GROBOGAN — Semangat membangun kemandirian ekonomi berbasis teknologi digital tampak membara di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Sebanyak 105 kader NU memadati Aula SMK Yasiha Gubug untuk mengikuti Pelatihan Digital Affiliate yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Gubug, Senin (1/6/2026).
Pelatihan yang bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila tersebut menjadi langkah konkret organisasi dalam membekali kader dengan keterampilan ekonomi digital yang relevan dengan perkembangan zaman.
Kegiatan yang digagas oleh Bidang Kerja Sama dan Pemberdayaan Ekonomi Umat MWC NU Gubug itu juga melibatkan Koperasi Berkah Bintang Sembilan Gubug, badan usaha yang baru didirikan MWC NU pada April 2026 sebagai instrumen penguatan ekonomi jamaah.
Ketua Tanfidziyah MWC NU Gubug, AJ Mustofa, menegaskan pentingnya perubahan pola pikir warga NU agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelaku ekonomi yang produktif.
“Saya mengajak kader NU menjadi jamaah yang mampu menempatkan diri sebagai tangan di atas. Melalui pelatihan ini, kader diharapkan dapat memanfaatkan teknologi digital untuk mencari rezeki, sekaligus menyisihkan sebagian hasilnya untuk mendukung kemandirian jam’iyah,” ujarnya saat membuka acara.
Menurutnya, penguasaan teknologi digital saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan ekonomi yang berlangsung sangat cepat.
Belajar dari Praktisi yang Sukses
Untuk memberikan wawasan yang aplikatif, panitia menghadirkan tiga narasumber yang telah berhasil menekuni bisnis digital affiliate.
Salah satu narasumber, Moh Ismail, membagikan pengalaman suksesnya memasarkan produk melalui platform TikTok. Ia mengungkapkan bahwa penjualan produk wajan cetakan bakso yang digelutinya mampu mencatat omzet rata-rata hingga Rp1 miliar per bulan.
Sementara itu, Moh Arifin menyampaikan strategi memilih produk yang memiliki potensi pasar tinggi serta teknik membuat konten yang menarik perhatian calon pembeli. Adapun Nizar membawakan materi mengenai tata cara pendaftaran dan langkah-langkah bergabung dalam bisnis affiliate digital.
Ketiganya merupakan kader NU yang telah merasakan manfaat ekonomi dari pemanfaatan platform digital sebagai sarana pemasaran produk.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Banyak peserta aktif bertanya mengenai strategi pemasaran digital, algoritma media sosial, hingga peluang bisnis affiliate yang dapat dijalankan dari rumah dengan modal relatif kecil.
Koperasi Jadi Pilar Penguatan Ekonomi Jamaah
Wakil Ketua Bidang Kerja Sama dan Pemberdayaan Ekonomi Umat MWC NU Gubug yang juga Ketua Koperasi Berkah Bintang Sembilan Gubug, Budi Utomo, menekankan pentingnya membangun mental produktif di tengah derasnya arus budaya konsumtif.
Menurutnya, warga NU harus memiliki daya kritis dan kemampuan ekonomi yang kuat agar tidak hanya menjadi pasar bagi produk dan kepentingan pihak lain.
“Sebagai warga Nahdlatul Ulama, kita harus memiliki daya kritis. Jangan sampai hanya menjadi target pasar dan dimanfaatkan oleh pihak lain. Kita harus menjadi pelaku ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah,” tegasnya.
Budi menilai, selama ini potensi besar yang dimiliki NU belum sepenuhnya dioptimalkan untuk memperkuat kesejahteraan jamaah. Karena itu, keberadaan koperasi diharapkan menjadi wadah bersama untuk membangun kekuatan ekonomi yang lebih terorganisasi.
Ia juga mengajak peserta pelatihan untuk bergabung sebagai anggota koperasi agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan secara kolektif.
“Pengurus MWC NU mendirikan koperasi agar kita bisa bersama-sama mengurus dan memperkuat ekonomi jamaah. Kekuatan umat tidak hanya terletak pada jumlah, tetapi juga pada kemampuan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan,” katanya.
Melalui pelatihan ini, MWC NU Gubug berharap lahir generasi kader yang tidak hanya aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang ekonomi digital sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus memperkuat kemandirian organisasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, langkah tersebut menjadi ikhtiar nyata untuk membawa warga NU lebih siap menghadapi tantangan ekonomi masa depan. (Christian Saputro/BU)




