SEMARANG — Di tengah derasnya arus globalisasi, upaya menjaga warisan budaya tidak lagi cukup dengan merawat benda-benda pusaka. Yang lebih penting adalah memastikan nilai, filosofi, dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda. Pesan itulah yang mengemuka dalam pembukaan Pameran Pusaka dan Seni Budaya bertema “Budaya Bangsaku Warisan Identitas Nusantara” yang digelar Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ikatan Paritrana Indonesia (IPI) Kota Semarang, Jumat (26/6/2026).
Pameran yang berlangsung hingga 28 Juni 2026 itu menghadirkan pameran keris dan batu mulia, jamasan pusaka, pentas seni tradisional, bakti sosial, pameran otomotif, serta penyerahan Kartu Tanda Anggota (KTA) DPC IPI Kota Semarang. Berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, akademisi, pelaku seni, dan masyarakat dalam memperkuat pelestarian warisan budaya Nusantara.
Mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Hanry Sugihastomo mengatakan penyelenggaraan pameran pada bulan Suro memiliki makna filosofis yang mendalam. Dalam tradisi Jawa, bulan tersebut menjadi momentum untuk melakukan refleksi, mendekatkan diri kepada nilai-nilai leluhur, sekaligus merawat pusaka sebagai bagian dari identitas budaya.
“Setiap lekukan keris memiliki cerita, setiap pamor mengandung filosofi. Keris adalah catatan peradaban yang tidak ditulis di atas kertas, melainkan di atas logam. Di dalamnya tersimpan doa, harapan, dan nilai kehidupan yang diwariskan lintas generasi,” ujarnya.
Hanry mengingatkan bahwa pengakuan keris sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan oleh UNESCO pada 2005 merupakan kebanggaan sekaligus amanah bagi seluruh bangsa Indonesia untuk terus melestarikannya.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah regenerasi empu keris. Ia mencontohkan, pada Jambore Nasional Keris 2025 di Keraton Surakarta, lomba pembuatan keris hanya diikuti 16 empu dari seluruh Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya upaya serius dalam mencetak generasi penerus pelestari budaya.
Meski demikian, ia optimistis karena mulai bermunculan empu-empu muda di Jawa Tengah yang memadukan keahlian metalurgi dengan pemahaman filosofi, sejarah, dan estetika keris. Mereka membutuhkan ruang untuk berkarya sekaligus memperkenalkan hasil ciptaannya kepada masyarakat.
Hanry juga mendorong komunitas budaya memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi. Menurutnya, konten kreatif di media sosial mampu menjembatani generasi muda untuk mengenal keris dan berbagai warisan budaya Nusantara.
“Kita hidup di era ketika sebilah keris dapat dikenal jutaan orang melalui satu konten digital yang menarik. Tantangannya adalah bagaimana mendekatkan budaya kepada anak-anak muda dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia mereka,” katanya.
Sementara itu, Pembina DPP Ikatan Paritrana Indonesia, Prof. Hono Sejati, SH., M.H., menegaskan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang membentuk karakter bangsa. Karena itu, seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.
Menurutnya, keris dan tosan aji bukan hanya benda bersejarah, tetapi menyimpan filosofi kehidupan, kepemimpinan, keberanian, kebijaksanaan, hingga semangat persatuan yang diwariskan para leluhur.
“Melestarikan pusaka sejatinya adalah menjaga jati diri Indonesia. Budaya akan tetap hidup apabila diwariskan, dan pusaka akan tetap bermakna apabila dipahami, bukan sekadar disimpan,” tegasnya.
Prof. Hono Sejati mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang dipadukan dengan jamasan pusaka, pentas seni budaya, bakti sosial, dan berbagai kegiatan edukatif. Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengabdian kepada masyarakat.
Ia berharap Ikatan Paritrana Indonesia mampu menjadi organisasi yang terus merangkul generasi muda melalui pendekatan kreatif dan pemanfaatan teknologi digital, sehingga budaya Nusantara tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Ketua DPC IPI Kota Semarang, Ki Demang Bayu, mengatakan penyelenggaraan pameran merupakan bentuk komitmen organisasi dalam menghadirkan budaya lebih dekat dengan masyarakat.
“Pameran ini bukan sekadar memamerkan keris atau pusaka. Ini adalah ikhtiar bersama untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup, dikenal, dan dicintai masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.
Menurut Ki Demang Bayu, setiap bilah keris menyimpan sejarah panjang perjalanan peradaban bangsa. Karena itu, pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada upaya menjaga bendanya, tetapi juga merawat makna, filosofi, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Ia menilai pelestarian budaya hanya dapat berhasil apabila dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku seni, media, dan masyarakat.
Melalui DPC IPI Kota Semarang, pihaknya berkomitmen membangun organisasi yang terbuka, inklusif, edukatif, serta mampu menjadi wadah bagi lahirnya generasi baru pecinta keris, tosan aji, dan budaya Nusantara.
Pameran Pusaka dan Seni Budaya ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan semata menjaga benda bersejarah, tetapi menjaga ingatan kolektif bangsa. Dengan memadukan tradisi, edukasi, kolaborasi, dan teknologi digital, warisan budaya diharapkan tidak hanya lestari, tetapi juga terus tumbuh sebagai sumber inspirasi bagi generasi Indonesia di masa depan. (Christian Saputro)




