SEMARANG — Tradisi menulis akademik kembali memperoleh panggung melalui Nusantara Academic Writing Award (NAWA) 2026 yang diselenggarakan Nusantara Institute di Metro Park View Hotel, Semarang, Sabtu (27/6/2026). Ajang ini tidak sekadar memberikan penghargaan kepada penulis dan peneliti, tetapi juga menegaskan pentingnya menjadikan hasil riset sebagai pengetahuan yang dapat dipahami dan dimanfaatkan masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya disinformasi, penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa karya ilmiah tetap merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan, riset, dan pemikiran kritis.
Pendiri sekaligus Direktur Nusantara Institute, Prof. Sumanto Al Qurtuby, mengatakan penghargaan ini lahir dari keprihatinannya terhadap masih lemahnya ekosistem pendampingan penulisan akademik setelah penelitian selesai dilakukan. Menurutnya, banyak peneliti memiliki semangat tinggi saat melakukan riset, namun mengalami kesulitan ketika harus menyusun hasil penelitian menjadi karya ilmiah yang layak dipublikasikan.
“Di tengah derasnya informasi yang sering kali dangkal, karya akademik tetap menjadi sumber pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Melalui NAWA, kami ingin menghormati mereka yang terus memperkaya khazanah keilmuan Indonesia,” ujar Sumanto.
Ia menegaskan, Nusantara Institute berkomitmen menjadikan NAWA sebagai agenda tahunan untuk mendorong lahirnya karya-karya akademik berkualitas sekaligus memperkuat ekosistem literasi nasional yang inklusif, kritis, dan berkelanjutan.
Pelaksanaan NAWA 2026 juga menunjukkan semakin eratnya kolaborasi antara dunia akademik dan sektor industri. Dukungan terhadap penyelenggaraan datang dari PT Bank Central Asia (BCA), Garudafood, dan PT Marimas Putera Kencana melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood, Dian Astriana, mengatakan dukungan Garudafood merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus melestarikan budaya Nusantara. Menurutnya, semangat yang dibangun Nusantara Institute sejalan dengan visi, misi, dan kebijakan perusahaan yang konsisten mendukung pelestarian serta pengembangan nilai-nilai budaya bangsa.
“NAWA tidak hanya memberikan apresiasi kepada para akademisi dan peneliti, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan intelektual serta budaya bangsa. Hal ini sejalan dengan komitmen Garudafood dalam mendukung berbagai inisiatif pelestarian dan pengembangan budaya tradisi Nusantara,” ujar Dian.
Ia berharap kolaborasi antara dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat terus diperkuat sehingga hasil penelitian mampu melahirkan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi pembangunan Indonesia.
Senada dengan itu, CEO PT Marimas Putera Kencana, Harjanto Halim, menekankan bahwa penelitian tidak boleh berhenti sebagai dokumen ilmiah yang hanya beredar di lingkungan akademik. Menurutnya, hasil riset harus dikomunikasikan dengan bahasa yang lebih sederhana sehingga mudah dipahami dan diterapkan oleh masyarakat.
“Hasil penelitian harus bisa dikomunikasikan dengan bahasa yang lebih membumi sehingga tidak hanya dibaca oleh kalangan akademisi, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Ketika sebuah riset mampu diterapkan, di situlah ilmu pengetahuan benar-benar memberi nilai tambah bagi kehidupan,” katanya.
Harjanto menilai sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat menjadi faktor penting agar hasil penelitian dapat dihilirisasikan menjadi solusi atas berbagai persoalan sosial maupun pembangunan.
Rangkaian acara diawali dengan registrasi peserta, pemutaran profil Nusantara Institute, penampilan tari tradisional dari Kertypro Official Entertainment, doa bersama, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan para narasumber sebelum memasuki puncak penganugerahan.
Sebanyak enam akademisi menerima Nusantara Academic Writing Award 2026, yakni Putri Naomi, Novita Sari Sembiring, Yakomina Mangmah, Mamluatur Rahmah, Moh. Rivaldi Abdul, dan Anju Nofarof Hasudungan. Penghargaan diserahkan oleh pendiri dan Direktur Nusantara Institute Profesor Sumanto Al Qurtubi, Dian Astriana,Prof. Dr. M. Mukhsin Jamil,Dr. Aji Sofanudin, Hamdani, PhD and Dr. Nur Fathoni
Prosesi ditutup dengan foto bersama para penerima penghargaan, dewan juri, pimpinan Nusantara Institute, serta para mitra sebagai simbol kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun budaya literasi Indonesia.
Bagi Nusantara Institute, NAWA bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ikhtiar membangun ekosistem intelektual yang mendorong lahirnya riset berkualitas sekaligus memastikan hasil penelitian tidak berhenti di rak perpustakaan atau jurnal ilmiah. Melalui kolaborasi lintas sektor, karya akademik diharapkan mampu menjadi inspirasi, diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami publik, dan diwujudkan menjadi solusi nyata bagi kemajuan bangsa.
(Christian Saputro)




