YOGYAKARTA — Riuh garis, warna, dan imajinasi dari berbagai penjuru Indonesia akan bertemu di Galeri R. J. Katamsi. Ratusan komunitas seni gambar dari Sabang sampai Merauke dijadwalkan ambil bagian dalam Pameran Seni Gambar Nasional bertajuk “Kebangkitan Gambar — Menggambar Kebangkitan” yang berlangsung pada 18–25 Mei 2026.
Pameran yang digagas jaringan komunitas Indonesia Raya Menggambar itu disebut sebagai salah satu perhelatan seni gambar terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya menghadirkan perupa profesional, agenda ini juga melibatkan pegiat budaya visual, pelajar, ruang seni alternatif, hingga komunitas akar rumput yang selama ini tumbuh di berbagai daerah.
Pembukaan pameran akan dilaksanakan pada Senin, 18 Mei 2026 pukul 15.30 WIB dan dijadwalkan dibuka langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon. Pada momentum tersebut, juga akan dilakukan pengesahan Bulan Indonesia Menggambar sebagai bagian dari gerakan kebudayaan nasional.
Gerakan Indonesia Raya Menggambar sendiri mulai diinisiasi sejak 2022. Dalam waktu relatif singkat, gerakan ini berkembang menjadi jejaring lintas wilayah yang menyatukan ratusan komunitas seni gambar di Indonesia. Tahun ini, partisipasi komunitas dibagi ke dalam sembilan zona besar, mulai dari Swarnadwipa Menggambar di Sumatera, Borneo Menggambar di Kalimantan, Celebes Menggambar di Sulawesi, hingga Ngayogya Menggambar di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kurator pameran terdiri atas sejumlah nama yang dikenal dalam dunia seni rupa dan pendidikan seni Indonesia, yakni Syamsul Barry, Hajar Pamadhi, Moh. Rusnoto Susanto, Ilham Khoiri, Dio Pamola Chandra, serta Mayek Prayitno.
Puluhan komunitas dari berbagai daerah dipastikan ambil bagian dalam pameran ini, di antaranya Komunitas Media Art, Bragaweg Art Movement, Taman Tino Sidin, Studio Nasirun, Drawing Bandit, Forum Perupa Sultra, Kembili Art Studio Jayapura, Drawing Koloni, Perempuan Gambar, hingga Komunitas Seni Rupa Ronggolawe.
Penyelenggara menegaskan bahwa pameran ini tidak semata menjadi ruang memamerkan karya, melainkan juga upaya membangun kesadaran kolektif bahwa menggambar merupakan bagian penting dari kebudayaan masyarakat Indonesia.
“Menggambar bukan sekadar aktivitas artistik, tetapi ruang belajar, ruang bertemu, ruang merekam pengalaman sosial, dan ruang merawat imajinasi kebangsaan,” demikian pernyataan panitia.
Di tengah derasnya budaya visual digital dan perubahan pola konsumsi masyarakat, praktik menggambar dinilai tetap memiliki relevansi kuat sebagai medium pendidikan, ekspresi, dan pembentukan identitas budaya. Karena itu, pameran ini diharapkan menjadi titik temu lintas generasi sekaligus memperkuat ekosistem seni rupa berbasis komunitas.
Selama sepekan pelaksanaan, publik dapat mengakses pameran mulai pukul 09.00 hingga 20.00 WIB. Kehadiran ratusan komunitas dari berbagai daerah menjadikan perhelatan ini bukan hanya agenda seni rupa, tetapi juga perayaan kebersamaan dan keberagaman praktik budaya visual Indonesia. (Christian Saputro)




