SELAT SUNDA — Di antara Pulau Jawa dan Sumatra, terdapat sebuah luka purba yang kini berbalut keindahan. Selat Sunda, dengan lebar sekitar 30 kilometer, bukan sekadar jalur pelayaran atau batas geografis. Ia adalah monumen bencana kosmik yang telah berevolusi menjadi lanskap kehidupan. Di tengah perairannya, gugusan kepulauan vulkanik—termasuk Anak Gunung Krakatau—berdiri sebagai penjaga bisu atas memori bumi yang pernah hancur dan lahir kembali.
Sains dan legenda berbicara dalam bahasa yang berbeda, namun keduanya sepakat pada satu hal: selat ini terbentuk dari kehancuran. Pandangan geologis menyebutnya sebagai letusan katastropik Krakatau Purba ribuan tahun silam. Ledakan dahsyat itu menghancurkan tiga perempat tubuh gunung asli, menyisakan kaldera raksasa di dasar laut. Material vulkanik yang dimuntahkan dan ambruknya daratan dipercaya memisahkan dua pulau besar, menciptakan celah yang kini kita kenal sebagai Selat Sunda. Hipotesis lain menambahkan bahwa naiknya permukaan air laut akibat mencairnya es ribuan tahun lalu turut menenggelamkan Dataran Sunda, memperkuat pemisahan yang sudah dimulai oleh api bawah tanah.
Namun, bagi para leluhur yang hidup di tepi selat ini, penjelasan ilmiah hanyalah satu sisi dari kebenaran. Cerita rakyat menuturkan kisah Prabu Rakata yang membelah tanah demi mengakhiri perseteruan kedua putranya. Kendi sang prabu diyakini berubah menjadi Gunung Krakatau, berdiri tegak di tengah selat sebagai simbol rekonsiliasi yang abadi. Pujangga Ronggowarsito, dalam seratnya tahun 1869, bahkan mencatat peristiwa terbelahnya tanah Jawa dan Sumatera terjadi pada 416 Masehi. Angka-angka mungkin berbeda, namun intuisi kolektif tentang trauma geologis yang membentuk identitas wilayah ini tetap sama.
Letusan Krakatau 1883 adalah bab terbaru dalam saga panjang ini. Bencana yang mengguncang dunia itu bukan akhir, melainkan awal dari kelahiran baru. Dari abu dan kehampaan, Anak Gunung Krakatau muncul perlahan, membangun tubuhnya dari material yang sama yang pernah menghancurkan pendahulunya. Kini, ia bukan lagi simbol kemurkaan, melainkan bukti ketahanan alam. Kehadirannya mengingatkan bahwa keindahan di Selat Sunda tidak gratis; ia dibeli dengan harga kehancuran total.
Selat Sunda mengajarkan paradoks yang mendalam: bahwa kehancuran dan penciptaan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Luka purba yang ditinggalkan Krakatau Purba tidak tertutup oleh waktu, melainkan diisi oleh air laut, kehidupan laut, dan imajinasi manusia. Ia menjadi ruang perjumpaan antara sains dan mitos, antara trauma masa lalu dan harapan masa depan.
Ketika kapal melintas di perairan ini hari ini, penumpang tidak hanya menyaksikan pemandangan laut biru dan siluet gunung api. Mereka sedang melayari memori bumi yang pernah retak. Selat Sunda adalah pengingat bahwa keindahan sejati sering kali lahir dari rahim bencana, dan bahwa luka terdalam pun bisa bertransformasi menjadi sumber kehidupan yang tak ternilai. Di balik birunya selat ini, tersimpan pelajaran abadi tentang resilensi: bahwa setelah segala sesuatu hancur, alam selalu menemukan cara untuk memulai lagi.
(Christian Saputro)




