Yogyakarta – Musik Keras Tak Lagi Sekadar Hiburan, tetapi Medium Penelitian tentang Emosi, Energi, dan Interaksi Audiens
Institut Seni Indonesia Yogyakarta akan menghadirkan sebuah format pertunjukan yang tak lazim: konser hard rock yang dirancang sekaligus sebagai laboratorium penelitian ilmiah. Bertajuk “Research on Rock – Sound, Energy, and Experiment”, konser ini akan digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026 pukul 19.30 WIB di Concert Hall Pascasarjana ISI Yogyakarta, Jalan Suryodiningratan 8, Yogyakarta.
Di tengah pandangan umum bahwa musik rock identik dengan hiburan populer dan energi panggung semata, konser ini justru membawa hard rock masuk ke wilayah akademik. Musik keras era 1970-an diposisikan sebagai objek kajian ilmiah yang dapat ditelaah dari perspektif musikologi, psikologi, sosiologi, hingga kajian budaya.
Konsep konser tersebut dirancang sebagai integrasi antara praktik artistik dan penelitian ilmiah melalui pendekatan practice as research atau praktik sebagai metode riset. Dalam format ini, musik tidak hanya dipentaskan, tetapi juga digunakan sebagai medium eksperimen mengenai persepsi, emosi, frekuensi musikal, hingga pola interaksi audiens.
Penggagas kegiatan, Prof Djohan, menilai pendekatan semacam ini penting bagi pendidikan tinggi seni di Indonesia. Menurutnya, pertunjukan musik dapat menjadi ruang produksi pengetahuan baru yang relevan dengan perkembangan riset seni kontemporer.
“Rock memiliki energi ekspresif dan historisitas yang kuat. Ketika dibawa ke ruang akademik, musik bukan lagi sekadar tontonan, melainkan instrumen untuk memahami pengalaman manusia,” ujarnya dalam keterangan kegiatan.
Konser akan dibuka dengan pengantar konseptual mengenai relasi musik rock dengan emosi, selera musikal, dan instrumentasi. Setelah itu, audiens akan memasuki sesi pertunjukan eksperimental yang melibatkan format ansambel tidak biasa: delapan gitar elektrik, empat instrumen tiup logam, dua vokalis, dan satu drummer.
Salah satu bagian penting acara adalah sesi interaktif, ketika penonton diminta mengisi survei digital melalui QR code dan Google Form untuk merekam respons psikologis maupun pengalaman mendengarkan selama konser berlangsung. Data tersebut nantinya menjadi bagian dari penelitian kuantitatif dan kualitatif yang dikembangkan pascasarjana ISI Yogyakarta.
Pada sesi utama, para musisi akan melakukan reinterpretasi karya-karya band legendaris Deep Purple dengan pendekatan eksperimental berbasis riset. Aransemen tidak hanya mengejar aspek hiburan, tetapi juga menguji respons audiens terhadap dinamika suara, intensitas ritme, dan energi musikal.
Selain menghasilkan dokumentasi audiovisual dan rekaman pertunjukan, kegiatan ini juga ditargetkan melahirkan artikel ilmiah serta model konser berbasis penelitian yang dapat menjadi rujukan pengembangan metodologi seni pertunjukan di Indonesia.
Panitia menargetkan kapasitas gedung sebanyak 175 peserta yang terdiri atas mahasiswa seni dan non-seni, peneliti musik dan budaya, komunitas musik, hingga masyarakat umum pecinta rock.
Sosok di balik gagasan ini, Prof Djohan, dikenal sebagai salah satu akademisi musik terkemuka di Indonesia. Lahir di Palembang pada 17 Desember 1961, ia aktif sebagai dosen Pascasarjana ISI Yogyakarta sekaligus asesor nasional di berbagai lembaga pendidikan tinggi dan penelitian seni.
Bidang kajiannya mencakup terapi musik, etnomusikologi kognitif, neuroestetika, hingga pendidikan seni. Dalam lima tahun terakhir ia menerbitkan sejumlah buku penting seperti Representasi Suka Hardjana: Cermin Intelektual Musik (2021), Kreativitas Musikal (2022), Psikologi Musik edisi keempat (2023), Penelitian Artistik: Teori dan Praktik (2024), dan Terapi Musik Nusantara (2025).
Melalui “Research on Rock”, ISI Yogyakarta mencoba memperluas cara pandang terhadap konser musik: bukan sekadar panggung hiburan, melainkan arena dialog antara seni, sains, dan pengalaman manusia. Di tengah perkembangan industri kreatif dan riset seni global, pendekatan semacam ini dinilai membuka kemungkinan baru bagi masa depan pendidikan musik Indonesia. (Christian Saputro)




