Siang itu, aroma khas bubur sumsum memenuhi ruangan Klub Merby, Semarang. Di atas meja-meja bundar, mangkuk-mangkuk putih tersaji sederhana. Bubur lembut dengan kuah gula jawa yang kental itu segera habis disantap para seniman yang berkumpul dalam acara Syukuran dan Silaturahmi “Wayang on the Street Goes to The Netherlands”, Selasa, 23 Juni 2026.
Seseorang berseloroh bahwa bubur sumsum adalah “energi pengembalian kekuatan”. Yang lain tertawa renyah. Namun sesungguhnya, yang sedang dipulihkan siang itu bukan sekadar tenaga fisik. Melainkan kenangan.
Sebulan lalu telah berlalu sejak rombongan Wayang on the Street Semarang menjelajahi Belanda. Tetapi begitu suapan terakhir bubur sumsum lenyap dari mangkuk, kisah-kisah lama seolah bangkit kembali dari dasar ingatan. Mereka mulai bercerita. Tentang dinginnya angin musim semi di Eropa yang menusuk tulang. Tentang jalan-jalan batu di Den Haag yang terasa asing bagi kaki-kaki yang terbiasa berpijak di tanah Jawa. Tentang bagaimana mereka harus berganti kostum di ruang-ruang seadanya sebelum tampil di ruang publik. Dan tentang wajah-wajah penonton yang mula-mula heran, lalu terpikat oleh kehadiran tokoh-tokoh pewayangan dari negeri yang jauh.
“Kalau diingat sekarang, rasanya seperti mimpi,” ujar Hardhono Susanto, Team Manager rombongan sekaligus guru besar seni pertunjukan. Ia tidak langsung berbicara soal pencapaian internasional atau angka penonton. Justru, ia mengangkat mangkuk bubur sumsum yang baru saja kosong itu sebagai metafora perjalanan mereka.
“Bubur sumsum ini mengajarkan kita sesuatu yang sering dilupakan dalam kesenian tradisi,” ucapnya pelan, membuat seluruh ruangan hening. “Ia sederhana, tapi butuh proses panjang untuk menjadi lembut. Seperti wayang orang yang kita bawa ke Belanda: tidak ada jalan pintas menuju pemahaman lintas budaya.”
Profesor Hardhono kemudian memberikan apresiasi yang lebih dalam. Baginya, keberhasilan Wayang on the Street di Negeri Tulip bukan hanya soal kemampuan adaptasi koreografi atau ketahanan fisik para pemain. Itu adalah bukti bahwa kesenian tradisi memiliki “bahasa tubuh” yang universal, yang mampu menembus batas bahasa dan geografis.
“Mereka tidak mengerti dialognya, tetapi mereka mengerti ekspresinya,” sambungnya, mengutip pengalaman Djoko Muljono, pimpinan Wayang Orang Ngesti Pandawa. “Itulah kekuatan sejati wayang: ia berbicara langsung ke hati, tanpa perlu diterjemahkan.”
Di sudut ruangan, Sugiyanto bersama Yusuf Arifin dan Bingar Agil Widyasmara mengenang bagaimana suara gamelan menggema di ruang terbuka Eropa. Bunyi kendang, kenong, dan saron yang biasa terdengar di kampung-kampung Jawa mendadak menyatu dengan suara trem, lonceng gereja, dan langkah kaki warga Belanda. Sejenak, dua dunia bertemu dalam satu irama.
Sri Paminto Widi Legowo menambahkan cerita lain. Sebagai koreografer, ia harus menyesuaikan pola gerak wayang orang dengan karakter ruang publik yang berbeda dari panggung konvensional. Di jalanan, penonton bisa datang dari segala arah. Mereka bisa berhenti sesaat lalu pergi. Mereka bisa menyela pertunjukan dengan pertanyaan. Mereka bisa mendekat hingga nyaris menyentuh para pemain. “Tapi justru itu yang menarik,” katanya. “Wayang tidak lagi berjarak. Wayang menjadi bagian dari kehidupan.”
Dewi Wulansari, Siti Widi Astuti, Yudha Putra Pambayun, Whastu Mahening Mardi, Sihanto, dan Helvy Andri Luckman silih berganti menuturkan pengalaman mereka. Ada yang mengenang rasa gugup menjelang pentas pertama. Ada yang teringat pada anak-anak Belanda yang berebut berfoto bersama tokoh pewayangan. Ada pula yang masih menyimpan alamat sahabat baru yang mereka temui selama perjalanan. Semua kisah itu mengalir tanpa naskah. Tanpa sutradara. Tanpa skenario. Seperti lakon improvisasi yang dimainkan oleh waktu.
Sesekali tawa pecah memenuhi ruangan. Sesekali suasana berubah hening ketika mereka mengingat kawan-kawan yang pernah berjuang bersama. Di luar gedung, Kota Semarang bergerak seperti biasa. Tetapi di dalam ruangan itu, waktu seakan berhenti sejenak. Belanda terasa dekat. Den Haag, Rijswijk, Delft, dan Nijmegen hadir kembali melalui cerita-cerita yang meluncur dari mulut para pelakunya.
Sekira Sebulan lalu mereka berangkat sebagai rombongan seniman. Hari itu mereka berkumpul sebagai keluarga. Dan seperti semangkuk bubur sumsum yang menghangatkan tubuh, kenangan-kenangan itu kembali menghangatkan jiwa mereka. Sebab perjalanan budaya bukan hanya soal kota yang dikunjungi atau panggung yang ditaklukkan. Ia adalah kisah tentang manusia-manusia yang berjalan bersama, menghadapi kesulitan bersama, lalu menyimpan pengalaman itu sebagai bagian dari hidup mereka.
Maka siang itu, setelah bubur sumsum habis disantap dan mangkuk-mangkuk mulai kosong, yang tersisa bukan sekadar acara silaturahmi. Yang tersisa adalah kesadaran bahwa mereka pernah membawa sepotong Indonesia berjalan di jalan-jalan Eropa. Dan kenangan itu, seperti wayang yang tak pernah benar-benar tamat, akan terus hidup dari satu cerita ke cerita berikutnya—sebuah warisan yang, sebagaimana ditekankan Profesor Hardhono, harus terus dirawat dengan kesabaran dan kejujuran, persis seperti cara membuat semangkuk bubur sumsum yang sempurna. (*)




