SEMARANG — Bulan Bung Karno di Semarang tidak hanya diperingati melalui diskusi dan pameran seni rupa. Semangat Sang Proklamator juga dihidupkan lewat panggung sastra yang memadukan puisi, musik, dan seni pertunjukan dalam acara Panggung Puitika untuk Bung Karno, Kamis (25/6/2026) malam di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian “Sepekan Bung Karno dalam Gerak Rupa, Suara, Sastra” tersebut menghadirkan para penyair, sastrawan, dan pegiat budaya dalam satu panggung yang merayakan gagasan, semangat, serta nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan Bung Karno.
Mewakili para inisiator kegiatan, Daniel Hakiki mengatakan peringatan Bulan Bung Karno tidak dimaksudkan sekadar menjadi agenda seremonial. Menurutnya, kegiatan kebudayaan merupakan ruang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan Bung Karno melalui ekspresi seni yang dekat dengan masyarakat.
“Warisan Bung Karno tidak cukup hanya dikenang melalui pidato atau buku sejarah. Gagasan beliau harus terus dihadirkan dalam ruang-ruang kebudayaan agar tetap berdialog dengan generasi masa kini,” ujarnya.
Daniel menambahkan, kolaborasi antara seni rupa, sastra, musik, dan teater dalam rangkaian Sepekan Bung Karno dalam Gerak Rupa, Suara, Sastra merupakan upaya menghadirkan sejarah sebagai pengalaman yang hidup. Menurutnya, seni memiliki kemampuan menjembatani nilai-nilai kebangsaan dengan bahasa yang lebih mudah diterima lintas generasi.
“Kami ingin menghadirkan Bung Karno bukan sebagai tokoh yang selesai diperingati, tetapi sebagai sumber inspirasi yang terus menggerakkan kreativitas, gotong royong, dan keberanian berkarya untuk Indonesia,” katanya.
Malam sastra itu dipandu oleh Kelana Siwi yang membawa suasana hangat sekaligus reflektif. Pembacaan puisi diselingi dialog kebudayaan, menghadirkan ruang perjumpaan antara sejarah, sastra, dan kesadaran kebangsaan.
Sejumlah penyair tampil membacakan karya-karyanya, di antaranya Basa Alkalam Basuki, Beno Siang Pamungkas, Christian Heru Cahyo Saputro, Imaniar Christi, Teguh Wage Wiyono, Lukni Maulana, Jumadi, Muhammad Agung Ridho, dan Yusri Yusuf. Melalui puisi, mereka menghadirkan kembali suara Bung Karno dalam tafsir yang beragam, mulai dari semangat kemerdekaan, kemanusiaan, hingga pentingnya menjaga persatuan bangsa.
Panggung tersebut juga menggemakan salah satu kutipan paling terkenal dari Bung Karno, “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kalimat itu menjadi benang merah yang menghubungkan setiap penampilan, sekaligus mengajak generasi muda untuk terus bergerak, berkarya, dan mengambil bagian dalam membangun Indonesia.
Rangkaian kegiatan ini diselenggarakan oleh Konsorsium Kerja Budaya bersama sejumlah komunitas seni dan organisasi kebudayaan. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa peringatan Bulan Bung Karno tidak berhenti pada seremoni, melainkan diwujudkan melalui kerja-kerja kebudayaan yang melibatkan berbagai disiplin seni.
Panggung Puitika melengkapi rangkaian peringatan Bulan Bung Karno yang sebelumnya diisi pameran lukisan “JAS MERAH” karya Hartono. Jika seni rupa menghidupkan kembali pemikiran Bung Karno melalui bahasa visual, maka sastra menghadirkannya lewat kekuatan kata-kata yang menyentuh ruang batin publik.
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa warisan Bung Karno tidak hanya tersimpan dalam buku sejarah. Ia terus hidup melalui seni, sastra, dan ruang-ruang kebudayaan yang mengajak masyarakat merawat semangat Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan berkepribadian dalam kebudayaan. (Christian Saputro)




