Dana BOS SMKN 1 Muara Kuang Diduga Diselewengkan Kepsek

Ogan Ilir – Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Reguler di SMK Negeri 1 Muara Kuang Kecamatan Muara Kuang Kabupaten Ogan Ilir yang tidak transparan, membuat sejumlah guru menduga dana BOS banyak diselewengkan Kepala Sekolah. Surat Pertanggungjawaban (SPJ) BOS diduga banyak fiktif dan di mark up.

Guna mengkonfirmasi dugaan tersebut, wartawan Sumatera Post mendatangi sekolah yang dimaksud. Sempat terjadi ketegangan dengan penjaga sekolah tersebut lantaran menghalangi-halangi tim kami untuk menemui pihak sekolah.

Menurut keterangan salah satu guru honorer di sekolah tersebut, Kepsek Dwiyono baru menjabat di sekolah ini selama 11 bulan, pindahan dari Rantau Alai menggantikan Kepsek terdahulu yang pindah tugas di Tanjung Batu.

Kepsek Dwiyono ini, jarang hadir ke sekolah pak, paling dalam seminggu itu 1 atau 2 kali atau bisa disebut Senin Kamis saja. Tidak ada komunikasi diantara kami para guru, jadi kami tidak tahu beliau hari ini datang atau tidaknya”, ujarnya.

“Untuk honorer yang masuk daftar isi penerima pagi ada sebanyak 20 honor termaksud saya tapi dari bulan 5 kemarin hingga sekarang kami belum menerima gaji. Sedangkan sisanya belum daftar sebagai menerima gaji, untuk alasannya kami tidak tau pak kenapa “, ungkapnya.

Baca Juga :  Bendahara dan Kades Membantah Keras Semua Tuduhan Ketua BPD Kota Daro 1 "Itu Fitnah"

Informasi yang kami dapat, sekolah ini memiliki 33 guru honorer dan 2 PNS dengan jumlah peserta didik kurleb 277 murid. Untuk gaji honorer dihitung berdasarkan jam kerja @Rp 7500,00 per jam yang dibayarkan per triwulan atau saat dana BOS cair. Setiap guru honorer berbeda-beda jam kerjanya, ada yang hanya 4 jam, 8 jam, 18 jam bahkan full 100 jam per bulan.

“Kami sebagai guru di sini siapapun Kepseknya agar dapat memajukan sekolah ini seperti layaknya sekolah lain dan yang terpenting mensejahterakan guru. Menurut saya kesejahteraan guru dapat meningkatkan kemajuan dan kualitas pendidikan,” harapnya salah satu guru honor.

Sedangkan Bendahara l SMK Negeri 1 Muara Kuang, Syaripuddin S.Pd ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui mengenai jumlah maupun penggunaan dana BOS tersebut. Sebagai Bendahara sekolah, dirinya hanya melakukan penandatanganan saat pencairan di bank maupun SPJ BOS.

“Saya tidak tahu pak mengenai jumlah dan penggunaan dana BOS ini. Saya hanya melakukan penandatanganan saat pencairan dan yang memegang uang itu Kepsek Dwiyono dan Bendahara ll Yongki, katanya saat ditemui di sekolah, Jumat (24/9) pagi.

Baca Juga :  " Kapolda Sulsel Buka Taklimat Awal Audit Kinerja Tahap II Itwasda Polda Sulsel "

Lebih lanjut dijelaskannya, sebenarnya dari awal saya tidak ingin jadi Bendahara karena sudah tua, tapi karena di sekolah ini kan yang berstatus PNS hanya 2 orang yaitu saya dan pak Dwiyono (Kepsek). Maka saya tetap dijadikan Bendahara dan sekarang lagi masa transisi, jadi guru honorer Yongki sebagai Bendahara ll. Namun saat pencairan bulan Juli kemarin masih tetap saya yang menandatanganinya.

“Tapi Kepsek Dwiyono ini tak transparan masalah dana BOS. Beliau tak pernah memberi tahu kami mengenai penggunaannya, yang kami tahu pembelian pulsa waktu daring kemarin, dan ketika membeli barang pun tanpa pemberitahuan, tiba-tiba sudah bawa barang pakai mobilnya”, bebernya.

Melalui media ini, Syaripuddin menyampaikan harapannya agar Kepsek Dwiyono bisa lebih terbuka dan transparan dalam pengelolaan dana BOS. Tak hanya itu, Ia pun berharap agar Kepsek lebih memperhatikan dan melengkapi prasarana sekolah.

“Kami ingin keterbukaan dari Kepsek dan transparansi keuangan sekolah. Kami harap agar beliau dapat melengkapi peralatan penunjang belajar mengajar, prasarana sekolah seperti alat olahraga, alat kesenian, serta keperluan ekstrakurikuler lainnya”, tuturnya penuh harap.

Baca Juga :  " Kapolda Sulsel Buka Taklimat Awal Audit Kinerja Tahap II Itwasda Polda Sulsel "

Dari hasil pemantauan, nampaknya protokol kesehatan tidak diterapkan di sekolah ini. Hal tersebut terlihat dari tidak adanya keberadaan alat cuci tangan, ada juga alat cuci tangan tersebut tapi terlihat tidak lagi digunakan maupun handsanitizer serta para guru dan muridnya tidak menggunakan masker.

Didapati pula bangunan anyar, yang menurut para guru merupakan ruang Kepsek dan ruang laboratorium komputer yang sudah di lengkapi dengan mobiler. Bangunan 4 lokal ini dibangun bulan Desember 2020 lalu. Akan tetapi bangunan yang menghabiskan dana 1,3 Miliar tersebut belum dimanfaatkan padahal kini pembelajaran tatap muka terbatas telah berlangsung.

Sementara Kepsek Dwiyono dan Yongki bendahara dua belum bisa dimintai komentarnya lantaran beliau sedang tidak berada di tempat. Saat dikonfirmasi via chat WhatsApp nya beliau tak menggubrisnya.

Hingga berita ini ditayangkan, Dwiyono sulit dihubungi dan belum bisa ditemui untuk dimintai keterangannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here