SEMARANG — Di sebuah ruang pamer yang teduh di Joglo Dewan Kesenian Semarang, waktu seperti berhenti bergerak. Bukan karena dinding-dindingnya dipenuhi lukisan. Bukan pula karena nama besar yang tergantung di setiap kanvas. Melainkan karena di sana sejarah seakan memilih tubuh baru. Ia menjelma warna, garis, tekstur, dan tatapan.
Boeng Karno kembali hadir.
Bukan keluar dari arsip negara. Bukan dari pidato yang diputar ulang melalui pengeras suara. Ia lahir dari sapuan kuas Hartono—pelukis yang selama puluhan tahun menjadikan sejarah, kebudayaan, dan kemanusiaan sebagai ruang perenungannya. Pameran tunggal bertajuk “JAS MERAH”, yang berlangsung pada 20–30 Juni 2026, bukan sekadar rangkaian lukisan tentang seorang presiden. Ia adalah percakapan panjang antara masa lalu dan masa kini; antara ingatan dan kegelisahan; antara Indonesia yang pernah bermimpi besar dengan Indonesia yang hari ini terus mencari arah.
Barangkali Bung Karno memang terlalu besar untuk disimpan hanya dalam buku sejarah. Ia adalah orator yang mampu mengubah pidato menjadi gelombang emosi. Seorang arsitek bangsa yang percaya bahwa revolusi bukan hanya soal politik, melainkan juga kebudayaan. Ia mengoleksi lukisan, mencintai tari, mengagumi arsitektur, dan percaya bahwa bangsa yang kehilangan seni lambat laun akan kehilangan jiwanya. Guru Besar Pendidikan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi menyebut Bung Karno sebagai manusia yang memiliki disposisi estetik yang kuat. Politik dan seni, bagi Bung Karno, bukan dua dunia yang saling berjauhan. Keduanya adalah cara membangun martabat bangsa.
Barangkali karena itulah Hartono tidak melukis Bung Karno sebagai potret. Ia melukisnya sebagai gagasan. Figur-figur yang muncul tidak sepenuhnya realistis. Tubuh-tubuh itu bertemu dengan wayang, simbol Jawa, lanskap imajinatif, dan ledakan warna yang tidak tunduk pada logika fotografi. Yang ingin dihadirkan bukan kemiripan wajah, melainkan denyut pemikiran. Di setiap kanvas, Bung Karno tampak seperti sedang bergerak melintasi waktu. Tatapannya tidak berhenti pada masa silam. Ia justru seperti memandang penonton. Seakan bertanya: masihkah api itu menyala?
Guru Besar Sejarah Kebudayaan Universitas Diponegoro, Dhanang Respati Puguh, melihat tema “JAS MERAH” sebagai pengingat bahwa sejarah bukan museum yang beku. Pesan “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” tidak lahir sebagai slogan yang selesai diucapkan pada 17 Agustus 1966. Ia terus menemukan maknanya setiap kali bangsa ini menghadapi persimpangan. Sejarah, dalam pandangan Dhanang, bukan sekadar hafalan tanggal dan nama tokoh. Ia adalah ruang belajar agar bangsa tidak kehilangan orientasi.
Mungkin karena itulah Hartono tidak menghadirkan nostalgia. Ia menghadirkan kegelisahan. Lukisan-lukisannya tidak meminta penonton mengagumi Bung Karno. Sebaliknya, karya-karya itu mengajak setiap orang bertanya tentang dirinya sendiri: bagaimana bangsa ini merawat keberanian, kebudayaan, dan kemerdekaan yang diwariskan sejarah? Budayawan Erros Djarot menyebut pameran ini sebagai “api yang tak akan padam.” Ungkapan itu terasa menemukan bentuknya ketika berdiri di depan lukisan “JAS MERAH”. Warna-warna menyala bertabrakan dengan bidang gelap. Simbol-simbol berseliweran tanpa kehilangan arah. Sejarah hadir bukan sebagai cerita usang, melainkan sebagai energi yang terus bergerak.
Di sudut lain, “Boeng Ajo Boeng” berbicara tentang keberanian kolektif. Tentang manusia yang saling membangunkan satu sama lain. Tentang bangsa yang merdeka karena memilih berjalan bersama. Sementara “Sang Fajar” memancarkan cahaya yang tenang. Seperti matahari yang tidak pernah tergesa-gesa, tetapi selalu pasti datang. Di tangan Hartono, lukisan tidak berhenti menjadi benda seni. Ia berubah menjadi ruang dialog.
Hartono sendiri telah menempuh perjalanan panjang. Sejak dekade 1980-an, ia terus berpameran dengan tema-tema yang berkelindan pada identitas bangsa. Kebangsaan, perempuan, spiritualitas, sejarah, hingga kemanusiaan menjadi lanskap yang berulang kali ia jelajahi. Pameran ke-20 ini seperti simpul dari perjalanan panjang itu. Bukan sebuah penutup. Melainkan penegasan bahwa seni masih memiliki tugas sosial. Bahwa pelukis bukan hanya pencipta keindahan, melainkan juga penjaga ingatan.
Ketika meninggalkan ruang pamer, yang tertinggal bukan sekadar bayangan wajah Bung Karno. Yang terus mengikuti justru pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai dijawab. Apakah sejarah masih kita baca sebagai guru, atau hanya sebagai upacara tahunan? Apakah kemerdekaan masih dimaknai sebagai keberanian berpikir, atau sekadar slogan yang diulang-ulang? Dan apakah seni masih sanggup menjadi ruang bagi bangsa untuk bercermin?
Barangkali itulah makna terdalam dari pameran ini. Bahwa sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia hanya berganti medium. Dulu ia hidup di podium. Hari ini ia menyala di atas kanvas. Dan selama masih ada seniman yang melukis dengan cinta, sejarah akan selalu menemukan jalan pulang ke dalam hati manusia.
(*)




