SEMARANG — Festival film pendek internasional La Fête du Court Métrage – Edisi Indonesia resmi dibuka di Gedung Oudetrap, kawasan Kota Lama, Semarang, Selasa (31/3/2026). Pembukaan dilakukan oleh Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty.
Festival yang berlangsung hingga 2 April 2026 ini merupakan hasil kolaborasi antara Alliance Française bersama komunitas lokal seperti Sineroom Semarang, Hysteria, dan Eling Cinema.
Kolaborasi ini menghadirkan ruang pertemuan lintas budaya yang menggabungkan perspektif global dan lokal dalam satu panggung sinema.
Kegiatan ini terinspirasi dari Festival International du Court Métrage Clermont-Ferrand, salah satu festival film pendek terbesar di dunia. Sejumlah film yang diputar mengangkat beragam isu, mulai dari sosial, budaya, hingga eksplorasi artistik.
Selain pemutaran film, festival ini juga menghadirkan diskusi sebagai ruang refleksi. Diskusi menghadirkan sineas Harris Yuliyanto serta Ketua Sineroom Semarang Ardian Agil.
Sejumlah film pendek yang ditayangkan antara lain Basri & Salma in a Never Ending Comedy karya Khozy Rizal, Where The Wild Frangipanis Grow karya Nirartha Bas Diwangkara, Darah Ksatria garapan Widya Arafah bersama Arjuna Asa, serta Tak Ada yang Gila di Kota Ini karya Wregas Bhanuteja.
Dalam diskusi, para narasumber menekankan bahwa film pendek memiliki kekuatan dalam menyampaikan realitas sosial secara jujur. Beberapa karya bahkan sengaja menghadirkan rasa tidak nyaman sebagai cara untuk menggugah kesadaran penonton.
“Film tidak harus memoles realitas menjadi indah. Justru kejujuran dalam menggambarkan situasi sosial menjadi kekuatan utama,” ujar salah satu pembicara.
Penonton pun diajak untuk tidak sekadar menikmati film sebagai hiburan, tetapi juga memahami pengalaman emosional dari isu-isu yang diangkat, seperti ketimpangan sosial hingga kegelisahan masyarakat.
Diskusi juga menyinggung keberhasilan film Indonesia di kancah internasional. Keberanian sineas dalam mengangkat cerita lokal secara autentik dinilai menjadi faktor penting yang membuat karya memiliki daya tarik global.
Melalui kolaborasi lintas komunitas dan negara, festival ini tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga membuka ruang dialog yang lebih luas. Film pendek pun kian menegaskan perannya sebagai medium refleksi sosial sekaligus jembatan budaya di tengah masyarakat. (Christian Saputro)




