JAKARTA/SEMARANG — Hujan turun deras di halaman Dewan Kesenian Semarang (Dekase) pada Minggu malam, 24 Mei 2026. Air langit itu seolah menjadi bagian dari skenografi alamiah untuk sebuah pertunjukan yang enggan kering: air mata, darah, dan ingatan yang tak kunjung tuntas. Di tengah gemericik hujan, penonton tetap berdatangan, membasahi tubuh mereka bukan hanya oleh cuaca, melainkan oleh dorongan untuk menyaksikan sebuah monumen hidup bernama Meilankolia.
Keesokan harinya, Senin (25/5/2026), panggung berpindah ke Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Bersama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dalam rangka peringatan 28 tahun Tragedi Mei 1998, kolektif seni Meramu: Dapur Pertunjukan kembali menghidupkan karya itu. Jika di Semarang suasana terasa rawa dan basah oleh hujan, di Jakarta pertunjukan berlangsung lebih intim, diheningi kehadiran para korban yang duduk di barisan depan, menyaksikan luka lama mereka dibedah kembali dengan hormat.
Melankolia dan Mei: Sebuah Neologisme Luka
Judul Meilankolia bukan sekadar permainan kata. Ia merupakan neologisme yang diracik dari “Mei” — bulan terjadinya tragedi — dan “melankolia”, kesedihan yang panjang serta frustrasi kronis. Bagi Meramu, kedua kata itu merangkum apa yang dialami perempuan etnis Tionghoa selama kerusuhan, sekaligus apa yang masih tersisa hingga 28 tahun kemudian: duka yang tak pernah benar-benar selesai karena sejarah terus-menerus dihapus dan disangkal.
Nila Dianti menggagas Meilankolia sebagai puncak fragmen wacana yang telah lama mereka ramu. Sebelumnya, Meramu mementaskan Bunga Kecombrang (Desember 2025), Memoar Jus Jeruk, hingga Pesta Kesedihan dengan simbolik mi panjang umur. Seluruh karya itu menjadi anak tangga menuju satu titik kulminasi: menghadapi fakta pemerkosaan massal yang hingga kini masih diselimuti kabut penyangkalan.
Tubuh sebagai Arsip Berita
Proses kreatif Meilankolia tidak lahir dari imajinasi liar, melainkan dari riset pustaka dan lapangan yang ketat sejak awal 2026. Para aktor — Najla, Susan, Avril, Nazih, dan Nafisa — tidak hanya menghafal naskah, tetapi juga menelan fakta-fakta kelam dari buku Puncak Kebiadaban Bangsa: Pemerkosaan Etnik Tionghoa 13-14 Mei 1998 dan laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).
Di atas panggung, tubuh-tubuh mereka bergerak gelisah. Mereka memulai adegan dengan aktivitas keseharian yang dirundung kecemasan, lalu berinteraksi dengan kursi-kursi kosong — simbol ketiadaan keadilan. Sambil menyentuh permukaan dingin kayu, mereka melantunkan penggalan berita tentang pemerkosaan. Bukan sebagai ledakan dramatik, melainkan ucapan datar yang justru lebih menusuk: upaya berempati sambil berdamai dengan memori kolektif yang pahit.
“Kami ingin memutuskan jarak ingatan dari Generasi Alpha,” ujar Nila. Baginya, tragedi ini bukan pilihan wacana yang mudah. Menyentuh isu pemerkosaan dalam kerusuhan politik berarti berjalan di atas tali tipis antara trauma dan kebenaran. Namun, diam bukanlah pilihan.
Rujak Pare: Kepahitan yang Harus Ditelan
Di latar belakang panggung, proyektor menampilkan gambar pare dan kecombrang. Itu bukan sekadar dekorasi. Di Semarang, komunitas etnis Tionghoa memiliki tradisi peringatan Mei ’98 melalui upacara “Rujak Pare” yang digelar oleh perkumpulan Boen Hian Tong di Gedung Rasa Dharma.
Pare menjadi simbol kepahitan tragedi. Kecombrang — bunga yang kerap dikaitkan dengan femininitas — mewakili perempuan. Rujak Pare menjadi metafora yang getir: ingatan tentang pemerkosaan massal memang pahit, sulit ditelan, tetapi harus tetap dikonsumsi agar tidak dilupakan. Dengan memasukkan simbol itu, Meramu menghubungkan lokalitas Semarang dengan narasi nasional di Jakarta.
Kain Putih dan Penghilangan Sejarah
Pertunjukan ditutup dengan simbolisme yang tragis sekaligus politis. Para aktor berdiri berjajar, lalu secara bergantian mengucapkan dua kata: “Ada” dan “Tidak Ada”.
“Ada” korban.
“Tidak Ada” pengakuan negara.
“Ada” bukti.
“Tidak Ada” keadilan.
Kalimat-kalimat pendek itu menggantung di udara, menciptakan ketegangan antara fakta dan penyangkalan. Sesaat kemudian, seorang figur datang perlahan membawa kain putih lebar. Satu demi satu tubuh para aktor ditutup kain tersebut. Cahaya meredup. Tubuh-tubuh itu hilang dari pandangan, tertimbun putih.
Itulah representasi visual dari pemutihan sejarah. Negara menutup mulut korban, menutup fakta, dan membungkus tragedi dengan narasi resmi yang steril. Namun, bagi penonton di TIM maupun Dekase, kain putih itu gagal membungkam suara. Justru di balik kain itulah Meilankolia berteriak paling keras.
Meramu sebagai Penjaga Ingatan
Pertunjukan ini digawangi tim yang bekerja tanpa glamor: Nila Dianti sebagai sutradara, Adhitia, Munif, dan Dera sebagai pengarah produksi, Stefani pada kostum, Dodok untuk properti, Novita dan Anton di bidang fotografi, serta Hakim dan Risqo di lini humas. Mereka bergerak bukan demi sorot lampu, melainkan oleh dorongan moral untuk menjaga ingatan tetap hidup.
“Meilankolia diharapkan menjadi pemantik,” kata Nila. “Agar penonton tahu, dan mau tahu. Agar Generasi Alpha tidak lahir dalam kekosongan sejarah.”
Di tengah zaman yang bergerak cepat dan gemar melupakan, Meramu: Dapur Pertunjukan memilih untuk berjalan lambat. Memilih untuk mengingat. Melalui Meilankolia, mereka mengingatkan bahwa meskipun kain putih dapat menutupi tubuh di atas panggung, ia tak akan pernah mampu menutup kebenaran di dada mereka yang selamat — dan mereka yang menolak lupa. (Christian Saputro)




