Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis, pejalan dan pewarna
Pagi di Desa Jatirejo selalu datang bersama aroma tanah basah dan sapaan angin pegunungan. Dari pusat Kota Semarang, perjalanan menuju Gunungpati terasa seperti meninggalkan satu dunia menuju dunia lain—lebih tenang, lebih hijau, dan lebih manusiawi. Di sinilah Desa Wisata Jatirejo tumbuh, bukan sebagai destinasi yang dibangun tergesa-gesa, melainkan sebagai cerita panjang yang dirawat bersama.
“Dulu Jatirejo itu ya desa biasa,” tutur Novi, salah satu pemandu wisata Desa Wisata Jatirejo, sambil tersenyum. “Orang-orang tahunya Gunungpati itu cuma lewat. Padahal kami punya cerita, punya hasil bumi, dan punya kehidupan yang sebenarnya menarik untuk dibagi.”
Sejak lama Jatirejo dikenal sebagai desa agraris. Warganya hidup dari ladang, kebun, dan ternak. Pohon aren tumbuh subur, kolang-kaling diolah turun-temurun. Cabe rawit hampir selalu ada di pekarangan, jahe merah tumbuh di sela kebun, dan sapi perah dipelihara dengan sabar. Semua itu dulu dianggap rutinitas—bukan sesuatu yang istimewa.
Perubahan mulai terasa ketika desa ini sering kedatangan tamu: mahasiswa, komunitas, hingga rombongan sekolah. Mereka tidak hanya ingin melihat hasil, tetapi juga proses. “Dari situ kami sadar,” kata Novi, “yang biasa bagi kami, ternyata istimewa bagi orang lain.”
Kesadaran itulah yang menjadi titik balik. Warga mulai berdiskusi, menata, dan merapikan apa yang sudah ada—tanpa mengubah jati diri desa. Jatirejo memilih tumbuh pelan, melalui gotong royong dan kemauan untuk membuka diri. Dari sanalah lahir kampung-kampung tematik yang kini menjadi denyut Desa Wisata Jatirejo.
Di KOKOLAKA (Kampung Kolang Kaling), wisatawan diajak menyusuri proses pengolahan kolang-kaling dari bahan mentah hingga siap santap. Pengunjung bukan sekadar menonton, tetapi ikut mencicipi—merasakan manis, kenyal, dan cerita yang menyertainya. Kolang-kaling tak lagi sekadar pelengkap minuman, melainkan identitas desa yang dirawat bersama.
Tak jauh dari sana, KAMBERA (Kampung Cabe Rawit) menghadirkan pengalaman yang sederhana namun membekas: memetik cabe langsung dari kebun. Tangan menyentuh daun, mata mencari cabe merah menyala, dan tawa pun meletup. Kambera mengajarkan bahwa kekayaan desa sering tumbuh dari hal-hal kecil yang dirawat dengan cinta.
Bagi keluarga dan anak-anak, Green Fresh Farm (GFF) menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Wisata edukasi pertanian dan peternakan berjalan berdampingan. Anak-anak dapat melihat sapi dari dekat, belajar memerah susu, hingga memahami proses pengolahan produk susu. Belajar pun menjelma menjadi petualangan yang membumi.
Perjalanan berlanjut ke KAJERA (Kampung Jahe Merah). Di sini, wisatawan dapat meracik sendiri minuman jahe merah hangat, mencium aromanya yang menenangkan, lalu membawa pulang produk olahan sebagai oleh-oleh sehat khas Jatirejo. Hangatnya jahe seolah merangkum semangat desa ini: sederhana, menyehatkan, dan tulus.
Sebagai desa wisata, Jatirejo juga siap menyambut pengunjung dengan fasilitas lengkap: bumi perkemahan, homestay, balai pertemuan, hingga kereta kelinci yang menjadi favorit anak-anak. Beragam paket wisata pun tersedia—mulai dari Paket Sinergi, Favorit, hingga Premium—menggabungkan edukasi, kereta wisata, fun trip, outbound, hingga aktivitas kreatif seperti tanam cabe dan melukis pot bunga.
“Desa wisata ini bukan dibangun dalam semalam,” Novi menegaskan. “Ia tumbuh dari kebiasaan, dari gotong royong. Kami tidak berpura-pura jadi desa. Kami hanya mengajak orang datang, melihat, dan ikut merasakan hidup di desa.”
Kini, Jatirejo dikenal sebagai desa wisata yang ramah keluarga, edukatif, dan membumi. Namun bagi warganya, yang terpenting bukanlah gelar. Yang paling berarti adalah ketika pengunjung pulang dengan cerita—tentang kolang-kaling yang manis, jahe yang hangat, tawa di kebun cabe, dan keramahan yang terasa tulus.
Jika liburanmu ke Semarang ingin benar-benar berkesan, sederhana, dan menyegarkan—Desa Wisata Jatirejo menunggumu dengan tangan terbuka.
Reservasi & Informasi
📞 Deni: 0878-4981-0785
📞 Shodiq: 0857-4114-2394
📞 Nurul: 0857-8023-0212
Didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. (“)




