YOGYAKARTA — Wayang sebagai salah satu mahakarya budaya Nusantara terus menghadapi tantangan zaman di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan pola konsumsi budaya masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada akan menggelar Workshop Internasional “Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang” pada Kamis, 9 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.30 WIB di Ruang 709 Gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya UGM itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-80 Fakultas Ilmu Budaya UGM yang mengusung tema “Delapan Dekade Membangun Peradaban”.
Workshop tersebut dirancang sebagai ruang dialog akademik lintas disiplin untuk mengkaji kembali posisi wayang di tengah masyarakat kontemporer. Melalui pendekatan multikultural dan postmodern, peserta diajak melihat kembali warisan budaya itu bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi yang relevan bagi masa depan.
Panitia menjelaskan, kegiatan ini bertujuan mereaktualisasikan peran wayang dalam dunia pascaglobalisasi, sekaligus mendefinisikan ulang posisi budaya wayang dalam kehidupan masyarakat modern dan memetakan berbagai potensi pengembangannya pada masa mendatang.
Sejumlah akademisi dan peneliti internasional dijadwalkan menjadi narasumber. Mereka adalah Matthew Isaac Cohen dari Department of Dramatic Arts, University of Connecticut yang juga dikenal sebagai dalang dan peneliti wayang, Alan Harris Feinstein, mantan Direktur America-Indonesia Exchange Foundation (AMINEF) sekaligus peneliti wayang, serta Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupang, pengajar Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Sekolah Pascasarjana FIB UGM.
Diskusi akan dipandu oleh Zakariya Pamuji Aminullah yang diharapkan mampu menjembatani berbagai perspektif akademik mengenai perkembangan seni wayang di tengah dinamika sosial dan budaya global.
Workshop ini terbuka bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM, mahasiswa lintas fakultas, budayawan, seniman, penulis lakon, dalang, pegiat seni pertunjukan, hingga masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap pelestarian dan pengembangan wayang.
Selain menyajikan diskusi ilmiah, peserta juga akan memperoleh seminar kit, makanan ringan, serta e-sertifikat. Seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan tanpa dipungut biaya, meski jumlah peserta dibatasi sesuai kapasitas ruangan.
Penyelenggara berharap forum internasional ini mampu mempertemukan berbagai perspektif dari dunia akademik dan praktik seni sehingga melahirkan gagasan baru mengenai masa depan wayang. Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, wayang dipandang tidak hanya sebagai simbol tradisi, tetapi juga sebagai media refleksi budaya yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Melalui forum tersebut, Fakultas Ilmu Budaya UGM menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan perguruan tinggi sebagai ruang lahirnya pemikiran kritis, pelestarian kebudayaan, serta pengembangan warisan budaya Indonesia agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang. ( Christian Saputro)




