BPR NBP Group Targetkan Peningkatan Laba Sebesar 20 persen Tahun 2022

Direktur Utama NBP Holding Hendi Apriliyanto

Jakarta, Sumaterapost.co – Bank Perkreditan Rakyat Nusantara Bona Pasogit (BPR-NBP) dibawah PT Nusantara Bona Pasogit (NBP) Group, sebagai Holding, menargetkan peningkatan laba sebesar 20% dibanding tahun 2021.

Menurut Hendi Apriliyanto, Direktur Utama NBP Holding, optimis peningkatan laba sebesar itu, mengingat di Indonesia, pandemi mengalami penurunan yang signifikan, serta bisnis BPR NBP relatif stabil bahkan mengalami peningkatan.

Untuk mencapai peningkatan laba seperti yang ditargetkan BPR NBP Group, mereka meningkatkan sasaran penyaluran kredit yaitu sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), yang langsung disalurkan ke pasar-pasar tradisional, industri kecil dan perdagangan yang terkait dengan transaksi online serta sektor-sektor lainnya, yang ditingkatkan capaian kreditnya 15% diatas tahun 2021.

NBP sebagai Holding, atas 28 BPR di Indonesia berupaya memberi pelayanan terbaik bagi nasabah-nasabahnya.
Dari sisi dana, BPR NBP terus meningkatkan kinerjanya. Berkat sistim teknologinya yang terus diterapkan di semua BPR, mendorong peningkatan usaha BPR, produk-produk tabungan terus ditingkatkan, sehingga target dana untuk tahun 2021 dapat tercapai. Berdasarkan hal tersebut, Dana ditargetkan pada tahun 2022, sebesar 10% dari capaian 2021.

Baca Juga :  Gubernur Aceh: Yakinlah Adat Aceh Sangat Penting dan Strategis

“Kami memiliki harapan yang tinggi untuk keberhasilan pencapaian usaha NBP tahun 2022, karena dana yang ada di BPR NBP selama pandemic covid-19, relatif stabil bahkan naik,” papar Hendi usai memimpin rapat kerja yang di hadiri seluruh pengurus BPR NBP di Indonesia itu.

Non Performing Loan (NPL), juga berupaya diturunkan minimal 25 % dari total NPL per Desember 2021, sehingga untuk tahun 2022, penurunan NPL diharapkan bisa turun drastis.
Seminar yang digelar NBP Group itu menampilkan pembicara ekonom Bima Yudistira dan pengamat bisnis perbankan Joko Santoso, dengan judul Penyusunan Rencana Bisnis BPR Pasca Pandemi dan Prospek Ekonomi 2022, di Bogor, Jawa Barat Sabtu 23/10/2021.

Hendi menyatakan, pihaknya beserta seluruh Pengurus PT BPR NBP bertambah keyakinannya, setelah mendengarkan paparan proyeksi usaha terkait BPR dan bisnis yang disampaikan ekonom Bima Yudistira dan Senior banker Djoko Nugroho

NBP Group telah mempersiapkan berbagai rencana bisnis yang relevan dan sejalan dengan usaha BPR NBP dimasa pandemi dengan berbagai inovasi bisnis lainnya, dengan terus berusaha dilandasi kerja keras sehingga mampu bertahan dan terus tumbuh di masa pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Gema MKGR Prov. Lampung 2022-2027 Sah Dilantik, Ketua Aris Pratama Optimis Hadapi Pesta Demokrasi 2024

Secara terpisah Komisaris Utama PT NBP Holding, Martin Erwan mendukung seraya mengingatkan seluruh pengurus BPR NBP Group yang berada dibawah PT NBP Holding, untuk tetap hati-hati (prudent) sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sesuai dengan yang digariskan oleh perseroan dalam menjalankan usaha BPR, termasuk dalam penyaluran kredit.

“Kami berharap seluruh pengurus perseroan, baik di holding maupun di anak perusahaan untuk tetap menjalankan usaha sesuai ketentuan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian,” pinta Martin.

Ketika berbicara dalam seminar tadi, ekonom Bhima Yudistira juga membahas tentang pemulihan ekonomi dan peluang usaha 2022. Dia menyebutkan Indonesia mengalami low base effect sehingga IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2022 mencapai 5,9 %.

“Ada 5 faktor utama pada 2022 yaitu “unequal growth” pertumbuhan ekonomi tidak merata di semua sektor berbentuk huruf K-Shaped. Selain itu inflasi menjadi ancaman serius di 2022,” ungkap Bhima.

Gabungan antara pelemahan kurs rupiah karena tapering eff the Fed dan naiknya sisi permintaan. Tak hanya itu, harga hampir semua seluruh komoditas ekspor mengalami kenaikan signifikan seiring testarting ekonomi di negara mitra dagang.

Baca Juga :  Gelar Festival Nusantara Gemilang, Kapolri: Pesan Moral Pentingnya Jaga Persatuan dan Kesatuan

Menyinggung tentang model pemulihan ekonomi K-Shaped, Bhima menyebutkan penerimaan pajak di dalam negara akan dikejar. Kebijakan kebijakan pajak akan berpengaruh ke rencana bisnis.
“Seperti tax amnesty dan meningkatnya tarif PPN menjadi 11 %. Tarif PPN 11 % berlaku pada April 2022. Hal ini berdampak terhadap daya beli. Meski kenaikan tarif PPN 1 % dari sebelumnya 10 % diperkirakan tetap memicu inflasi,” rinci Bhima.

Berbicara, tentang bisnis bank, Senior Banker, Djoko Nugroho menyebutkan ada dua faktor yang perlu diperhatikan.Pertama faktor eksternal dan internal yang dapat memengaruhi kelangsungan
usaha Bank. Kedua, prinsip kehati-hatian dan asas perbankan yang sehat.

Sedangkan Rencana Bisnis, paling sedikit.menurut Djoko meliputi rencana pengembangan dan pengadaan teknologi informasi dan pengembangan.

Begitu juga rencana pelaksanaan kegiatan usaha baru bagi BPR atau rencana penerbitan produk dan pelaksanaan aktivitas baru bagi BPR meliputi rencana pengembangan dan/atau perubahan jaringan kantor; dan. informasi lainnya.(tiar)