Semarang — Pameran seni rupa bertajuk “Tirta: Ambang Alir” resmi dibuka di Semarang Contemporary Gallery, Sabtu (7/3/2026). Pameran yang menghadirkan karya 22 perupa dari Sanggar Dewata Indonesia (SDI) Yogyakarta ini mengangkat gagasan tentang tirta—air suci dalam tradisi Bali—sebagai refleksi tradisi sekaligus dinamika seni rupa kontemporer.
General Manager Semarang Contemporary Gallery, Denis Levi Dharmawan, menyampaikan apresiasi kepada para seniman SDI yang telah mempercayakan galeri tersebut sebagai ruang penyelenggaraan pameran. Menurutnya, kehadiran pameran ini menjadi kesempatan penting bagi publik seni di Semarang untuk melihat perkembangan gagasan para perupa Bali yang tumbuh dari tradisi namun terus bergerak dalam arus seni kontemporer.
“Kehadiran pameran ini merupakan kehormatan bagi kami. Publik Semarang dapat melihat bagaimana para seniman mengolah tradisi sebagai sumber inspirasi yang hidup dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Demis dalam sambutannya.
Ia menjelaskan bahwa Sanggar Dewata Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perjalanan seni rupa Indonesia. Komunitas ini sejak awal menjadi ruang pertemuan para perupa Bali yang menempuh pendidikan dan berkarya di Yogyakarta.
Dari ruang kebersamaan tersebut lahir berbagai dialog kreatif, eksperimen artistik, serta pencarian bentuk baru dalam praktik seni rupa.
Menurut Denis, tema “Tirta: Ambang Alir” menarik karena mengangkat makna air dalam kebudayaan Bali. Air tidak hanya dipahami sebagai unsur alam, tetapi juga sebagai simbol kehidupan, kesucian, dan keseimbangan kosmos.
“Air menjadi bagian dari ritual sekaligus keseharian masyarakat Bali.
Dalam pameran ini, para seniman tidak sekadar menampilkan simbol air secara visual, tetapi juga mengolahnya sebagai gagasan tentang aliran waktu, perubahan, dan perjalanan dari tradisi menuju kemungkinan baru dalam seni rupa,” katanya.
Ia menambahkan, konsep Ambang Alir menggambarkan sebuah titik peralihan—ruang pertemuan antara tradisi dan eksperimen, antara akar budaya dan perkembangan zaman. Sebagai ruang seni yang berada di kawasan Kota Lama Semarang, galeri tersebut diharapkan dapat menjadi tempat dialog berbagai gagasan artistik dari latar belakang budaya yang berbeda.
Sementara itu, Ketua Sanggar Dewata Indonesia Yogyakarta, I Made Palguna, menjelaskan bahwa pameran ini lahir dari percakapan panjang di antara para anggota komunitas yang mencoba merefleksikan kembali makna tirta dalam tradisi Bali.
“Dalam tradisi kami, tirta tidak hanya air secara fisik, tetapi juga simbol penyucian dan keseimbangan kosmos. Dari pemahaman itu muncul gagasan Ambang Alir sebagai perjalanan kreatif yang terus bergerak dari akar tradisi menuju berbagai kemungkinan baru,” ujarnya.
Ia menambahkan, para perupa SDI yang terlibat dalam pameran ini memiliki latar belakang pengalaman yang beragam. Sebagian besar dari mereka belajar dan berkarya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang dikenal sebagai salah satu pusat penting perkembangan seni rupa di Indonesia.
Karena itu, karya-karya yang dipamerkan tidak menghadirkan satu tafsir tunggal tentang air. Setiap seniman menghadirkan pendekatan artistik yang berbeda: ada yang memaknai air sebagai simbol spiritual, ada yang menyoroti perubahan lanskap dan lingkungan, sementara yang lain mengolahnya sebagai gagasan konseptual dalam praktik seni rupa kontemporer.
“Tradisi bagi kami bukan sesuatu yang harus dipertahankan secara kaku. Ia adalah sumber inspirasi yang hidup dan bisa diolah menjadi bahasa visual baru sesuai dengan pengalaman dan konteks zaman,” kata Palguna.
Kurator pameran, Asmudjo J. Irianto, dalam pengantar kuratorialnya menjelaskan bahwa pameran ini merupakan bentuk kurasi kolektif para anggota SDI. Sebanyak 22 seniman bersama-sama menentukan tema sekaligus arah percakapan artistik yang ingin dibangun.
Dalam pameran tersebut, tirta tidak selalu tampil secara literal. Sebagian karya menghadirkan jejak tradisi yang telah berubah menjadi gaya personal para seniman. Ada yang merekam perubahan lanskap Bali akibat pembangunan dan pariwisata, sementara yang lain memanfaatkan sifat air—mengalir, memantul, dan mengendap—sebagai cara berpikir visual dalam karya.
“Ini adalah situasi pos-tradisi. Akar budaya tetap ada, tetapi arah alirannya tidak lagi tunggal,” tulis Asmudjo.
Melalui pameran “Tirta: Ambang Alir”, publik diajak melihat bagaimana seni rupa kontemporer dapat menjadi ruang dialog antara tradisi, perubahan sosial, dan kesadaran ekologis. Berbagai medium karya yang ditampilkan—mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi—menunjukkan keragaman pendekatan para seniman dalam memaknai air sebagai gagasan artistik.
Pameran ini diharapkan tidak hanya menghadirkan pengalaman visual bagi pengunjung, tetapi juga membuka percakapan lebih luas tentang hubungan antara manusia, budaya, alam, serta masa depan seni rupa Indonesia. (Christian Saputro)




