MAGELANG — Pameran seni rupa bertajuk “Cityscape–Mindscape: Selected Works of OHD Museum and LK Bing” resmi dibuka pada Sabtu, 14 Maret 2026 di OHD Museum. Pameran ini menghadirkan dialog lintas generasi antara karya mendiang seniman dan arsitek LK Bing dengan sejumlah karya maestro seni rupa Indonesia dari koleksi museum. Pameran tersebut akan berlangsung selama satu bulan penuh.
Pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga sebuah penghormatan terhadap perjalanan kreatif LK Bing yang wafat pada 2025 setelah sempat mengalami koma selama dua tahun akibat kecelakaan.
Pendiri museum sekaligus kolektor seni, Oei Hong Djien, mengatakan bahwa sejak awal berdirinya, OHD Museum kerap memamerkan koleksinya berdampingan dengan karya seniman lain dalam satu tema kuratorial. Namun pameran kali ini memiliki kisah yang berbeda.
“Beberapa waktu sebelum kecelakaan itu, LK Bing sempat datang ke Magelang untuk berkenalan. Kami berbincang panjang, dan saat itu ia hanya menunjukkan beberapa karya abstraknya,” kata Oei Hong Djien dalam pengantar pameran.
Setelah sang seniman wafat, keluarga menemukan ratusan lukisan cat air kecil yang tersimpan rapi dalam album. Ketika karya-karya tersebut diperlihatkan kepadanya, Oei Hong Djien mengaku terkejut oleh kualitas artistiknya.
“Tanpa ragu saya mengusulkan untuk memamerkannya di museum,” ujarnya.
Dialog Dua Generasi Seniman
Pameran ini terwujud melalui kerja sama antara OHD Museum dan keluarga LK Bing dengan kurasi dari Kuss Indarto serta Oei Hong Djien sebagai ko-kurator.
Selain menampilkan lebih dari dua ratus karya LK Bing—sebagian di antaranya dipamerkan dalam pameran ini—kurator juga menghadirkan sepuluh karya pilihan dari sejumlah maestro seni rupa Indonesia. Nama-nama seperti Raden Saleh, Affandi, S. Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Ahmad Sadali turut menjadi bagian dari dialog visual tersebut.
Menurut kurator, penyandingan ini memperlihatkan perbedaan pendekatan artistik antara dua generasi seniman. Para maestro cenderung menampilkan figur manusia sebagai subjek utama, sementara LK Bing menonjolkan panorama kota atau cityscape sebagai kekuatan ekspresinya.
“Melalui penyandingan ini kami ingin membuka perspektif baru sekaligus memperkenalkan karya LK Bing kepada masyarakat yang lebih luas,” kata Oei Hong Djien.
Dari Arsitektur ke Lukisan
LK Bing—yang memiliki nama lengkap Lie Kian Bing—lahir di Kediri pada 10 Juni 1972. Ia dikenal sebagai arsitek dan desainer interior yang kemudian menemukan ekspresi kreatif paling kuat melalui seni lukis.
Dalam praktik awalnya, lukisan menjadi bagian dari proses perancangan ruang arsitektur. Namun seiring waktu, aktivitas melukis berkembang menjadi praktik artistik yang lebih serius.
Pada fase awal, Bing bereksperimen dengan lukisan abstrak menggunakan cat akrilik. Ia kemudian menemukan kebebasan ekspresi melalui medium cat air yang menjadi ciri kuat dalam karya-karyanya.
Menurut kurator Kuss Indarto, karya-karya LK Bing memiliki karakter kuat pada eksplorasi cahaya.
“Kepekaan terhadap pencahayaan menjadi elemen penting dalam karya Bing. Ia mampu menghadirkan kesan dimensional pada lanskap kota yang dilukis,” ujarnya.
Pendekatan tersebut membuat lukisan-lukisan Bing tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga dapat dibaca sebagai dokumentasi artistik terhadap ruang-ruang urban.
Aktif di Komunitas Global
Selain berkarya di studio, LK Bing juga aktif dalam komunitas sketsa urban internasional. Ia merupakan salah satu pendiri sekaligus pemimpin komunitas Urban Sketchers Surabaya.
Ia kerap diundang menjadi pengajar dalam berbagai simposium dan workshop sketsa internasional. Karyanya tampil dalam sejumlah perhelatan global, termasuk Global Sketchers Symposium di Manchester (2016), Chicago (2017), Porto (2018), dan Amsterdam (2019).
Melalui aktivitas tersebut, karya-karya LK Bing semakin dikenal dalam komunitas seni cat air dunia.
Pada periode 2021 hingga 2023, ia juga dipercaya menjadi Brand Ambassador bagi merek cat air internasional Daniel Smith dari Amerika Serikat serta Artland Indonesia.
Dalam berbagai kesempatan, Bing kerap mengungkapkan prinsip hidupnya yang sederhana: seni adalah gairah hidupnya.
“Art is my passion, and art gives colors and meaning to my life,” demikian kalimat yang sering ia sampaikan.
Warisan Kreativitas
Pameran di OHD Museum ini sekaligus menjadi cara untuk menelusuri kembali perjalanan panjang seorang seniman yang berangkat dari dunia arsitektur menuju seni lukis.
Di ruang-ruang galeri museum, lukisan-lukisan cat air Bing memperlihatkan panorama kota yang hidup: jalan-jalan yang basah oleh hujan, bangunan tua yang disinari cahaya senja, hingga sudut-sudut kota yang tampak sunyi namun penuh atmosfer.
Melalui sapuan warna yang ekspresif, Bing menghadirkan lanskap kota bukan sekadar objek visual, melainkan pengalaman emosional.
Kurator menilai pendekatan ini membuat karya-karyanya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat urban.
Mengenang Seorang Seniman
Bagi keluarga dan para sahabatnya, pameran ini memiliki makna yang lebih personal.
Setelah kecelakaan yang membuatnya koma selama dua tahun, LK Bing akhirnya meninggal dunia pada 2025. Namun karya-karyanya tetap hidup dan menemukan ruang apresiasi baru.
Pameran “Cityscape–Mindscape” menjadi kesempatan bagi publik untuk mengenal lebih dekat sosok seniman yang selama ini mungkin belum banyak dikenal secara luas, tetapi memiliki kontribusi penting dalam perkembangan seni lukis cat air di Indonesia.
Di dinding-dinding galeri OHD Museum, sapuan warna LK Bing kini berdampingan dengan karya para maestro seni rupa Indonesia.
Seolah sebuah percakapan lintas waktu sedang berlangsung—antara generasi lama dan generasi baru, antara figur manusia dan lanskap kota, antara sejarah seni rupa Indonesia dan suara artistik seorang seniman yang datang dari jalur yang berbeda. (Christian Saputro)




