KAZAN, RUSIA – Terobosan baru dalam kerja sama ekonomi Indonesia dan Rusia lahir dari ajang Russia–ASEAN Business Forum 2026 di Kazan, Republik Tatarstan. PT Manna Indonesia Group menginisiasi pengembangan sistem cross-border payment gateway yang diharapkan menjadi solusi transaksi keuangan bagi wisatawan, pelaku usaha, hingga investor kedua negara.
Founder dan CEO PT Manna Indonesia Group, Hanzela Calista, mengatakan gagasan tersebut muncul di sela-sela forum bisnis internasional ketika dirinya menjadi salah satu pembicara yang mewakili delegasi Indonesia.
“Kami menggagas kerja sama cross-border payment gateway sebagai upaya mempermudah transaksi bilateral Indonesia dan Rusia. Inisiatif ini lahir saat pelaksanaan Russia–ASEAN Business Forum 2026,” ujar Hanzela kepada media.
Menurutnya, pengembangan teknologi finansial (fintech) membuka peluang menghadirkan sistem pembayaran yang lebih aman, efisien, dan praktis bagi masyarakat kedua negara. Selama ini, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Rusia masih menghadapi kendala dalam melakukan pembayaran, begitu pula wisatawan Rusia saat berada di Indonesia.
Melalui skema yang tengah dikembangkan, wisatawan Indonesia nantinya dapat melakukan pembayaran belanja, transportasi, hingga berbagai kebutuhan lainnya di Rusia tanpa harus melalui proses penukaran mata uang secara berulang. PT Manna saat ini juga menjajaki kerja sama dengan mitra remitansi untuk mendukung implementasi sistem tersebut.
Sebaliknya, wisatawan Rusia yang berkunjung ke Indonesia juga akan memperoleh kemudahan serupa. Mereka cukup menggunakan kartu SIM Telkomsel yang telah didaftarkan (whitelist), mengunduh aplikasi LinkAja, kemudian dapat bertransaksi di Indonesia dengan batas penggunaan hingga Rp40 juta per bulan dan maksimal Rp20 juta untuk setiap transaksi.
“Inovasi ini tidak hanya memudahkan pembayaran, tetapi juga mengurangi biaya konversi mata uang yang selama ini menjadi beban wisatawan,” kata Hanzela.
Ia menjelaskan, integrasi sistem pembayaran tersebut juga akan dikaitkan dengan paket perjalanan wisata. Wisatawan Rusia yang membeli paket wisata ke Indonesia nantinya dapat langsung mengakses aplikasi pembayaran sehingga dana yang dibawa dapat digunakan untuk berbagai transaksi selama berada di Indonesia.
Menurut Hanzela, skema baru tersebut juga menghilangkan ketergantungan wisatawan Rusia terhadap aset kripto sebagai perantara transaksi di Indonesia. Sebelumnya, sebagian wisatawan harus mengonversi dana ke mata uang kripto sebelum akhirnya ditukar menjadi rupiah untuk berbelanja.
“Melalui sistem ini, mereka tidak lagi harus membeli atau menukarkan aset kripto terlebih dahulu. Transaksi menjadi jauh lebih sederhana dan efisien,” ujarnya.
Selain memperkenalkan inovasi pembayaran digital, delegasi Indonesia juga aktif mengikuti berbagai pembahasan mengenai peningkatan kerja sama perdagangan, investasi, teknologi, energi, logistik, ekonomi digital, hingga pembangunan berkelanjutan dalam forum tersebut.
Hanzela mengungkapkan, sejumlah institusi penting di Rusia memberikan respons positif terhadap peluang kerja sama dengan Indonesia. Di antaranya Russian Export Center (REC), Moscow Export Center, Ministry of Economic Development of the Russian Federation, Credit Europe Bank Russia, serta Industrial Cluster of the Republic of Tatarstan.
Menurutnya, dukungan berbagai lembaga tersebut menjadi sinyal positif bagi penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia, sekaligus membuka peluang lahirnya ekosistem pembayaran lintas negara yang lebih terintegrasi.
Apabila terealisasi, cross-border payment gateway ini diyakini tidak hanya memperlancar aktivitas wisata dan perdagangan, tetapi juga menjadi fondasi baru bagi penguatan kerja sama ekonomi digital antara Indonesia dan Rusia di tengah meningkatnya hubungan bilateral kedua negara. (Christian Saputro)




