Sumaterapost.co, Lambar — Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus menerima kunjungan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bandar Lampung di ruang kerja Bupati, Rabu 24/6/2026. Pertemuan membahas penguatan pengawasan obat, makanan, serta pembinaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Lampung Barat.
Wakil Bupati Mad Hasnurin, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pirwan, serta sejumlah kepala perangkat daerah turut mendampingi Bupati saat menerima rombongan.
Kepala Balai Besar POM Bandar Lampung Bagus Heri Purnomo menyampaikan tiga fokus kerja BPOM ke depan di Lampung Barat. Pertama, pemberdayaan masyarakat melalui edukasi pemilihan obat dan makanan aman. Edukasi dimulai dari bahan baku hingga siap konsumsi.
Kedua, pembinaan UMKM. Saat ini 10 industri kopi di Lampung Barat telah memiliki izin edar BPOM. BPOM mendorong hilirisasi kopi agar produk unggulan daerah bisa memenuhi standar ekspor.
Ketiga, dukungan program prioritas pemerintah. BPOM masuk dalam satuan tugas Makan Bergizi Gratis (MBG). BPOM juga menginisiasi program Desa Aman Pangan dan Sekolah Aman Pangan untuk menjamin keamanan pangan MBG.
“Sejak awal 2025 kami telah melakukan pembekalan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait keamanan pangan,” kata Bagus.
BPOM juga menyoroti pengawasan antibiotik. Menurut Bagus, penjualan antibiotik tanpa resep dokter dan dosis yang tidak sesuai masih terjadi di apotek. Kondisi ini berpotensi menimbulkan resistensi antibiotik.
“Perlu peran pemerintah daerah bersama pelayanan kesehatan untuk mengendalikan resistensi antibiotik akibat dosis yang tidak tepat,” ujarnya.
Bupati Parosil menyambut baik koordinasi BPOM ke Lampung Barat. Ia menilai sinergi pengawasan obat dan makanan penting mengingat pertumbuhan usaha di daerah yang pesat.
“Kunjungan kerja BPOM hari ini membangun koordinasi dan komunikasi. Salah satu hal penting yang jadi perhatian Lampung Barat adalah kesehatan,” kata Parosil.
Bupati juga menekankan pentingnya edukasi ke masyarakat, bukan hanya ke pelaku usaha. Banyak toko baru yang dibangun masyarakat namun minim pengawasan.
“Keselamatan anak-anak ke depan jadi prioritas. Kehadiran program MBG adalah solusi, tetapi harus ada pengawasan bersama agar produk yang dihasilkan layak, sehat, dan bermanfaat untuk tumbuh kembang gizi anak,” katanya.
Parosil menambahkan, pengawasan kantin sekolah juga perlu diperkuat. Takaran sosis dan jajanan sekolah harus sesuai standar. Ia meminta BPOM memberi masukan terkait hilirisasi kopi dan ikan, dua produk unggulan Lampung Barat.
“Jangan fokus UMKM saja. Produk yang diekspor pelaku UMKM harus memenuhi standar agar bisa diterima dunia,” tutup Parosil.




