SEMARANG — Cahaya senja mulai meredup di atas atap-atap seng kawasan Kota Lama Semarang. Di Jalan Taman Srigunting No. 3B, Gedung Oudetrap berdiri tegak, saksi bisu perputaran waktu sejak era kolonial. Namun, pada 12–13 Juni 2026, bangunan bersejarah ini tidak hanya menyimpan debu masa lalu. Ia hidup kembali, menjadi ruang gelap yang hangat, tempat ratusan mata tertuju pada satu layar, menyatukan napas dalam keheningan yang penuh makna.
Inilah suasana Road to Europe on Screen (EoS) 2026 di Semarang. Diselenggarakan oleh Alliance Française Semarang bersama Hysteria, Sineroom, dan Eling Cinema, festival ini hadir bukan sekadar sebagai pemutaran film, melainkan sebagai jembatan budaya yang kokoh antara Eropa—dan dunia—dengan masyarakat lokal. Melalui lima karya sinema pilihan dari Portugal, Italia, Austria, Slovakia, dan Mesir, EoS mengajak penonton menyusuri tema universal: pencarian identitas, ikatan keluarga, romansa, hingga refleksi tentang takdir manusia.
“Film memiliki kekuatan untuk memperkenalkan cara pandang yang berbeda sekaligus mempererat hubungan antarbangsa,” ujar Dra. Kiki Martaty Wijaya, Direktur Alliance Française Semarang. Baginya, EoS adalah ruang dialog budaya yang mempertemukan perspektif, pengalaman, dan nilai-nilai kemanusiaan universal. “Kami ingin menghadirkan ruang apresiasi yang terbuka bagi masyarakat Semarang untuk mengenal keragaman budaya melalui medium sinema,” tambahnya.
Jumat: Meditasi Identitas dan Kehangatan Manusia
Rangkaian pemutaran dibuka pada Jumat sore (12/6) pukul 16.00 WIB dengan film Portugal berjudul O Teu Rosto Será o Último (Wajahmu Akan Menjadi Yang Terakhir). Film puitis ini mengisahkan seorang pemuda yang berusaha memahami dirinya melalui jejak-jejak masa lalu dalam keluarga dan lingkungannya. Musik, ingatan, dan sejarah menjadi benang merah yang membawa penonton pada perjalanan introspektif tentang warisan budaya. Sang protagonis menyadari bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi; ia terus hidup dalam diri setiap generasi.
Menjelang malam, pukul 18.30 WIB, giliran film Italia La Vita Va Così (Hidup Berjalan Demikian Adanya) mengisi layar. Berlatar desa pesisir yang tenang, kisah seorang lelaki tua yang hidupnya berubah akibat kedatangan orang-orang baru disajikan dengan nuansa hangat dan humanis. Film ini mengajak penonton merenungkan arti kehilangan, persahabatan, dan penerimaan terhadap alur kehidupan yang tak selalu bisa diprediksi. Sebuah drama tentang kemampuan manusia menerima perubahan sebagai bagian alami dari hidup.
Sabtu: Persimpangan Cinta, Takdir, dan Rahasia Keluarga
Sabtu (13/6) dimulai dengan film Austria 7 Steps pada pukul 16.00 WIB. Kisahnya berpusat pada dua insan di persimpangan hidup, di mana masa lalu dan harapan masa depan saling bertabrakan. Dalam rentang waktu singkat, mereka harus menghadapi ketakutan, harapan, dan pilihan-pilihan yang akan membentuk masa depan. Ini adalah potret intim tentang cinta, kepercayaan, dan keberanian mengambil langkah kecil yang mampu mengubah arah takdir.
Malam harinya, suasana berubah menjadi lebih intens dengan dua pemutaran paralel atau berurutan yang menawarkan kontras tajam. Film Slovakia Impact menyajikan drama psikologis tentang bagaimana satu peristiwa tak terduga dapat mengubah kehidupan sejumlah orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Dari berbagai sudut pandang, film ini mengungkap jejak mendalam yang ditinggalkan oleh kejadian tunggal, memaksa setiap karakter menghadapi konsekuensi dari pilihan mereka.
Sementara itu, rangkaian ditutup dengan film Mesir The Stories karya sutradara Abu Bakr Shawky. Meski bukan dari Eropa, kehadiran film ini menambah dimensi global pada festival. Menggabungkan realitas dan imajinasi dengan sentuhan humor dan fantasi, film ini mengupas lapisan-lapisan rahasia keluarga, kenangan, dan hubungan antargenerasi. Di dalam sebuah rumah yang tampak biasa, batas antara kenyataan dan mimpi memudar, mengungkapkan kisah-kisah yang membentuk identitas para penghuninya. Sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana manusia memaknai masa lalu untuk memahami masa kini.
Semarang sebagai Ruang Pertukaran Gagasan
Pemilihan Gedung Oudetrap sebagai lokasi acara bukanlah kebetulan. Bangunan ini, dengan arsitektur klasik dan nuansa nostalgia, menjadi simbol perjumpaan antara warisan masa lalu dan kreativitas masa kini. Kawasan Kota Lama, yang selama ini berkembang menjadi hub seni dan komunitas, menemukan momentum baru sebagai tempat pertukaran gagasan lintas batas.
Kehadiran EoS di Semarang menegaskan posisi kota ini sebagai ruang publik yang aktif dan terbuka terhadap kolaborasi budaya internasional. Festival ini diharapkan memperkuat jejaring antara komunitas film, pegiat budaya, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Di tengah arus hiburan digital yang semakin cepat, personal, dan terfragmentasi, EoS menawarkan pengalaman yang langka: duduk bersama di ruang gelap, berbagi emosi dengan orang asing, dan menyadari bahwa pada akhirnya, setiap cerita dari penjuru dunia selalu berbicara tentang hal yang sama: manusia.
Melalui layar lebar di Gedung Oudetrap, Eropa, Timur Tengah, dan Indonesia tidak lagi terpisah oleh samudra. Mereka bertemu dalam diam, dalam tawa, dan dalam renungan, membuktikan bahwa seni tetap menjadi bahasa universal paling efektif untuk menjembatani perbedaan.
Bagi penonton yang ingin merasakan pengalaman ini, pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan yang tersedia di poster resmi masing-masing film. Sebuah undangan terbuka untuk siapa saja yang percaya bahwa cinema adalah jendela menuju jiwa dunia. (Christian Saputro)




