Festival mural yang diselenggarakan Hysteria Artlab mengusung tema “Aturan Awuren”, yang merupakan manifesto perjalanan 21 tahun Hysteria. Tema ini menjadi landasan utama dalam pelaksanaan program sekaligus mencerminkan cara kerja kolektif tersebut dalam merespons dinamika.
Seniman Hysteria Artlab, Winatra Wicaksana, menjelaskan bahwa “Aturan Awuren” bukan sekadar tema, melainkan prinsip kerja yang selama ini dipegang oleh Hysteria. Manifesto ini menekankan pentingnya tetap berjalan, meski dalam kondisi yang tidak selalu terencana.
“Aturan Awuren itu seperti pegangan. Ketika kita mentok dalam menjalankan program, ya tetap dijalankan saja. Yang penting tetap bergerak, tetap berpegang pada visi, tapi juga bisa beradaptasi dengan situasi,” ujar Winatra.
Ia mencontohkan, festival mural yang saat ini berlangsung sebenarnya tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal. Program tersebut awalnya hanya difokuskan pada kegiatan internal di Ditampart, tanpa ada rencana untuk melibatkan ruang kampung secara lebih luas.
Namun, dinamika yang muncul di lapangan justru membawa arah baru bagi program tersebut. Tawaran kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk dari komunitas dan mitra luar, menjadi faktor yang mendorong perluasan skala kegiatan.
“Awalnya program ini hanya untuk Ditampart, tidak ada rencana masuk kampung atau merombak ruang. Tapi ternyata, tema yang kita angkat malah terjadi. Ada tawaran dari berbagai pihak di luar rencana, dan itu jadi dinamika baru,” katanya.
Perkembangan tersebut akhirnya menjadikan program ini bertransformasi menjadi festival mural yang melibatkan lebih banyak seniman dan ruang publik. Bahkan, kegiatan ini disebut sebagai festival mural pertama yang diselenggarakan oleh Hysteria Artlab.
Selain itu, festival ini juga menjadi bagian dari program berdikari yang diinisiasi Hysteria sebagai respons terhadap berbagai dinamika yang berkembang. Hal ini sejalan dengan semangat “Aturan Awuren” yang menekankan fleksibilitas sekaligus konsistensi dalam berkarya.
“Awalnya hanya ingin mewarnai ruang, tapi akhirnya berkembang menjadi festival mural. Banyak tawaran dan antusiasme seniman yang ingin terlibat, sehingga program ini ikut berubah,” ujar Winatra.
Menurutnya, keterlibatan banyak seniman dalam festival ini menunjukkan adanya kebutuhan akan ruang ekspresi yang terbuka dan inklusif. Hysteria Artlab berupaya menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan program yang adaptif dan responsif.
Melalui festival mural ini, Hysteria tidak hanya menghadirkan karya seni di ruang publik, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi antar seniman dan komunitas. Hal ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan praktik seni yang relevan dengan konteks sosial.
Dengan mengusung “Aturan Awuren” sebagai manifesto, Hysteria Artlab menunjukkan bahwa ketidakterdugaan dalam proses justru dapat menjadi sumber kreativitas dan inovasi. Prinsip tersebut menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan gerakan seni yang dinamis dan kontekstual. (Christian Saputro)




