terus ditulis oleh bumi hingga hari ini. (Christian Saputro)




