Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis
Di zaman ketika manusia begitu mudah berbicara tentang cinta, justru welas asih sering kali menjadi sesuatu yang langka. Kata “cinta” beredar di media sosial, di kartu ucapan, di lagu-lagu populer. Ia dirayakan dengan bunga, cokelat, dan kalimat manis. Namun tidak semua cinta mampu bertahan ketika berhadapan dengan penderitaan orang lain.
Sering kali cinta berhenti pada perasaan. Ia hangat ketika keadaan menyenangkan, tetapi menghilang ketika hidup menjadi sulit. Di situlah manusia mulai menyadari bahwa cinta yang sejati tidak sekadar rasa, melainkan kekuatan batin yang mampu memahami penderitaan sesama.
Dalam tradisi Buddhis, kasih sayang tidak dimaknai sebagai romantika semata. Ia dipahami sebagai welas asih yang aktif—kesediaan untuk mendengar, merasakan, dan menolong tanpa pamrih. Nilai ini dipersonifikasikan dalam sosok Guanyin, yang dalam tradisi Tionghoa dikenal sebagai Dewi Kwan Im.
Ia dipercaya sebagai Bodhisattva yang mendengar jeritan dunia dan menolong makhluk yang menderita.
Legenda Pengorbanan Miao Shan
Salah satu kisah paling terkenal tentang Dewi Kwan Im berasal dari legenda Putri Miao Shan. Ia adalah putri bungsu Raja Miao Chong, seorang perempuan yang sejak muda dikenal lembut, penuh empati, dan memiliki kecenderungan spiritual yang kuat.
Sang ayah menghendaki Miao Shan menikah demi kepentingan politik kerajaan. Namun sang putri memilih jalan berbeda: ia ingin menjalani kehidupan spiritual sebagai bhiksuni. Keputusan itu membuat sang raja murka.
Kisah ini mencapai puncaknya ketika sang raja jatuh sakit parah. Penyakit itu hanya dapat disembuhkan dengan ramuan yang berasal dari mata dan tangan seseorang yang bersedia berkorban secara tulus.
Tanpa ragu sedikit pun, Miao Shan mempersembahkan mata dan lengannya demi menyelamatkan ayahnya.
Pengorbanan itu menjadi simbol cinta yang melampaui luka, kemarahan, bahkan ketidakadilan yang pernah ia alami. Dalam tradisi spiritual, pengorbanan tersebut dipercaya sebagai titik ketika Miao Shan mencapai kesempurnaan batin dan kemudian dihormati sebagai Dewi Kwan Im—Sang Dewi Welas Asih.
Hari Kelahiran Sang Dewi
Dalam kalender Tionghoa, umat memperingati hari kelahiran Dewi Kwan Im pada tanggal 19 bulan kedua Imlek. Tahun ini jatuh pada 19 Maret.
Perayaan ini biasanya dilaksanakan di tempat-tempat ibadah yang menjadikan Dewi Kwan Im sebagai altar utama, seperti Pagoda Avalokitesvara, Klenteng Tien Kok Sie, dan Vihara Bodhisatva.
Umat datang membawa dupa, bunga, dan doa. Asap dupa naik perlahan, mengisi ruang ibadah dengan suasana hening dan khidmat.
Namun lebih dari sekadar ritual, perayaan ini sesungguhnya adalah pengingat tentang nilai dasar yang diajarkan Dewi Kwan Im: kasih sayang kepada sesama.
Karena itu banyak orang Tionghoa menyebutnya dengan penuh hormat sebagai Mak Co—Sang Ibu yang penuh cinta kasih.
Kasih Sayang yang Relevan Hari Ini
Dalam dunia modern yang dipenuhi persaingan, kemarahan di media sosial, serta ego yang mudah tersulut, ajaran welas asih terasa semakin relevan.
Dewi Kwan Im mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar perasaan. Cinta adalah tindakan.
Kasih sayang berarti mampu memahami penderitaan orang lain.
Kasih sayang berarti menolong tanpa menghitung untung dan rugi.
Kasih sayang berarti tetap berbuat baik bahkan ketika disalahpahami.
Dalam tradisi kebijaksanaan Tionghoa, nilai-nilai ini sering diajarkan melalui berbagai petuah moral yang sederhana tetapi mendalam.
Menghargai kebaikan orang lain, tetapi melupakan jasa yang pernah kita berikan.
Menegur kesalahan dengan kata-kata yang lembut.
Menolong orang lain tanpa perlu diketahui banyak orang.
Dalam pandangan ini, cinta bukan sekadar emosi. Ia adalah latihan moral yang dijalani setiap hari.
Dua Puluh Jalan Welas Asih
Tradisi kebijaksanaan Tionghoa juga mengenal berbagai petuah yang sering disebut sebagai jalan cinta kasih. Nilainya sederhana, tetapi mengandung kedalaman hidup.
Jika seseorang membuatmu susah, anggaplah itu sebagai latihan kesabaran.
Jika seseorang berbuat baik kepadamu, balaslah dengan kebaikan yang lebih besar.
Jika engkau benar namun difitnah, terimalah dengan lapang dada.
Jika engkau salah namun dipuji, jadikan itu pengingat untuk tetap rendah hati.
Ada pula satu nasihat yang sangat indah: jangan menolong orang lain dengan tujuan agar diketahui banyak orang.
Pertolongan yang paling tulus adalah pertolongan yang dilakukan diam-diam.
Mendengar Tangisan Dunia
Nama Avalokitesvara memiliki arti yang sangat mendalam: ia yang mendengar tangisan dunia.
Dalam simbolisme Buddhis, kemampuan “mendengar” ini bukan sekadar mendengar dengan telinga, melainkan memahami penderitaan makhluk dengan hati.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh kepentingan dan ego, kemampuan untuk mendengar dengan empati menjadi sesuatu yang langka.
Barangkali itulah pesan terbesar dari Dewi Kwan Im: bahwa menjadi manusia berarti belajar merasakan penderitaan orang lain.
Kasih sayang tidak lahir dari kekuatan, melainkan dari kelembutan.
Dan mungkin, di zaman yang semakin cepat ini, dunia tidak hanya membutuhkan lebih banyak orang yang pintar. Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang memiliki hati seperti Dewi Kwan Im—yang sabar mendengar, rela menolong, dan tidak lelah mencintai.
Sebab pada akhirnya, seperti yang diyakini banyak tradisi kebijaksanaan Timur, welas asih adalah jalan paling sunyi menuju kemanusiaan.(*)




