SEMARANG — Sebilah keris bukan sekadar pusaka yang tersimpan di balik lemari kaca. Di dalamnya tersimpan jejak sejarah, filosofi hidup, hingga identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Kesadaran itulah yang menjadi semangat Paguyuban Puriwiji saat melakukan estafet kepemimpinan kepada generasi berikutnya.
Dalam acara serah terima kepengurusan yang berlangsung di Sekretariat Puriwiji, Sukorejo, Gunungpati, Semarang, Kamis (25/6/2026), Asdar Winanto resmi menerima amanah sebagai Ketua Paguyuban Puriwiji periode 2026–2031. Penetapan tersebut dilakukan melalui musyawarah yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan penuh kebersamaan.
Pergantian kepemimpinan ini menandai babak baru perjalanan Puriwiji, komunitas pemerhati keris dan tosan aji yang telah berdiri sejak 2 April 1995 dan selama lebih dari tiga dekade konsisten menjaga, mengkaji, serta mengenalkan warisan budaya Nusantara kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, Asdar menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan para sesepuh dan anggota paguyuban. Ia menyadari bahwa dunia perkerisan merupakan bidang yang luas dan sarat nilai budaya. Namun, keterbatasan pengetahuan bukan menjadi alasan untuk berhenti melangkah.
“Saya mungkin belum banyak mengetahui tentang keris, tetapi saya memiliki semangat untuk meneruskan perjuangan para pendahulu. Apa yang telah dirintis selama ini akan kami lanjutkan dan kembangkan bersama,” ujar Asdar.
Bagi Asdar, tantangan terbesar pelestarian budaya saat ini bukan sekadar menjaga keberadaan benda pusaka, melainkan memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dipahami dan diwariskan kepada generasi muda. Karena itu, regenerasi menjadi agenda utama kepengurusan yang baru.
Ia menilai keris dan tosan aji merupakan simbol peradaban yang memuat sejarah, filsafat, etika, serta pandangan hidup masyarakat Nusantara. Jika generasi muda tidak diperkenalkan sejak dini, maka kekayaan budaya tersebut berpotensi kehilangan pewarisnya.
Untuk menjawab tantangan itu, Puriwiji akan memperkuat program edukasi budaya melalui kolaborasi dengan museum, komunitas budaya, serta sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga menengah.
“Kami ingin hadir di sekolah-sekolah untuk memperkenalkan budaya dan warisan leluhur kepada para siswa. Generasi muda harus mengenal budayanya sendiri agar tidak kehilangan jati diri,” katanya.
Selain pendidikan budaya, Puriwiji juga berkomitmen membangun sinergi dengan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Menurut Asdar, pelestarian budaya tidak dapat dilakukan sendiri oleh komunitas, melainkan memerlukan dukungan dan keterlibatan banyak pihak.
“Kami berharap pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat bersama-sama mendukung upaya pelestarian budaya. Dengan semangat gotong royong, warisan leluhur akan tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang,” tuturnya.
Pesan Regenerasi dari Pendiri
Sebelum prosesi serah terima berlangsung, Ketua Paguyuban Puriwiji periode sebelumnya, ST Sukirno, menyampaikan pesan yang sarat makna tentang pentingnya regenerasi dalam organisasi budaya.
Salah satu pendiri Puriwiji itu menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan merupakan proses alamiah yang harus dijalani setiap organisasi agar tetap tumbuh dan relevan menghadapi perkembangan zaman.
“Organisasi harus terus berjalan. Kepemimpinan boleh berganti, tetapi semangat untuk melestarikan budaya tidak boleh berhenti. Kita harus memberi ruang kepada generasi berikutnya untuk melanjutkan perjuangan ini,” ujarnya.
Menurut Sukirno, keris dan tosan aji tidak hanya bernilai sebagai artefak budaya, tetapi juga merepresentasikan kebijaksanaan, karakter, dan identitas bangsa yang perlu terus dirawat.
Ia mengingatkan bahwa banyak negara maju berusaha menjaga warisan budayanya sebagai sumber kekuatan nasional. Indonesia, dengan kekayaan budaya yang jauh lebih beragam, semestinya memiliki kebanggaan yang lebih besar terhadap warisan leluhurnya.
“Kita memiliki warisan budaya yang luar biasa. Tugas kita bukan hanya menyimpannya, tetapi juga memperkenalkannya kepada masyarakat luas agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” katanya.
Di penghujung sambutannya, Sukirno mengajak seluruh anggota untuk terus menjaga persaudaraan dan mendukung kepengurusan baru agar cita-cita pelestarian budaya dapat terus berjalan.
“Siapa pun yang memimpin, tujuan kita tetap sama, yaitu memuliakan budaya adiluhung dan menjaga warisan leluhur agar tetap lestari untuk generasi mendatang,” tuturnya.
Didirikan pada 2 April 1995 oleh ST Sukirno, Suparwoto, Tomo, dan Jati P., Paguyuban Puriwiji hingga kini menjadi salah satu komunitas pelestari keris dan tosan aji yang aktif di Kota Semarang. Melalui kepengurusan baru di bawah Asdar Winanto, organisasi tersebut berharap dapat memperkuat perannya sebagai ruang belajar budaya sekaligus jembatan yang menghubungkan kearifan masa lalu dengan generasi masa depan.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, Puriwiji percaya bahwa budaya tidak boleh hanya menjadi kenangan. Ia harus tetap hidup, dipelajari, dan diwariskan. Sebab, dari sanalah sebuah bangsa mengenali dirinya.
Susuunan Pengurus Paguyuban Puriwiji
Periode 2026-2031
Pelindung/Penasehat: Stefanus Sukirno, Suparwoto, Tomo, Jati P.
Ketua: Asdar Winanto
Wakil Ketua: Surono
Sekretaris: Rio, Tommy
Bendahara: Aris K., Sarmono
Bidang Edukasi: Priya, Deddy H.
Bidang Pelestarian: Watt, Priyo, Imam
Kurator: Surono, Aris K.
Bidang Dana: Yoyok S., Ronald
Hubungan Masyarakat: Agus BS, Bandono, Widiyanto
Bidang Umum: Jayeng, Untung.
(Christian Saputro)




