SELAT SUNDA — Laut di Selat Sunda tak pernah benar-benar diam. Di permukaannya, ombak bergulung tenang seolah menyembunyikan rahasia. Namun jauh di bawah dasar laut, bumi terus bekerja dalam sunyi, menyusun bab demi bab kisah yang berlangsung selama ribuan tahun. Dari rahim yang gelap itulah lahir sebuah gunung muda yang hingga kini masih tumbuh: Gunung Anak Krakatau.
Ia bukan sekadar gunung api. Ia adalah anak kandung dari salah satu letusan paling dahsyat yang pernah dicatat manusia. Sebuah monumen yang berdiri di atas puing-puing kehancuran leluhurnya sendiri.
Jauh sebelum namanya dikenal dunia, berdiri sebuah gunung api raksasa menjulang hampir dua ribu meter. Gunung Krakatau purba menguasai cakrawala Selat Sunda. Lerengnya menghijau, tubuhnya kokoh, seolah akan abadi. Namun di balik ketegaran itu, dapur magma terus mengumpulkan tenaga yang suatu saat akan mengubah wajah bumi.
Sekitar tahun 416 Masehi, ledakan besar mengguncang kawasan itu. Sebagian tubuh gunung runtuh ke dalam perut bumi, meninggalkan cekungan raksasa selebar sekitar tujuh kilometer. Kaldera purba itu menjadi luka pertama yang kemudian membentuk tiga pulau yang masih bertahan hingga kini: Rakata, Sertung, dan Panjang. Tebing-tebingnya menjadi saksi bisu bahwa gunung sebesar apa pun dapat lenyap dalam sekejap.
Berabad-abad kemudian, bumi kembali menunjukkan kuasanya.
Pada Agustus 1883, Krakatau meletus dengan kedahsyatan yang menggema hingga ribuan kilometer. Langit menghitam, debu vulkanik menyelimuti atmosfer, suara ledakannya terdengar sampai Australia dan Samudra Hindia. Gelombang tsunami menerjang pesisir Banten dan Lampung, menelan puluhan ribu nyawa. Letusan itu bukan sekadar menghancurkan gunung, melainkan memperbesar kaldera yang telah terbentuk sejak berabad-abad sebelumnya.
Namun alam tidak hanya mengenal kehancuran.
Di dasar kaldera yang masih menyimpan panas, magma perlahan mencari jalan keluar. Sedikit demi sedikit material vulkanik menumpuk di dasar laut. Tak terlihat oleh mata manusia, tetapi bumi sedang membangun kehidupan baru dari puing-puing tragedi.
Hingga pada 1927, permukaan laut mulai bergolak. Setahun kemudian, sebuah pulau kecil muncul ke permukaan. Itulah kelahiran Gunung Anak Krakatau—sebuah gunung muda yang terus bertumbuh, seolah menjadi bukti bahwa alam selalu menemukan cara untuk memulai kembali.
Sejak saat itu, pertumbuhannya tak pernah berhenti. Setiap letusan menambahkan lapisan demi lapisan batuan baru. Namun pertumbuhan itu juga diiringi kehancuran. Anak Krakatau hidup dalam siklus yang sama seperti induknya: tumbuh, runtuh, lalu bangkit kembali.
Siklus itu kembali terlihat pada Desember 2018. Sebagian tubuh gunung longsor ke laut setelah erupsi besar. Runtuhan tersebut memicu tsunami yang kembali menyapu pesisir Banten dan Lampung. Duka kembali mengingatkan bahwa gunung api bukan hanya pembentuk daratan, melainkan juga pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan kekuatan alam yang tak sepenuhnya dapat ditaklukkan.
Kini, kerucut baru kembali menjulang dari dalam kaldera purba. Asap putih sesekali mengepul dari puncaknya, pertanda dapur magma masih bekerja tanpa henti. Gunung itu terus menulis riwayatnya sendiri—lapis demi lapis, letusan demi letusan.
Di hadapan Gunung Anak Krakatau, waktu terasa memiliki makna yang berbeda. Apa yang bagi manusia adalah bencana, bagi bumi hanyalah satu babak dalam proses geologi yang berlangsung tanpa jeda. Dari kehancuran lahir kehidupan baru, dari kaldera purba tumbuh gunung muda yang kelak mungkin akan mengulang kisah leluhurnya.
Anak Krakatau mengajarkan satu hal: bumi tidak pernah benar-benar selesai berkarya. Ia terus membentuk dirinya sendiri, mengubah luka menjadi lanskap, menjadikan kehancuran sebagai awal dari sebuah kelahiran baru. Di sanalah, di tengah Selat Sunda, sejarah dan masa depan geologi Indonesia terus ditulis oleh api yang menyala dari perut bumi.(Christian Saputro)




