Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis penyuka jalan-jalan dan pewarna.
Pagi di Srumbung Gunung selalu datang dengan cara yang lembut. Kabut turun perlahan dari lereng Gunung Ungaran, menyelimuti sawah, rumah-rumah warga, dan pendopo desa yang berdiri bersahaja. Udara sejuk membawa aroma tanah basah dan dedaunan—seolah alam sedang mengajak siapa pun yang datang untuk berjalan lebih pelan, mendengar lebih dalam, dan belajar tentang hidup yang rukun.
Di Desa Poncoruso, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sebuah ikhtiar sunyi telah lama dirawat. Namanya Desa Wisata Kreatif Perdamaian Srumbung Gunung—sebuah ruang belajar bersama, tempat pariwisata tidak hanya menjual panorama, tetapi juga menawarkan nilai kemanusiaan.
Rukun yang Dirawat, Bukan Diciptakan
Srumbung Gunung tidak lahir sebagai desa wisata karena keindahan semata.
Keistimewaannya tumbuh dari keseharian warganya yang hidup dalam keberagaman. Islam dengan berbagai latar organisasi, Kristen, Katolik, serta penghayat kepercayaan hidup berdampingan, saling menyapa dalam kerja bakti dan peristiwa hidup.
“Kerukunan di desa ini bukan proyek, tapi kebiasaan,” ujar Eko Widodo, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) DWKP Srumbung Gunung.
“Wisata perdamaian kami bangun dari apa yang sudah hidup di masyarakat. Kami hanya merawat dan membaginya kepada tamu yang datang.”
Dari kebiasaan itulah lahir gagasan menjadikan Srumbung Gunung sebagai Desa Wisata Kreatif Perdamaian—sebuah pilihan sadar bahwa toleransi bukan hanya nilai sosial, melainkan juga modal masa depan desa.
Wisata yang Mengajak Mengalami
Berwisata ke Srumbung Gunung berarti bersedia melepas jarak antara “tamu” dan “warga”. Di camping ground, malam disambut api unggun dan cerita. Di workshop batik dan ecoprint, tangan-tangan belajar sabar, memahami bahwa keindahan lahir dari proses.
Di sawah dan kebun, pengunjung ikut menanam bersama petani. Lumpur menjadi pengingat bahwa hidup membutuhkan ketekunan. Sore hari, gamelan berdentang di pendopo, Jaran Kepang bergerak lincah, dan siapa pun boleh belajar—tanpa takut salah.
“Kami ingin pengunjung pulang membawa pengalaman, bukan hanya foto,” kata Eko Widodo.
“Kalau orang pernah hidup bersama, makan bersama, dan tertawa bersama, prasangka biasanya runtuh dengan sendirinya.”
Desa sebagai Ruang Belajar Perdamaian
DWKP Srumbung Gunung berkembang sebagai destinasi wisata edukasi dan sosial. Program outing class, peace camp, hingga live in dirancang untuk sekolah, komunitas, dan lembaga yang ingin belajar tentang keberagaman secara langsung.
Menurut Haryoko, Lurah Desa Poncoruso, keberadaan DWKP memberi makna baru bagi pembangunan desa.
“Pariwisata di sini bukan sekadar ekonomi, tetapi pendidikan sosial. Anak-anak muda belajar memimpin, ibu-ibu bergerak di kuliner dan homestay, dan desa kami dikenal karena nilai-nilainya.”
Ia menambahkan, DWKP telah membuka ruang partisipasi luas bagi warga—dari karang taruna, PKK, hingga petani dan seniman desa.
“Ini contoh bahwa pembangunan bisa berjalan tanpa meninggalkan jati diri,” ujarnya.
Dari Desa untuk Dunia
Pengakuan nasional pun datang. Srumbung Gunung pernah berpartisipasi dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan masuk 300 besar desa wisata nasional. Namun bagi warga, penghargaan hanyalah penanda jalan, bukan tujuan akhir.
Yang lebih penting adalah desa yang tetap utuh, ekonomi yang bergerak pelan tapi pasti, dan generasi muda yang bangga pada kampung halamannya.
Homestay berdiri sederhana di dekat pendopo. Menginap di sini berarti menjadi bagian dari kehidupan desa—bangun pagi dengan suara ayam, berbincang sore di teras, dan pulang dengan rasa ingin kembali.
Di Srumbung Gunung, perdamaian tidak diajarkan lewat slogan. Ia tumbuh dari sawah, dapur, seni, dan perjumpaan sehari-hari. Sebuah pelajaran bahwa wisata terbaik bukan yang membuat kita terkesima, tetapi yang membuat kita lebih manusia.
(*)




